42. Salvia

503 63 2
                                        

Hidup itu lucu, ya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hidup itu lucu, ya. Hidup itu mengundang tawa. Kadang tawa bahagia, tawa haru, atau tawa karena sedih. Sayangnya, aku selalu dapat yang nomor tiga. Kalau diingat-ingat, kapan terakhir kali aku tersenyum bahagia? Ah, entahlah. Melihat Abel tertawa saja cukup membuatku bisa tersenyum tulus, atau melihat Vicky di sampingku, mendengarkan keluh kesahku, lalu sesaat kemudian aku akan merasa lega meskipun Vicky tidak merespon apa-apa.

Vicky baru saja hadir di sisihku. Seperti biasa, kami di rooftop. Memperhatikan kendaraan lalu lalang di jalan raya. Sesaat keheningan menguasai kami. Lalu aku menceritakan apa yang terjadi malam itu, malam ketika Aidan memperlihatkan kalung yang akan dia berikan kepada Abel.

"Gue pikir bakalan baik-baik aja. Ya udahlah. Maksudnya, ngapain kan gue berharap. Udah jelas-jelas Aidan bakalan milih yang cantik." Aku tertawa miris. Mengusap setitik air yang entah sejak kapan mengalir di pipi.

"Lagian, gue juga nggak tau diri. Seharusnya gue nggak berhak cemburu."

Aku merasakan Vicky menatap ke arahku. Namun aku tidak berani memperlihatkan mataku padanya. Aku takut dia bisa tau seperti apa rasa sakit yang kurasakan.

"Gue nggak papa kok, Ki. Cuma lagi pengen nangis aja." Aku mengusap air mata. Menahan sisanya yang sebenarnya ingin berjatuhan di pipi. Aku tersenyum dan menoleh ke arah Vicky. Dia diam, tapi aku tau diamnya mengatakan sesuatu. Sesuatu yang membuatku agak tenang.

"Gue sebenarnya senang karena Abel akhirnya punya alasan buat senyum lagi," kataku sambil menatap atap-atap gedung di kejauhan. "Gue harap mereka bakalan cocok satu sama lain. Aidan pasti bakalan ngertiin Abel, kalau Abel kadang suka badmood dan satu-satunya cara biar Abel mood lagi dengan ngajak dia keluar, cari udara segar. Kalau Aidan... " Aku teringat senyum Aidan di malam pertama kali kami bertemu setelah 10 tahun berpisah. Senyum itu seutuhnya untukku, sebelum Aidan mengalihkan perhatiannya untuk Abel. "Ehm ... Aidan, dia suka iseng, dia bakalan cocok sama Abel. Dia punya sejuta cara buat bikin orang bahagia."

"Lo tau kalau lo boleh peluk gue, kan?" kata Vicky setelah menghembuskan napas berat seolah dia tidak kuat mendengar rasa sakit yang kuucapkan.

Aku menatap wajahnya yang memperlihatkan rasa iba. Lalu dadanya yang naik turun memperlihatkan napas yang teratur. "Kenapa nggak sejak dulu lo ngomong gini, sih," sarkasku lalu melingkarkan tanganku di punggungnya.

Untuk pertama kalinya aku sedekat ini dengan Vicky. Aku bisa mendengar detak jantungnya, aku bisa merasakan napas dan darah yang mengalir di tubuhnya.

Setiap memeluk Mama aku merasa seolah tubuh kami menyatu, bahkan aku merasa seolah bisa mengetahui apa yang Mama pikirkan. Namun Vicky, aku merasa dia masih tetap misteri.

"Ehm..."

Aku membuka mata. Suara itu bukan deheman Vicky, itu suara orang lain. Aku menoleh ke kejauhan dan melihat Aidan berdiri di sana dengan wajah terpaku. Aku buru-buru melepas pelukan dan menghapus sisa air mata di wajah. Aidan tidak boleh tau aku menangis karenanya.

"Eh, maaf ganggu, Ra," kata Aidan. Tersenyum tengil seolah ingin menggodaku.

"Tadi ada yang bilang lo di sini, jadi gue naik, deh. Buset tangganya banyak banget."

Aku masih berusaha menyiapkan ekspresi paling cocok untuk menyamarkan rasa cemburu itu. "Lo mau ngapain cari gue?" tanyaku setelah berdehem untuk menyegarkan suara. Aku yakin Aidan tidak curiga ketika menatap mataku yang masih memanas. Buktinya, dia tersenyum-senyum seperti Aidan yang normal.

"Gue cari Abel. Lo tau nggak Abel di mana?"

Abel? Aku menatap tak percaya. Serius? Dia naik ke rooftop mencariku untuk mencari Abel? Dia pasti bercanda. "Ya lo tau lah dia di mana. Ngapain nanya gue."

Aidan terkekeh geli. Aku benar-benar tidak paham apa yang dia lakukan. Lalu aku melihat kotak perhiasan berisi kalung yang pernah Aidan tunjukkan. Kalung itu dia genggam sangat erat sampai tangannya merah.

Okey, dia akan memberikan kalung itu untuk Abel. Aku tau sekarang, dia pasti mencariku dulu untuk memberitahuku tentang itu. Bagus lah, dia masih ingat aku adalah teman yang selalu memberinya pendapat sebelum dia bertindak.

"Eh, lo Vicky, ya?" tanya Aidan ketika sadar Vicky masih di sampingku. "Gue Aidan Nathaniel Edwarda, panggil Aidan aja." Aidan mengulurkan tangan, tapi Vicky tidak menerima jabatan tangan itu.

"Vicky," kata Vicky. Nadanya sangat berbeda dengan nada Aidan yang berwarna. Andaikan bisa telepati, aku akan menyuruh Vicky untuk bersikap normal di hadapan Aidan, lalu aku sadar sikap normal Vicky memang seperti itu.

"Salam kenal." Aidan menarik tangannya lagi dengan canggung.

"Abel paling lagi di gymnasium, Dan. Lo cari aja dia di sana," kataku untuk mengusir keheningan.

Aidan mengangguk bersemangat. "Okey." Tatapannya ragu-ragu, seperti ada yang ingin dia ucapkan. Aku tau Aidan, dia menggeleng dan mengalihkan pandangan ketika gugup. "Kalian nggak mau turun juga?"

Aku menoleh ke arah Vicky. Dia diam dan datar. Aku benar-benar tidak suka momen ini. Aku memarahi diri sendiri, jangan pernah berekspektasi apapun dari cowok yang namanya Vicky. Dia tidak mungkin bilang, "Oh, nggak usah. Kami di sini aja." Ya, dia diam.

"Its okey, gue duluan ya," kata Aidan lalu berbalik dan pergi. Dia tau persis situasi terasa amat canggung. Tapi Aidan tetaplah Aidan. Dia jago mencairkan suasana meskipun sangat mustahil sekalipun.

"Aidan!" seruku sebelum Aidan menuruni tangga. Dia menoleh seolah sudah menungguku untuk memanggil namanya. "Good luck!"

Dia tersenyum. Lalu berjalan pergi.

 Lalu berjalan pergi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

'Sejauh apa kamu melangkah sampai kamu begitu yakin masa depanmu akan persis seperti yang kamu harapkan?'

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

'Sejauh apa kamu melangkah sampai kamu begitu yakin masa depanmu akan persis seperti yang kamu harapkan?'

EVIDEN (Republish)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang