43. Viola

710 63 5
                                        

Aku sedang mencuci piring ketika Abel tiba di pintu dapur dengan kursi rodanya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Aku sedang mencuci piring ketika Abel tiba di pintu dapur dengan kursi rodanya. Diam-diam dia sudah mahir menyetir kursi roda sendiri sampai memastikan setiap gerakan roda tidak menimbulkan suara. Jujur saja aku cukup kaget.

"Maaf," kata Abel setelah menertawakan wajah kagetku.

"Hampir aja jatuhin nih piring. Mama bakalan ngamuk nanti." Aku menarik napas lega. Meletakkan piring di rak lalu mendekat ke arah Abel.

Abel tersenyum puas seolah sedang menunjukkan sesuatu. Tapi di tangannya tidak ada apa-apa. Dia juga tidak memakai baju baru. Oh! Sebuah kalung yang belum pernah kulihat. Bandulnya berwarna kuning, mirip seperti bunga matahari. Aku langsung teringat Aidan.

"Okey, kayaknya ada yang mau curhat habis-habisan nih sama gue," seruku disambut tawa antusias Abel.

Aku mendorong kursi roda Abel ke taman, tempat favorit kami jika sedang suntuk. Justru sore-sore seperti inilah saat yang tepat untuk menyatu dengan alam. Matahari tidak begitu panas dan udara mengalir sejuk. Abel benar-benar sudah tidak tahan sehingga dia mengucapkan spoiler bahkan sebelum kami menginjakkan kaki di atas rumput, "Dari Aidan, Ra."

Aku sudah menduganya. Namun aku sedikit heran, kalung itu tidak seperti kalung yang Aidan tunjukkan malam itu. Kenapa Aidan memberikan kalung yang lain? Karena dia menganggap Abel belum siap? Kalau begitu dia bodoh! Seharusnya tadi aku ikut dengannya, mengantarkannya langsung ke hadapan Abel supaya dia berani memberikan kalung itu. Dasar Aidan!

Anyway, kami tiba di bawah sebuah pohon besar dan teduh. Wajah Abel sudah memerah saking antusiasnya. "Sumpah, Ra. Nggak espek! Jadi, tadi kan lagi main-main kan sama temen-temen cheers. Tiba-tiba dia datang, Ra. IIhhh!" Abel memekik gemas. "Lo nggak bilang kalau Aidan bisa romantis juga."

"Cieee!" ejekku sambil menoel-noel bahunya. "Baper, ya."

"Masa enggak si." Dia menutup wajahnya dengan telapak tangan.

"Udah jelas tuh, Aidan naksir sama lo, Bel." Aku tertawa. Tawa yang aneh.

"Kalau iya, gue nunggu sampai dia bilang sendiri ke gue."

Aku menatap heran. "Loh, emang dia nggak bilang apa-apa?"

Abel meringis. Inilah yang ingin dia bicarakan padaku. "Nggak tau, Ra. Dia itu nggak bisa diem, ngomong mulu, tapi omongannya itu nggak sesuai sama keinginan gue."

"Contohnya?"

"Ya, kayak dia muji-muji gue cantik, gue suka itu, sih; terus dia juga cerita-cerita tentang mantan dia ...."

EVIDEN (Republish)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang