'Seperti bahagia, duka tidak akan jatuh ke tangan yang salah.'
Dua senti sebelum bibir kami bersentuhan, aku berseru dengan suara tergagap, "EJ ... gue ... gue ada ... eh, ada acara di aula sekolah malam ini, pameran seni lo tau nggak?"
Dia menarik wajahnya lagi. Tampak salah tingkah. "Oh ya?" sahutnya dengan nada setengah kecewa setengah antusias. Dia menarik tangannya dari tengkukku.
"Maaf, gue ... gue belum pernah ciuman sebelumnya." Aku tidak tau apakah ini saat yang tepat untuk membicarakan itu.
Kurasa EJ berhak tau kalau aku sama sekali tidak siap dan aku sama sekali tidak menyangka dia akan melakukan itu padaku.
"Gue tau, Ra," sahut EJ. Tampak menyesal. "Maaf."
"Its okey." Aku tersenyum, berusaha berdamai dengan rasa bersalah.
"Gimana kalau kita keluar dan lihat pameran seni?" tanyaku dengan nada antusias untuk mengusir atmosfir canggung yang masih belum menghilang.
EJ menarik napas. Dia melirik arloji di tangannya dengan dahi berkerut. "Kenapa kita nggak di sini aja? Kita bisa baca buku, foto, atau kegiatan apapun yang lo suka kecuali kissing."
Aku hening selama beberapa saat karena tak menyangka EJ masih membahas tentang ciuman.
Entah kenapa aku lebih suka melakukan kegiatan di luar alih-alih terkurung di kamar bersama seorang laki-laki hanya berdua, apalagi laki-laki itu baru saja ingin menciumku.
Bukannya aku tidak percaya pada EJ. Setelah melihatnya live streaming dan tebar pesona, lalu dia memang keturunan Amerika yang mungkin masih memiliki naluri seperti orang Amerika bahwa ciuman adalah sesuatu yang wajar, aku rasa tidak terlalu aman bersama dengannya hanya berdua di tempat sepi seperti ini.
"Oke deh," katanya ketika aku tidak menjawab selama hampir satu menit. "Gue ganti baju bentar."
Dia bangkit dari kursi dengan langkah tak bersemangat. Meraih pakaian paling dekat di lemari.
Dia melepaskan kaosnya seolah ingin menyombongkan perut sixpacknya, lalu dia mengenakan kemeja lengan pendek yang dibalut dengan jaket berwarna putih.
Untuk ukuran seorang laki-laki, dia bersiap cukup lama. Harus mengenakan parfum dan memastikan dari jarak sepuluh meter parfumnya akan tercium.
Dia mengenakan jam tangan yang berbeda, lalu berdiri di depan cermin untuk memastikan penampilannya benar-benar modis.
Tak lama kemudian, kami benar-benar keluar.
Aku tidak melihat Maddy lagi di ruang makan, sepertinya akhirnya dia selesai makan.
EJ hanya sekedar berteriak tepat di depan pintu depan kamar Mama dan Papanya kalau dia ingin pergi, lalu kami melanjutkan langkah sebelum ada jawaban apa-apa dari dalam ruangan orang tua EJ.
🍁
Pameran bukan dilaksakan di aula sekolah, melainkan di gedung WKT, sebuah gedung di samping asrama laki-laki.
WKT adalah singkatan dari Wisma Kreativitas Triptha, pusat kebudayaan Triptha yang begutu populer karena gaya bangunannya yang unik. Selain itu, event-event sering diselenggarakan di sana.
KAMU SEDANG MEMBACA
EVIDEN (Republish)
Fiksi Remaja⚠️⚠️CERITA MENGANDUNG BAWANG⚠️⚠️ ALUR SUDAH DIREVISI TRIPTHA SERIES 1 : EVIDEN Memandang Semesta Dari Mata Yang Terluka Semesta itu indah jika dilihat dari mata orang-orang yang bahagia, tapi bagaimana jika keindahan semesta dilihat dari mata yang...
