11. Periwinkle

1K 78 9
                                        

Enjoy the story enjoy the music 🤗

Enjoy the story enjoy the music 🤗

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

KEJADIAN SEMALAM

Aku kembali dari sekolah dengan perasaan kecewa karena tidak menemukan Vicky hingga jam sekolah berakhir.

Aku berniat untuk menunggu Abel yang sedang latihan di gymansium, tapi dia lebih sering mengobrol dengan teman-teman dance-nya sehingga aku memilih untuk pulang lebih dulu.

Di atas jalanan beraspal, aku teringat akan rumah. Rasanya sudah lama sekali aku meninggalkan rumahku sendiri.

Akhirnya aku memutuskan untuk pulang ke rumah. Berharap bisa menemukan titik terang di sana. Siapa tau Papa dan Mama sudah berubah pikiran. Mereka tidak akan menjodohkanku dengan Om Darius setelah aku menghilang sehari.

Setibanya di rumah, aku melihat mobil Papa terparkir. Akhir-akhir ini, Papa lebih sering berada di rumah padahal biasanya dia akan pulang larut malam dari kantor. Sekilas aku mengabaikan itu.

Aku membuka pintu rumah tanpa menimbulkan suara. Lalu melangkahkan kaki sepelan mungkin.

Ini sudah jam empat sore, pastinya Mama sedang menyiapkan makan malam di dapur. Untuk bisa masuk ke kamarku di lantai dua, aku harus melewati ruang makan dan di sanalah aku melihat kedua orang itu sedang duduk berhadapan di kursi makan, saling mengobrol dengan ekspresi serius yang membuatku semakin tidak yakin bahwa keadaan sudah membaik. Justru sebaliknya, keadaan semakin parah.

"Samara!" sapa Mama dengan nada datar ketika melihatku.

Seharusnya Mama berteriak bahagia melihatku pulang setelah hilang seharian. Seharusnya Mama memelukku dan menciumku karena takut aku diculik.

"Suruh dia ganti baju, saya tunggu di mobil," kata Papa, bahkan tanpa menatap ke arahku.

Mama bangkit dari kursinya. Dia memelukku, tetapi kehangatan yang dia ciptakan berbeda kali ini. "Ayo, sayang. Kamu ganti baju."

Aku sadar, memutuskan untuk pulang adalah suatu kesalahan besar yang seharusnya tidak kulakukan.

Seharusnya aku pulang ke rumah Abel dan menetap di sana untuk selamanya. Kali ini aku yakin mereka ingin membawaku pergi ke suatu tempat untuk bertemu dengan Om Darius lagi.

Begitu Papa sudah tak terlihat. Mama berbisik ke arahku, "Mama mau bicarakan hal penting," katanya dengan nada keibuan yang begitu kurindukan. Cengkramannya di bahuku berubah menjadi gandengan tangan.

Begitu tiba di kamar, dia menyuruhku duduk di atas tempat tidur. Dia duduk di sampingku. Matanya terlihat berair, tapi Mama memang sering menggunakan obat tetes mata sehingga aku tidak yakin dia baru saja menangis.

"Mama tau kamu pasti akan menolak perjodohan ini," ucap Mama tiba-tiba.

Aku sudah menduganya, pasti itulah yang akan Mama bicarakan.

"Mama juga tidak setuju, Ra. Mama nggak setuju kamu dijodohkan dengan laki-laki itu."

"Terus, kenapa Mama diam aja?" tuntutku. "Kenapa Mama nggak kasih tau Papa kalau Mama nggak setuju?"

Mama menunduk lagi. Kali ini dia benar-benar menangis. Aku merasa bersalah karena membentaknya.

Sebelum mendongak dan menatapku lagi, dia menghapus air mata di pipinya. "Nggak ada pilihan, Ra. Kamu harus setuju."

Bibirku terkatup rapat. Darahku seolah membeku mendengar pernyataan Mama barusan.

Mama baru saja bilang, tidak ada pilihan. Itu artinya, aku tidak bisa menolak perjodohan itu.

Aku tidak bisa menerimanya, meskipun aku sangat ingin membalas jasa-jasa mereka yang sudah merawatku sejak aku kecil, tapi tidak dengan dijodohkan dengan laki-laki tua yang tidak beradab itu.

"Ra, Papa dalam masalah besar."

Air mataku menetes ketika aku menoleh ke arah Mama. Namun aku menahan diri untuk tidak terisak.

"Papa tidak akan melakukan ini kalau beliau tidak terpaksa. Perusahaan Papa sedang dalam masalah dan kami harus mencari cara untuk bisa menyelamatkan perusahaan kami dari kebangkrutan. Om Darius sendiri yang meminta kamu, kalau dia bisa dapatkan kamu, dia bisa selamatkan perusahaan Papa."

Hujan di pipiku semakin deras. Kehangatan tetesan itu mengalir hingga jatuh di tangan, baju, serta lututku. Mendadak dunia ini terlihat begitu suram setelah aku tau bahwa aku terjebak di dalam perjodohan mengerikan ini.

Jika bukan Tuhan, tidak akan ada yang bisa menyelamatkanku dan aku berharap Tuhan mengirimkan malaikat untuk membantuku keluar dari situasi ini.

"Jadi, aku akan dijual untuk Om Darius? Intinya seperti itu kan, Ma?" aku menyeka air mata di pipi.

Di tengah jalanan yang sepi, di bawah langit mendung yang gelap, aku tau selalu ada cahaya yang akan bersinar di sana.

"Mama tau ini bukan yang kamu mau, sayang. Mama tau." Dia mendekap tubuhku di pelukannya. Dan aku merasakan tetesan air mata di punggungku.

Melihat Mama menangis adalah hal yang paling menyedihkan di dunia, tapi kali ini tidak lagi.

"Kamu tau, setiap malam Papa bangun tengah malam. Papa mengira Mama udah tidur, padahal diam-diam Mama dengerin tangisan Papa kamu yang sangat menyesal karena mengambil tindakan ini. Papa pun nggak punya pilihan, sayang. Jadi, Mama mohon ..."

Mama mendorongku dari pelukannya dan memaksaku menatap matanya yang berair. Garis senyum di samping bibirnya teraliri air mata. Hidungnya memerah sepeti baru saja dipukul. Mamaku yang cantik berubah seperti orang paling menderita di dunia.

Bukan cuma aku saja yang menderita di sini, melainkan Mama dan Papa juga.

"Mama mohon untuk tepatin apa kata Mama. Setelah kamu tepatin apa yang Papa mau dan perusahaan kita kembali seperti semula, Mama janji akan bawa kamu kabur. Mama akan melakukan apapun untuk bisa bebaskan kamu dari orang itu. MAMA JANJI!" dia menggoyangkan bahuku sangat erat. "Tapi kali ini ... Mama mohon."

Aku tidak pernah tau rasanya menjadi anak pertama yang kata orang selalu membawa beban keluarga di pundaknya.

Mereka para anak pertama menganggap anak tunggal adalah orang yang paling beruntung dan kini aku ingin memberontak karena perkataan itu bukanlah fakta.

Aku anak tunggal dan aku sengsara.

Aku anak tunggal dan aku sengsara

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

'Ada cela di setiap bentuk keindahan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

'Ada cela di setiap bentuk keindahan.'

EVIDEN (Republish)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang