⚠️⚠️CERITA MENGANDUNG BAWANG⚠️⚠️
ALUR SUDAH DIREVISI
TRIPTHA SERIES 1 : EVIDEN Memandang Semesta Dari Mata Yang Terluka
Semesta itu indah jika dilihat dari mata orang-orang yang bahagia, tapi bagaimana jika keindahan semesta dilihat dari mata yang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aku merasa ada yang tidak beres dengan dunia semenjak hari dimana Papa ikut campur dengan masa depanku (perjodohan itu yang kumaksud). Aku merasa seolah dunia yang penuh warna berubah semakin suram.
Apakah air mata membuat bola mata kita kehilangan kontras warna? Lalu kenapa setiap kita menangis dunia semakin kehilangan warnanya? Semuanya hampir abu-abu ketika Vicky mengecewakanku.
Aku pernah khawatir ketika pertama kali berinteraksi dengan Vicky dulu, aku takut dia mendekatiku hanya untuk menyeretku ke hadapan Laras dan dibully habis-habisan oleh mereka. Itu tidak terjadi hingga saat ini. Tapi justru dikecewakan seperti ini lebih buruk daripada dibully.
Aku pernah menangis di bahunya, di hadapannya, lalu dia mendorongku seolah aku sampah.
Aku sudah muak dengan sikapnya yang keras seperti batu dan inilah puncaknya.
Ketika tiba di rumah, air mataku sudah kering. Tapi percayalah, di dalam sana, hatiku masih berderai air mata. Itu sebabnya Mama menegurku ketika melihatku naik tangga dalam keadaan pandangan kosong.
"Samara, dari tadi Mama panggil kamu, kamu nggak dengar?" tanya Mama ketika aku menoleh dan melihatnya sedang mengemasi meja tamu yang dipenuhi cangkir bekas minum seseorang. Itu artinya, ada beberapa orang yang baru saja bertamu di rumah ini.
"Maaf, Ma. Tadi lesnya mulai telat, makanya pulangnya telat," jelasku, lalu melanjutkan langkah.
"Mama nggak nanya kenapa kamu pulang telat." Mama menerawang ekspresiku. Aku mengalihkan pandangan. Aku hanya ingin sampai di kamar, mengobati goresan luka di lenganku, lalu tidur (meskipun aku yakin aku tidak akan bisa tidur).
"Samara! Dengerin mama dulu."
"Apa?" tanyaku dengan nada sama-sama kesal.
"Kamu nggak papa?" Mama meletakkan barang-barang di tangannya untuk berdiri di ujung tangga dan memusatkan perhatiannya padaku.
Aku menunduk untuk menyembunyikan rasa sedih itu. Mama akan langsung tau aku baru saja menangis ketika melihat hidungku memerah.
"Anak kepala sekolah itu apa-apain kamu?" tanya Mama, tepat sasaran. Tapi aku tidak ingin mengadukan hal itu sekarang.
"Mama baru aja mau suruh kamu ketemu sama tamu, tapi kalau kamu butuh waktu sendiri, ketemunya besok-besok aja, kamu istirahat saja dulu," kata Mama sambil menghela napas berat. Aku bersyukur mama tidak membahas tentang Vicky. Aku benci Vicky, tapi aku tidak mau membuat orang lain benci padanya.
"Tamu? Tamu siapa?" tanyaku ketika ingat aku sedang menantikan kehadiran seseorang.
"Lihat aja sendiri," jawab mama. Senyum tipis di bibirnya membuatku curiga.
"Loh, tamunya masih di sini?" aku mencari seseorang di seluruh penjuru ruangan. Dia menyesal tidak menoleh ke arah garasi untuk melihat kendaraan milik si tamu.