18. Orchid

1K 76 8
                                        

"Bagus yang mana?" aku memperlihatkan dua gaun sederhana bermotif sama

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Bagus yang mana?" aku memperlihatkan dua gaun sederhana bermotif sama. Warnanya hijau matcha dengan garis-garis vertikal. Ada kancing di tengah-tengah dada.

Aku menunjukkan kepada Vicky yang sedang duduk di kursi tunggu. Dia terdiam di sana dan memperhatikanku mencari baju yang paling cocok untuk kupakai malam ini.

"Terserah," jawabnya setelah memperhatikan dua baju di tanganku.

"Vicky, gue minta pendapat dari lo. Jadi, lo harus pilih salah satu." Aku berseru gemas.

"Menurut lo yang paling nyaman yang mana?"

"Dua-duanya." Aku mengedikkan bahu.

"Ini." Dia menunjuk yang berlengan pendek.

"Sama, gue juga memang mau milih yang ini." Aku meletakkan baju lengan panjang kembali ke raknya.

Lalu aku menarik lengan Vicky, membawanya ke cermin besar di tengah ruangan.

Aku menempelkan baju itu di tubuhku dan memaksanya menatap ke arah pantulanku. "Bagus nggak?"

"Hm," dengungnya dengan nada netral.

"Kenapa lo lebih suka milih yang lengan pendek daripada yang lengan panjang?" tanyaku. Masih memperhatikan penampilanku dari pantulan cermin.

"Karena kalau lo kedinginan, EJ akan kasih jaketnya ke lo. Itu yang lo mau, kan?"

Secara refleks aku menoleh ke arahnya.

Jujur saja, aku tidak tau kalau Vicky bisa memperlihatkan sisi romantisnya meskipun dia adalah sebongkah batu berjalan. "Lo pasti sering lakuin itu ke Laras."

Dia duduk di kursinya lagi. Entah untuk menghindar dariku atau karena dia ingin sendiri dan memikirkan tentang Laras.

"Boleh gue bicara sesuatu tentang lo sama Laras?" tanyaku. Mulai melupakan baju matcha itu dan fokus kepada Vicky. "Laras itu salah satu teman gue di panti asuhan dulu, Ki.

Dia orangnya seru dan selalu punya cara untuk mencairkan suasana. Dia sering heboh sendiri. Punya banyak ide waktu kami bosan. Dia gampang sekali bergaul, mungkin itu sebabnya semua anak kenal sama dia.

Gue nggak merasa aneh melihat lo sama Laras. Kalian saling melengkapi. Gue justru kaget waktu dengar lo mutusin Laras. Dia pasti sedih banget setelah hari itu."

Seperti biasanya, Vicky hanya terdiam seolah tidak mendengar ucapanku sama sekali.

Selalu berakhir seperti ini, aku akan menyesal karena bicara terlalu banyak dan dia tidak akan memperlihatkan reaksi apa-apa.

EVIDEN (Republish)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang