30. Edelweise

608 69 4
                                        

Enjoy the story enjoy the song

Berat sekali kakiku melangkah menuju ke koridor sekolah

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Berat sekali kakiku melangkah menuju ke koridor sekolah. Keheningan canggung yang Mama ciptakan ketika sarapan tadi adalah sebuah siksaan, dan kini aku menghadapi kenyataan bahwa mau tak mau aku harus tetap berangkat sekolah, tak peduli bertemu EJ atau tidak.

Aku benar-benar muak. Aku ingin menghilangkan sosok EJ dari bumi ini agar aku tidak cemas berjalan sendirian. Saking takutnya melihat laki-laki itu, aku selalu berjengit kaget setiap kali melihat laki-laki setinggi EJ lewat di sampingku.

Sejauh aku berjalan hingga tiba di tangga menuju rooftop, aku sama sekali tidak menemukan EJ dan aku berharap  kami tidak akan bertemu lagi untuk selama-lamanya.

Udara segar menerpa wajahku ketika kulihat Vicky berdiri di ujung rooftop. Dia memunggungiku, menghadap ke arah pemandangan barisan gedung pencakar langit terselubung polusi di kejauhan sana.

Aku tidak tau apakah langkahku terlalu pelan atau dia memang tidak menyadari kedatanganku, itu sebabnya dia tidak menoleh ketika aku mendekatinya. Jangankan menoleh, berkutik sedikitpun tidak.

"Mana?" tanyaku. Seperti biasanya, tidak ada perubahan sedikitpun pada ekspresinya. Padahal jelas-jelas semalam dia mendapatkan ceramahan dari Mamaku entah tentang apa dan seharusnya dia protes. Lalu aku sadar, DIA ADALAH BATU!

"Mana cowok yang lo sebut kemarin?" sambungku. Aku teringat ucapan Vicky tentang pengagum rahasiaku.

"Dia nggak di sini," sahutnya tanpa melirikku sedikitpun.

Aku bersandar di samping Vicky. Menumpukan kedua sikuku di dinding setinggi pusar sambil menatap kejauhan. "Sebenarnya gue sengaja datang ke sini buat ketemu sama lo, kok."

Aku semakin mendekat ke sampingnya agar tidak ada celah di antara kami berdua. Udara sangat dingin dan memaksaku mencari kehangatan. Belum lagi, angin pagi yang berhembus mangacaukan tatanan rambutku.

"Gue tau semuanya tentang lo. Mama yang kasih tau. Tentang kasus itu, tentang orang tua lo juga."

Aku bicara dengan nada yang santai, tapi dia menanggapi dengan gerakan mangagetkan. Dia menoleh padaku. Tidak dengan ekspresi datar seperti biasanya, melainkan seperti api yang baru saja tersulut.

"Gue salah ngomong?" tanyaku untuk memastikan.

Tangannya yang semula bertumpu di dinding rendah itu kini terhempas ke samping pinggang, lalu dia melangkah pergi begitu saja.

"Vicky!" seruku. "Kenapa pergi? Gue baru aja mau ngomong."

Suaraku sangat keras dan bisa di dengar dari jarak sepuluh meter. Vicky bukan tuli, tapi dia memang tidak ingin berhenti.

"Vicky, gue salah kah ngomong tentang orang tua lo ..." aku baru sadar. Tentu saja Vicky akan tersinggung karena Vicky menganggap latar belakang keluarganya adalah aib. Jangankan kisah tentang keluarganya, kasus bahwa dia pernah tidak lulus saja berusaha dia sembunyikan sebaik mungkin.

EVIDEN (Republish)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang