20. Sun Flower

1.1K 66 6
                                        

Rahangku seolah jatuh hingga lantai ketika melihat EJ dan Papa mengobrol dengan akrab seperti sepasang ayah dan anak

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Rahangku seolah jatuh hingga lantai ketika melihat EJ dan Papa mengobrol dengan akrab seperti sepasang ayah dan anak. Mereka tertawa sangat keras sampai akhirnya melihat kedatanganku.

Aku tak sempat bertanya bagaimana mereka bisa seakrab itu ketika EJ berpamitan kepada Papa untuk membawaku pergi.

Papa cuma melirikku sekilas sampai aku berjalan dengan EJ keluar rumah dan bukannya melarangku.

Angin malam berhembus. Aku menatap rambut bergaya coma hair EJ bergerak tertiup angin. Matanya seperti biasa, menjadi objek yang paling mencolok.


EJ mengenakan kaos putih berlogo band luar negeri. Aku tidak tau dia suka musik, tapi akan sangat menyenangkan jika dia memang suka musik. Kaos putih itu ditutup dengan jaket jeans. Dia tampak seperti seorang model alih-alih cowok kelas sebelas SMA yang tk selama dua tahun dan sok kenal.

"Tegang banget deh, kenapa?" tanya EJ membuatku mengalihkan perhatian.

"Lo ngobrol apa sama Papa sampai Papa ketawa?" tanyaku ketika dia menggenggam jari-jariku. Sebenarnya aku bicara karena tidak ingin memperlihatkan rasa gugupku.

"Menurut lo buat apa?"

Aku mengedikkan bahu. Bagaimana mungkin aku jika dia tidak memberiku clue apa-apa?

EJ terkikik melihat ekspresi bingung di wajahku. Aku mengalihkan pandangan. "Kami membicarakan masalah bisnis. Maksud gue ... tentang bisnis Papa yang akan diwariskan ke gue," katanya ketika kami tiba di dalam mobil. Aku terdiam dan menimbang ucapan EJ. Apakah ada tujuan lain bagi Papa sehingga dia membicarakan bisnis bersama EJ? Meskipun aku tidak bisa memastikan, aku merasa agak lega karena aku punya kesempatan untuk terbebas dari perjodohan dengan Om Darius.


"Masuk, Ra. Kenapa bengong?"

"Sorry sorry. Gue cuma heran, Papa nggak mudah akrab sama orang."

"Papa lo bukan orang asing. Kami memang sering ngobrol. Cuma lo nggak tau aja." Dia menghidupkan mesin dan membawaku keluar dari area rumah.

Di tengah gelapnya jalan dan sinar lampu yang terpancar dari rumah-rumah penduduk, aku merasakan kebebasan dari belenggu atmosfir mengerikan di rumah.

Aku punya semacam rasa aman berada di kendaraan ini dan bersama EJ. Aku memang masih belum mengenalnya seutuhnya, tapi dia bukan cowok yang arogan seperti cowok kebanyakan. Buktinya, dia tidak keberatan menghabiskan waktunya bersama dengan cewek sepertiku. Maksudku ... aku. EJ bisa mengisi waktu luangnya bersama dengan cewek yang lebih cantik daripada aku. Tapi dia memilihku.

EVIDEN (Republish)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang