⚠️⚠️CERITA MENGANDUNG BAWANG⚠️⚠️
ALUR SUDAH DIREVISI
TRIPTHA SERIES 1 : EVIDEN Memandang Semesta Dari Mata Yang Terluka
Semesta itu indah jika dilihat dari mata orang-orang yang bahagia, tapi bagaimana jika keindahan semesta dilihat dari mata yang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aku menginjakkan kaki di atas lantai rumah dengan euforia kebahagiaan di dalam tubuh. Sudah tidak sabar jam menunjukkan pukul tujuh malam.
"Samara!" panggil Mama ketika aku menginjak tangga pertama.
Aku menoleh, melihat sosok perempuan mengenakan blouse biru dongker dan celana panjang hitam.
Mama pasti baru beberapa saat lalu masuk ke dalam rumah dari Moonlight Blooms dan belum sempat mengganti baju. Namun ekspresinya yang kaget yang mencuri perhatianku.
"Iya, Ma?" tanyaku. Seketika membendung kebahagiaan agar bisa fokus mendengarkannya.
"Kamu dari mana?" tanya Mama dengan nada cemas. Bukan cemas karena takut anaknya kenapa-napa, tapi cemas karena hal lain.
"Dari mall." Kupikir itu bukan kesalahan besar. Aku pernah sehari tidak pulang tanpa memberitahu mereka dimana keberadaanku dan mereka baik-baik saja. Lantas, kenapa Mama harus marah ketika aku keluar sebentar?
"Sama siapa?" tanya Mama lagi. Aku yakin dia sedang berusaha untuk mengintimidasiku. Dagunya agak terangkat, memperlihatkan ketidakpuasannya mendengar jawabanku yang bernada heran.
"Sama teman. Emangnya kenapa?"
"Laki-laki?" selanya bahkan sebelum aku selesai bicara. Sekarang aku tau apa yang membuat Mama marah.
Aku tidak sadar Papa berada di tangga, dia ingin turun ke lantai satu dan melihatku berbicara dengan Mama sehingga dia berhenti.
Setelah mendengarkan percakapan menegangkan kami, Papa turun melalui tangga dengan ekspresi yang lebih mengerikan daripada amarah Vicky.
"Seharusnya kamu bisa jaga diri dan kamu harus sadar kalau kamu tidak boleh dekat dengan laki-laki selain Darius," jelas Papa membuatku teringat akan perjodohan itu.
"Seharusnya Papa juga ingat kalau aku udah janji untuk bisa cari cowok yang mungkin bisa menggantikan Om Darius," sahutku dengan nada ragu. Mama agak mendelik karena mengira aku melawan Papa.
"Siapa laki-laki itu? Seorang anak laki-laki? Kamu ingin mempercayakan keselamatanmu kepada seorang anak laki-laki?"
Sosok Papa yang kukenal ramah, suportif, selalu positif, kini terlihat sebaliknya. Aku tidak menyangka kebangkrutan akan membuat Papa berubah menjadi seperti ini.
Papa mengalihkan pandangan sinisnya. Lalu melanjutkan langkah. Melewatiku begitu saja.
Aku mendengus. Memandang Mama lagi yang sedang menggeleng seolah menganggapku anak durhaka.