⚠️⚠️CERITA MENGANDUNG BAWANG⚠️⚠️
ALUR SUDAH DIREVISI
TRIPTHA SERIES 1 : EVIDEN Memandang Semesta Dari Mata Yang Terluka
Semesta itu indah jika dilihat dari mata orang-orang yang bahagia, tapi bagaimana jika keindahan semesta dilihat dari mata yang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Rasanya aneh bangun dengan kegelisahan di pagi yang mendung. Aku tidak bisa tidur semalaman. Selama lebih dari lima jam aku berusaha memejamkan mata, tapi pikiranku tidak ingin diam. Dan yang kulakukan hanyalah membolak-balikkan badan untuk mencari posisi nyaman. Dan tebak ... tentu saja aku tidak menemukan tempat nyaman itu hingga jam menunjukkan pukul empat pagi, saat itulah aku terlelap.
Meskipun begitu, aku tidak membiarkan mata pandaku membuat Abel takut, terutama hari ini adalah hari istimewa. HARI PERTAMA ABEL SEKOLAH! Kalian harus ingat itu. Setelah sekian lama dia terkurung di bawah atap rumahku.
Aku sudah menunggu hari baik ini sejak lama dan akhirnya, berkat Tuhan yang Maha Segalanya, aku melihat Abel dengan seragam OSIS lagi, dengan senyum indah yang memberi warna baru di wajahnya.
Rambut Abel yang panjang digerai hingga jatuh ke bahu, membingkai wajah manisnya. Rambutnya dipasang jepit rambut berbentuk kupu-kupu, senada dengan warna eyeshadow yang ia pakai.
Aku sangat bersyukur, Abel tidak lupa menjadi dirinya sendiri. Abel selalu tampil sempurna. Bahkan dengan kursi roda itu, dia terlihat seperti seorang ratu di atas singgasananya.
Aku melihat penampilan Abel hanya sekilas karena kami harus buru-buru sarapan. Mama memasakkan makanan bervariasi daripada biasanya. Pancake, makanan favoritku terlihat mencolok dengan warna coklat madunya, juga martabak manis, makanan favorit Abel yang masih mengepul, menyebarkan aroma mentega.
"Makasih ya, Tante," kata Abel kepada Mama. Abel benar-benar dianggap seperti putri di rumah ini oleh Mama yang tidak pernah tau bagaimana rasanya melahirkan seorang anak. Seperti aku, Mama juga tampak antusias dengan hari ini.
Kami tidak banyak bicara saat sarapan hingga seseorang menekan bel di depan pintu sana. Aku menyuruh Mama untuk tetap duduk agar aku saja yang membukakan pintu.
Aku berjalan santai dan membayangkan sosok pengantar koran di balik pintu itu. Namun tidak, dia adalah Aidan. Berdiri dengan setelan seragam yang tidak kuperhatikan lebih teliti karena ekspresi cerah di wajahnya begitu mencuri perhatianku. Hal pertama yang teringat dalam otakku adalah malam di mana dia memperlihatkan kalung itu.
"Hay! Morning! You look stunning!" sapa Aidan, tidak memberiku kesempatan untuk menjawab sapaannya karena dia lebih dulu masuk dan menutup pintu.
"Morning everybody!" sapa Aidan dengan heboh. Mama dan Abel menoleh, bahkan semua benda di ruang makan pun seolah ikut menoleh untuk melihat kedatangan Aidan.
"Iam sorry!" kata Aidan ketika dia melihat Mama kelihatan kaget. "Tante, Aidan semangat banget hari ini, makanya nggak bisa diam."
"Hai, Aidan!" Mama tersenyum ramah. Abel takjub dan dia tidak sempat menjawab apa-apa. Dia sudah menunggu kedatangan Aidan semenjak bangun tidur.