Aku dan Vicky tidak bicara apa-apa selama perjalanan. Hanya merenungi pikiran masing-masing.
Lalu kami hampir tiba di depan gerbang rumahku ketika aku sadar ada seorang wanita berdiri di sana alih-alih pak satpam.
Tidak salah lagi, rambut digerai bergelombang itu adalah Mama. Dia berdiri, bersedekap, mematung, hanya bola matanya yang bergerak mengikuti arah mobil Vicky.
Ketika melihat lirikan sadisnya, barulah aku sadar Mama sedang marah.
"Vicky, stop. Sini aja!" perintahku sambil menepuk lengan Vicky.
Mobil berhenti lima meter sebelum kami tiba di depan gerbang.
Aku tidak mau Vicky terlibat dengan pertengkaranku dengan Mama, jika Mama memang ingin memarahiku.
Aku membuka pintu mobil. Saat itulah Mama bergerak dari posisinya. Dia berjalan dengan sepatu heelsnya ke arahku.
"Ma!" seruku dengan nada agak tersedu karena efek tangisan yang belum mereda.
Aku salah. Mama bukannya ingin menemuiku, dia justru membelok ke kursi kemudi. Di mana ada Vicky di sana, sedang menatap penuh waspada.
Mama tiba di samping jendela Vicky dan mengetuknya tiga kali. "Keluar!" perintahnya dengan nada dingin.
"Ma, ada apa?" tanyaku. Berjalan ke arahnya.
Sudah cukup pertengkaran dengan EJ dan perdebatanku dengan Vicky. Aku tidak ingin meladeni kemarahan Mama.
"Kamu nggak papa, kan?" tanya Mama. Suaranya melunak ketika bicara padaku.
Aku tau dia memperhatikan sisa air mata di wajahku dan meskiipun air mata itu sudah hilang, dia bisa melihat jejak tangis dari hidung dan mataku yang memerah. "Vicky nggak ada hubungannya sama sekali sama masalah aku, Ma. Dia ..."
"Kamu masuk!" perintah Mama membuatku terbungkam.
Vicky akhirnya keluar dari mobil dengan raut penuh rasa bersalah meskipun dia tidak bersalah sama sekali.
"Ma, jangan marahin Vicky. Bukan Vicky yang buat aku nangis ..."
"SAMARA, MASUK!" seru Mama membuat jantungku nyaris jatuh ke dasar perut.
Setelah Papa, kini Mama yang menunjukkan sikap aslinya. Aku benar-benar muak melihat wajah asli orang-orang.
Aku mengalihkan pandangan ke arah Vicky. Tidak ingin meninggalkannya karena dia sama sekali tidak berhak untuk dimarahi oleh siapapun. Dia tidak punya kesalahan apapun, kecuali membuatku kecewa karena dia tidak berangkat sekolah berhari-hari.
Karena tidak ingin mendengar bentakan Mama untuk kedua kalinya, aku memilih pergi dari sana.
Aku masuk melalui gerbang dengan langkah goyah. Samar-samar masih mendengar ucapan Mama yang sedang memarahi Vicky.
"Jadi, kamu namanya Vicky?" itu suara Mama. Bukan bentakan, tapi penuh kebencian.
Aku tidak mendengar lebih banyak karena aku berlari masuk ke dalam rumah. Sudah tidak sabar untuk melampiaskan amarah di dalam kamarku dengan berteriak atau setidaknya memporak-porandakan isi kamar.
Seolah menggenapi rasa bersalah dan amarah di dalam diriku, aku teringat janjiku pada Abel yang sudah kuingkari.
Penyesalan berdatangan. Membuatku membanting pintu kamar hingga menutup.
Seharusnya aku datang ke rumah sakit bersama Abel untuk menjenguk Tante Indah alih-alih menunggu EJ di parkiran.
Abel pasti sendirian padahal dia selalu butuh seseorang untuk memeluknya setelah dia menjenguk ibunya.
Seharusnya aku menghentikan perkelahian antara Vicky dan EJ serta tidak membiarkan siapapun di antara mereka berdua terluka.
Seharusnya semua ini tidak terjadi kalau aku lebih berani, kalau aku tidak mementingkan diriku sendiri ...
Aku menyembunyikan diri di balik selimut. Menahan isakan yang terasa sangat menyiksa. Napasku tersengal dan aku tidak peduli.
"Samara," suara itu membuatku refleks menoleh. Mama berdiri di ambang pintu dengan raut wajah iba yang khas di wajahnya. Dia sudah berubah menjadi Mama yang kukenal. Dia melangkah anggun ke tepian tempat tidur dan aku langsung memeluknya.
Kehangatan itu membuat jiwaku yang meronta agak tenang. Darahku yang mendidih menjadi semakin dingin. Dan yang paling penting hujan emosi itu sedikit demi sedikit mereda.
"Mama habis apain Vicky?" tanyaku di tengah isakan.
Dia mengalihkan pandangan. Bukan benci atau marah, lebih ke jijik seolah dia baru saja memotong daging busuk dengan tangannya. "Kamu nggak seharusnya dekat sama dia, Samara."
"Kenapa?" tanyaku dengan nada tak terima.
Kelihatannya sangat sulit bagi Mama untuk mengucapkannya. "Dia anak yang tidak baik. Dia anak yang tidak seharusnya dijadikan teman oleh siapapun."
Seumur hidupku. Mamaku yang baik ini tidak pernah menghina orang lain, meskipun bukan keluarganya, dengan hinaan seburuk itu.
"Dia seorang pembunuh, bahkan di usianya yang masih sepuluh tahun. Ayahnya seorang pembunuh. Ayahnya pengedar narkoba. Wajahnya terkenal dimana-mana tiga tahun lalu. Dia jadi topik berita hangat di televisi. Dari situ Mama tau siapa dia."
Rahangku hampir saja ingin jatuh jika saja tidak kututup dengan tangan. Aku baru saja ingin bilang, itu tidak mungkin, tapi aku mulai tau dari mana asal-usul ekspresi misterius di wajah Vicky. "Ma ... ibunya Vicky ...."
"Ya," sahut Mama bahkan sebelum aku selesai bicara, seolah Mama sudah menguasai biografi Vicky. "Dia anak kepala sekolah Triptha, tapi setau Mama tidak lagi semenjak dia tinggal dengan ayahnya yang pengedar narkoba itu di Australia. Dia tidak pernah diakui lagi oleh Bu Andrea."
Oke, sekarang aku tau kenapa Bu Andrea menyebut ayah Vicky bajingan. Lalu, Bu Andrea akan memesankan tiket pesawat untuk Vicky agar bisa kembali ke ayahnya yang berada di Australia karena Vicky pernah tinggal di sana bersama ayahnya dan entah kenapa dia pindah ke Indonesia lagi untuk tinggal bersama seorang ibu yang bahkan sudah tidak mengakuinya anak sendiri.
"Sayang, kamu tidak boleh berteman dengan anak yang sudah tidak diakui lagi oleh keluarganya."
"Tapi itu bukan berarti kalau Vicky sama kayak ayahnya, Ma."
Mama menggeleng. Dia masih kukuh dengan pendapatnya bahwa Vicky adalah seorang kriminal. "Dia pernah membunuh. Itu yang dikatakan di berita. Mama kaget pas lihat kamu pulang sama dia kemarin dan sekarang kamu pulang sama dia lagi. Seberapa akrab persahabatan kalian? Bagaimana kalau ternyata dia punya niat jahat di balik persahabatan kalian?"
"MA, STOP!" cegahku sebelum Mama mengatakan kalimat yang lebih keterlaluan. "Vicky nggak pernah sekalipun punya niat seburuk itu."
Jika saja Vicky mau membunuhku, kenapa hari itu dia tidak mendorongku dari rooftop? Aku ingin mengatakan itu kepada Mama, tapi aku takut Mama akan semakin marah.
"Mama nggak mau berdebat tentang hal yang mutlak Samara, kamu tidak boleh berteman sama dia!"
Ucapan Mama berhasil membuat darahku mendidih lagi setelah pelukannya membuat amarah itu reda. "Mama nggak bisa buat keputusan kayak gini. Aku ..."
"Jangan buat Mama kecewa setelah kamu membuat papamu kecewa!"
Dan aku terbungkam. Menahan amarah itu dalam-dalam. Menciptakan genangan di kelopak mata.
________________________
Bagaimana ladies, dengan chapter ini?
mau update 2 chapter tapi ntar duluu...
KAMU SEDANG MEMBACA
EVIDEN (Republish)
Teen Fiction⚠️⚠️CERITA MENGANDUNG BAWANG⚠️⚠️ ALUR SUDAH DIREVISI TRIPTHA SERIES 1 : EVIDEN Memandang Semesta Dari Mata Yang Terluka Semesta itu indah jika dilihat dari mata orang-orang yang bahagia, tapi bagaimana jika keindahan semesta dilihat dari mata yang...
