⚠️⚠️CERITA MENGANDUNG BAWANG⚠️⚠️
ALUR SUDAH DIREVISI
TRIPTHA SERIES 1 : EVIDEN Memandang Semesta Dari Mata Yang Terluka
Semesta itu indah jika dilihat dari mata orang-orang yang bahagia, tapi bagaimana jika keindahan semesta dilihat dari mata yang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Rupanya mereka membawaku ke sebuah bandara untuk mengantar Om Darius pergi ke luar negeri.
Aku tidak ingin mendengar banyak tentang percakapan mereka karena sejak tadi aku bersembunyi di balik punggung Mama, tapi aku dengar satu hal, bahwa Om Darius dengan moncong tebalnya mengatakan bahwa dia akan melakukan perjalanan bisnis selama kurang lebih enam bulan, baru setelah itu dia akan melamarku secara resmi.
Kami berdiri di antara lautan manusia, dan aku bersyukur hanya sekedar mengantar Om Darius sampai di lobby depan bandara.
Papa bicara banyak sekali, tapi aku tidak ingin mendengar kalimatnya satu pun.
Orang-orang yang lewat memperhatikan kami sekilas. Aku melihat kebahagiaan di wajah mereka, tapi aku tau dari setiap kebahagiaan itu, mereka pasti menyimpan luka.
Aku teringat ucapan Vicky, semua orang punya masalah. Bedanya, beberapa dari mungkin sudah menemukan jalan keluar.
"Samara!"
Aku terlonjak mendengar panggilan itu. Aku menoleh dan melihat Papa sedang menatap ke arahku.
Laki-laki tua tak berambut itu maju ke hadapanku. Aku menahan diri untuk tidak berteriak.
Jariku mencengkram rok yang kupakai. Aku bahkan menahan napas ketika dia berada satu meter di hadapanku.
"Saya pergi dulu."
Tubuhku diliputi rasa hina dan malu. Namun tak ada satu pun dari Mama ataupun Papa yang memberiku perlindungan. Wajahku memanas, entah sudah berapa lama aku menahan napas.
Aku tau dia pasti sedang memandang seluruh permukaan wajahku. Lalu memandang pakaianku, seperti yang sering dia lakukan ketika sedang bekerja di rumah bersama dengan Papa.
"Saya tidak akan lama. Hanya enam bulan ..."
Aku terlonjak kaget ketika tangannya menyentuh bahuku. Secara refleks aku memberontak dan menatap marah ke arahnya. "Jangan berani-berani ...." telunjukku mengarah tepat ke wajahnya, tapi aku tidak melanjutkan ucapanku karena sikapku terlalu mencuri perhatian.
Mama dan Papa kaget melihat reaksiku, mereka kehilangan kata-kata.
Lalu aku berbalik untuk pergi dari sana dengan dada penuh akan emosi.
Aku menyelinap di antara arus publik yang begitu ramai hingga tiba di toilet.
Napasku tersengal. Aku merasa kotor dan tidak suci. Perasaanku dipenuhi rasa bersalah.
Lalu aku sadar ada dua orang asing menatapku dengan ekspresi bertanya-tanya.
Kedua orang itu pergi dan aku merasa sangat lega berada di ruangan itu sendirian.
Tubuhku masih gemetar membayangkan Om Darius merangkul bahuku.
"Permisi!" seru suara dari luar yang menyita perhatianku. Aku menoleh ke arah pintu kaca dan melihat gerakan gusar dari balik sana.