⚠️⚠️CERITA MENGANDUNG BAWANG⚠️⚠️
ALUR SUDAH DIREVISI
TRIPTHA SERIES 1 : EVIDEN Memandang Semesta Dari Mata Yang Terluka
Semesta itu indah jika dilihat dari mata orang-orang yang bahagia, tapi bagaimana jika keindahan semesta dilihat dari mata yang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
A
ku bangun kesiangan karena menghabiskan malam dengan begadang.
Bukan untuk belajar matematika, melainkan karena sibuk melihat akun media sosial EJ.
Mulutku ternganga lebar melihat followers EJ yang ternyata lebih banyak dari artis yang kukenal.
Aku heran sendiri, bagaimana bisa aku tidak mengenal orang seterkenal EJ padahal kami satu sekolah.
Sarapan pagi itu, seperti biasanya, banyak diam dan hanya ada suara dentingan alat makan. Atmosfir begitu tegang dan tak nyaman.
Seumur hidupku di rumah ini, baru pertama kalinya melihat Mama tidak makan sama sekali, melainkan hanya minum segelas susu dan diam saja, lalu Papa yang tidak memberiku pelukan singkat maupun kata-kata penyemangat.
Papa kelihatan lebih kurus, ubannya semakin banyak, dan dia agak lemah ketika berjalan keluar ruang makan.
Selera makanku hilang, tapi aku tetap memaksakan diri untuk menjejalkan brokoli ke dalam mulut.
"Samara, nanti malam Papa akan berangkat ke Amerika," kata Mama. Satu-satunya suara yang muncul semenjak aku keluar kamar.
"Ke Amerika?" tanyaku. Papa biasanya memang selalu ada jadwal keluar negeri. Seharusnya aku tidak kaget dengan kesibukannya, tapi dalam keadaan Papa yang seperti tidak sehat, aku jadi agak khawatir.
"Papa mau cari pertolongan lain sama rekan di Amerika. Siapa tau ada yang bisa bantu perusahaan kita. Jangan lupa, jam tujuh kita akan antar sampai bandara," pesan Mama. Aku baru saja ingin bertanya tentang perjodohan itu, tapi Mama mengatakan, "Dan jangan bahas apapun masalah perjodohan!"
Aku meletakkan sendok di atas piring dan menunduk. "Oke."
🍁
Aku sangat benci ketika melihat Vicky tidak berangkat keesokan harinya. Padahal hari ini seharusnya ada ulangan matematika yang sempat ditunda kemarin.
Aku menghubunginya beberapa kali, bahkan memberanikan diri bertanya kepada Farel.
"Vicky nggak pulang ke asrama, Ra," kata Farel sambil memperlihatkan senyumnya. Dia baru mengalihkan pandangan dariku ketika Bu Dewi menyuruhnya membagikan soal ulangan.
Masih menjadi misteri apa penyebab Vicky selalu saja menghilang. Alasan paling utama adalah karena dia malas sekolah. Tentu saja dia tidak punya semangat untuk datang ke sekolah setelah putus dengan pacarnya, disalahkan ibunya karena tidak lulus, lalu mendapatkan nilai 0 berkali-kali, belum lagi dia harus berhadapan denganku yang super beban.
Hingga pulang sekolah tiba, aku sama sekali tidak bertemu dengan Vicky. Tidak mau repot-repot pergi ke rooftop karena dia pasti tidak ada di sana. Jadi, setelah jam pulang berlangsung, sudah termasuk dengan les, aku pergi ke parkiran untuk menunggu taksi.