⚠️⚠️CERITA MENGANDUNG BAWANG⚠️⚠️
ALUR SUDAH DIREVISI
TRIPTHA SERIES 1 : EVIDEN Memandang Semesta Dari Mata Yang Terluka
Semesta itu indah jika dilihat dari mata orang-orang yang bahagia, tapi bagaimana jika keindahan semesta dilihat dari mata yang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tubuhku lemas tak berdaya. Tanganku menggenggam ponsel yang baru saja kugunakan untuk menelepon Mama dan juga kerabat Abel. Di sisi kiriku, Vicky duduk dengan raut datar.
Kami berada di bangku tunggu hanya berdua. Di depan kami, sebuah pintu bertuliskan 'RUANG OPERASI' dengan lampu berwarna merah menyala tanda operasi sedang berlangsung dan tidak siapapun diperbolehkan masuk kecuali dokter.
Abel berada di dalam sana, berjuang antara hidup dan mati. Darah yang mengucur dari kepala, punggung, dan kaki Abel masih terngiang di otakku, membuat mulutku terbungkam, bahkan hanya bertanya bagaimana bisa Abel jatuh kepada siapapun yang bisa menjawab saja rasanya sangat sulit.
Saat itu aku turun dari rooftop nyaris tersandung kakiku sendiri setelah mendengar kabar dari Farel. Ketika aku tiba di bawah dan menyibak kerumunan dengan mata berkaca-kaca, aku melihat Abel dalam keadaan yang tidak bisa kudeskripsikan kecuali betapa banyak darah yang mengalir dari tubuhnya. Bahkan petugas yang membawa tandu meringis di balik masker medisnya seolah tidak pernah melihat gadis SMA yang penuh semangat berada dalam keadaan mengenaskan seperti itu.
Otakku benar-benar kosong. Tangisanku meledak begitu saja hingga kami tiba di rumah sakit: aku, Abel, Vicky, dan salah satu guru dari sekolah.
"Samara!"
Aku terlonjak begitu mendengar panggilan dari samping.
"Mama lo," kata Vicky sambil mengedikkan dagu ke arah belokan di kejauhan. Ada banyak orang berlalu lalang di koridor sehingga aku agak kesulitan menemukan keberadaan Mama dengan mata sembabku.
Aku bangkit dari kursiku. Tidak bisa menahan emosi yang sudah mencapai dada dan siap meledak. Ketika Mama tiba dengan wajah cemas, aku langsung memeluknya dan menangis di dadanya.
"Iya, sayang. Mama di sini," kata Mama dengan napas terengah dan nada panik. Rambutku dielus dengan tangan gemetarnya.
Aku masih terisak, menumpahkan raungan yang kupendam sejak tadi.
"Dokter bilang, akan beruntung kalau Abel masih bisa diselamatkan. Apa-apaan, Ma ... Abel harus selamat ..."
"Iya, sayang." Mama menyembunyikanku di pelukannya agar suara tangisanku teredam.
"Kita tunggu dokter keluar. Kita duduk dulu di sini." Mama menuntunku untuk duduk di kursi tunggu. Lalu aku sadar Vicky sudah tidak berada di sana. Dia menghilang entah kemana.
Kami menunggu cukup lama. Entah apa yang sedang dilakukan dokter hingga membutuhkan begitu banyak waktu untuk mengoperasi Abel. Aku sempat berprasangka buruk, dokter sengaja berlama-lama berada di dalam sana agar operasinya gagal, itu sebabnya dia berani bilang Abel tidak bisa diselamatkan. Omong kosong!
Aku melirik chat terakhirku dengan Abel. Aku sempat menyuruhnya pergi ke rumah sakit untuk menjenguk tante Indah sendirian padahal aku sudah berjanji untuk menemaninya. Teman macam apa aku ini.