⚠️⚠️CERITA MENGANDUNG BAWANG⚠️⚠️
ALUR SUDAH DIREVISI
TRIPTHA SERIES 1 : EVIDEN Memandang Semesta Dari Mata Yang Terluka
Semesta itu indah jika dilihat dari mata orang-orang yang bahagia, tapi bagaimana jika keindahan semesta dilihat dari mata yang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tindakan Vicky memutuskan Laras di depan semua orang, jujur membuatku masih syok hingga aku tiba di parkiran sore harinya untuk bersiap pulang.
Para siswa memandangku dengan tatapan yang aneh, terutama mereka yang melihat secara langsung kejadian di kantin tadi.
Sebagian karena mendengar bisikan-bisikan yang langsung tersebar di seluruh penjuru sekolah bahwa Vicky, si anak kepala sekolah, memutuskan pacarnya demi Samara, anak yang selalu dibully.
Aku menunduk agar tidak melihat tatapan mereka satu persatu.
Lalu sudut mataku melihat sosok Laras sedang berjalan ke arah bus sekolah, kendaraan umum milik Triptha yang biasa mengantar pulang atau menjemput siswa Triptha dari sekolah.
Laras menatapku sekilas. Aku pikir dia akan datang kepadaku dan menamparku seperti sikap normalnya sebelum diputuskan Vicky. Namun dia hanya mendengus dan mengalihkan pandangan.
Jujur saja aku agak lega Laras tidak bertindak membullyku sehingga aku punya waktu lebih cepat untuk pulang.
Bukan pulang ke rumah, karena untuk apa aku kembali ke tempat di mana ada dua orang tua yang berusaha menjodohkanku dengan laki-laki yang bahkan usianya sudah lebih dari setengah abad?
Maksudku adalah Om Darius. Tapi aku tidak ingin membicarakan tentangnya.
Aku menaiki sepeda. Mengayuhnya tanpa semangat. Melewati jalanan ramai dan menyelip di antara padatnya kendaraan.
Aku tau tindakan seperti ini cukup berbahaya, tapi aku sudah terbiasa menyenggol stang motor orang, tanpa sengaja menempel knalpot yang luar biasa panas, bahkan mematahkan spion motor orang karena saking lajunya aku mengayuh.
Kebebasan itu akhirnya berakhir ketika aku tiba di depan rumah Abel. Aku memarkirkan sepeda di samping tempat sampah karena sepetak rumput itulah yang paling terlihat aman untuk dijadikan parkiran sepeda. Yang lain berupa semak setinggi betis, terlihat sudah lama tidak diurus.
Masuk ke dalam rumah Abel adalah salah satu bentuk ketidaksopanan yang sudah tertanam sejak dini. Aku tidak punya rasa bersalah sedikitpun ketika mengambil kunci di bawah pot dan membuka pintu seolah rumah itu adalah rumahku sendiri.
Aku disuguhi bagian depan rumah berupa ruangan agak lebar dengan penerangan redup dari sebuah bohlam dan cahaya matahari. Dua sofa kecil yang sering diduduki Om Bara juga Tante Indah ketika mereka masih sehat dulu, berada di tepi ruangan.
Aku melewati sejumlah lorong hingga akhirnya tiba di kamar Abel. Tempat favoritku di rumah ini.
Aku bahkan punya bagianku sendiri, yaitu sebuah dinding yang ditempeli foto-fotoku dengan Abel.