⚠️⚠️CERITA MENGANDUNG BAWANG⚠️⚠️
ALUR SUDAH DIREVISI
TRIPTHA SERIES 1 : EVIDEN Memandang Semesta Dari Mata Yang Terluka
Semesta itu indah jika dilihat dari mata orang-orang yang bahagia, tapi bagaimana jika keindahan semesta dilihat dari mata yang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ada begitu banyak momen. Ada begitu banyak kenangan yang membuatku tertawa dan menangis di waktu yang sama. Sudah hampir satu bulan semenjak Aidan datang di kehidupan kami dan aku merasa perlahan-lahan taman bunga itu mekar lagi.
Abel lebih banyak tertawa. Dia sudah tidak sabar pergi ke Texas. Bukan cuma karena dia akan melakukan operasi untuk mendapatkan kemampuannya berjalan lagi, melainkan karena Aidan menjanjikan sebuah momen rahasia yang hanya akan terjadi di Texas, momen hanya untuk mereka berdua. Abel berpekulasi, momen itu adalah momen romantis. Aidan adalah orang yang romantis, aku tau.
Sayangnya, mereka harus menunggu sampai ujian berakhir. Kabar baiknya, ujian berakhir hari ini. Abel sudah menyiapkan segala macam persiapan untuk pergi ke Texas, termasuk hati kecilnya.
Aku beberapa kali mengancam Aidan untuk tidak menyakiti Abel atau membuat Abel tak nyaman.
"Tenang aja, Ra. Selama ini Aidan selalu buat gue nyaman," kata Abel membuatku memutar bola mata jengah. Mereka sedang berada di fase bucin.
"Okey, besok ke bandara ya buat anter kita!" Abel menatapku. Tangannya menggandeng lengan Aidan. Mereka terlihat sangat serasi, meskipun Abel masih berada di kursi roda itu.
"Absolutely!" cetusku, lalu naik ke sepeda untuk pulang. Aku sudah dengar rencana mereka dari Aidan. Pasangan itu akan pergi ke rumah Abel setelah kembali dari sekolah untuk memastikan persiapan sudah hampir sempurna.
Aku kembali ke rumah dengan perasaan bahagia. Mungkin karena ujian akhirnya telah berakhir dan tekanan belajarku sudah berkurang. Tidak salah lagi, aku akan memasak, lalu makan kue, lalu jalan-jalan ke toko bunga Mama (dan berharap tidak bertemu dengan EJ), lalu tidur awal. Bagaimana pun juga, aku butuh self reward setelah sekian lama berkutat dengan mata pelajaran.
Oh ya, Papa sudah pulang sejak seminggu yang lalu. Beliau tidak banyak bicara, tapi aku tau perjanjian kami tentang perjodohan itu tetap tidak berubah.
"Darius sudah bilang, minggu depan dia pulang ke Indonesia," kata Papa ketika kami makan malam.
Aku duduk di kursi paling jauh dengan Papa. Perasaanku langsung tak enak.
"Papa dengar kamu sudah tidak ada hubungan sama Edgar lagi," sambung Papa. Aku tau, dia akan membahas hal ini. Papa pasti sempat mengira aku dan EJ akan lebih serius dalam menjalin hubungan. Lalu aku ingat Vicky, dia bilang aku tidak seharusnya bersama dengan EJ.
"Papa asumsikan kamu sudah menyerah. Itu artinya kamu tetap bersama dengan Darius."
Napasku tercekat. Sendok di tanganku berkelontangan di piring, aku tak sengaja melepaskan dari tangan. Aku tau suara itu mengagetkan, tapi perkataan papa jauh lebih mengagetkanku.