⚠️⚠️CERITA MENGANDUNG BAWANG⚠️⚠️
ALUR SUDAH DIREVISI
TRIPTHA SERIES 1 : EVIDEN Memandang Semesta Dari Mata Yang Terluka
Semesta itu indah jika dilihat dari mata orang-orang yang bahagia, tapi bagaimana jika keindahan semesta dilihat dari mata yang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kursi di depanku kosong. Abel sudah pergi dan aku sendirian. Masih ada sisa senyum di wajahku karena teringat akan Aidan.
Aku menghapus senyum itu ketika teringat adegan-adegan konyol yang sering Aidan lakukan ketika kami masih bersama dulu. Aku harap dia sudah berubah menjadi cowok yang lebih serius.
Aku tau Vicky tidak berangkat sejak kemarin, tapi aku merasa perlu untuk memberitahunya lewat pesan.
Anda Tau nggak? Abel dapat beasiswa di Juilliard. Akhirnya mimpi dia tercapai. Besok dia jadi penari utama di WKT. Kita datang bareng, ya. Oh ya, nanti malam gue sama Abel mau ke rumah sakit jiwa buat jenguk Tante Indah. Nggak bisa belajar bareng. Sorry :(
Aku baru saja ingin memesan kentang goreng sambil menunggu waktu istirahat berakhir.
Aku berjalan ke arah meja pesan kantin, lalu seseorang menghadangku. Dia seorang gadis, seragam osisnya ketat hingga menonjolkan beberapa bagian tubuhnya. Lehernya pendek, terpasang kalung warna-warni dari mutiara. Tubuhnya meskipun pendek, terlihat proporsional.
Dilihat dari make-upnya dengan alis terukir sempurna, dia terlihat seperti siswi yang lebih mementingkan nilai penampilannya daripada nilai pelajaran.
Wajahnya yang jutek itu belum pernah kulihat seumur hidup, lalu aku sadar ada logo IPA di dadanya. Dia bukan anak IPS, pantas saja aku tidak kenal.
"Lo Samara?" tanyanya. Suaranya serak seperti kokokan ayam jantan.
Aku masih tak mengerti kenapa dia menghadang jalanku.
"Lo Samara, kan? Yang lagi dekat sama EJ?" tanyanya lagi. Kupikir dia akan membentak atau apa. Nyatanya, cara bicaranya beretika.
Aku melirik sekitar. Dia sendirian. Dan aku tidak punya petunjuk dari mana dia tau namaku dan bagaimana dia tau kalau aku dekat dengan EJ padahal dia berada di gedung IPA yang jaraknya cukup jauh dari gedung IPS.
"Gue Lovi, salam kenal, ya." Dia menjulurkan tangan. Karena senyumnya yang terlihat tulus, aku menjabat tangan itu untuk berkenalan.
"Kebetulan gue salah satu anggota cheers. Lo temennya Abel, kan?" tanyanya membuatku mengangguk. "Gue tanya Abel tadi, katanya lo di sini."
"Iya, dari tadi gue di sini," sahutku masih dengan perasaan bertanya-tanya.
"Gue nggak punya waktu lama, jadi gue harus cepat-cepat kasih tau lo." Dia membawaku ke pinggir korodior, ada kursi kosong di sana dan kami duduk di kursi itu.
Setelah dua orang siswa lewat sambil membawa setumpuk buku di tangan mereka, barulah aku bertanya, "Maaf, ada keperluan apa, ya?"
Matanya yang terpasang bulu mata palsu seperti ulat bulu berkedip seolah keberatan menahan beban itu. "Gue bukan mau menjelek-jelekkan atau apa, tapi sebaiknya lo jangan mau sama EJ. Oke?"
Alisku bertaut. Kenapa tiba-tiba ada cewek seksi dari gedung seberang datang menemuiku dan menyuruhku menjauhi EJ?
"Dia baru aja putus sama gue dan dia lagi cari pelampiasan."
What? Setidaknya, itulah yang kukatakan lewat tatapan mataku. Aku terbungkam dan menunggunya melanjutkan ucapannya.
"Oke," kata cewek bernama Lovi itu sambil menarik napas dalam. "Gue sama EJ pacaran selama hampir tiga bulan." Itu bukan waktu yang lama, batinku. "Kami putus karena ... dia selingkuh. Gue juga sebenarnya. Kami nggak cocok satu sama lain. Nah, dia iri waktu liat gue balikan sama mantan gue sedangkan dia belum punya gantinya sama sekali. Karena itu, dia lari ke elo," jelas Lovi dan napasku seketika berat. "Sama Laras."
"LARAS?!" seruku dengan mata membelalak. Sejauh apapun aku berusaha untuk tetap tenang, aku tidak bisa melakukannya.
"Gue belum bisa pastiin berita itu benar atau enggak, tapi intinya EJ itu buaya, dia brengsek, anjing, redflag, cassanova. Pokoknya hati-hati aja sama dia."
Aku teringat malam di mana kami sempat ingin berciuman, lalu kami pergi ke pameran dan melihat ada Laras di sana.
"Bukan cuma itu," lanjut Lovi seolah kedatangannya di bumi ini hanya untuk menjelek-jelekkan EJ. "Dia bilang ke elo gimana?"
"Ha?" tanyaku yang masih mencerna semua ucapannya.
"Dia pasti bilang ke elo kalau lo itu orang yang paling cantik di dunia? Dia bilang kalau dia suka sama lo?" Lovi meringis miris. "Dia bilang kayak gitu ke setiap cewek yang dia temui. Jadi, lo jangan merasa istimewa."
Aku teringat tatapan mata EJ yang sehijau zamrud dan tidak pernah sekalipun mengira tatapan itu punya arti tersembunyi di baliknya.
"Shakira ... atau siapapun nama lo, sebelum lo jatuh cinta sama dia, gue sebagai salah satu korbannya mau ngingetin lo untuk jauhin dia sekarang juga. Sebelum lo disakitin sama dia. Waktu gue habis, byebye!" Lovi memberiku senyuman mengerikan di antara bibirnya yang merah, lalu dia pergi ke arah gedung IPA.
Aku masih terdiam. Pikiranku teringat akan EJ dan segala bentuk pujian yang dia berikan, segala bentuk janji dan ungkapan.
Jangan lupa, LARAS? Mantannya Vicky? Apakah itu sebabnya Vicky benci EJ? Karena Vicky tidak suka Laras berhubungan dengan EJ?
Hingga istirahat berakhir, aku tidak bisa mengerjakan tiga soal geografi dengan lancar. Otakku penuh EJ dan perkataan Lovi.
Aku ingin dengar dari EJ secara langsung apakah cewek bernama Lovi itu bohong atau memang benar EJ hanya mendekatiku karena dia sedang kesepian.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.