22. Azalea

879 72 6
                                        

"Hay, guys!" sapa EJ kepada kamera dengan suara dalam dan serak, suara yang bertujuan untuk membuat para perempuan tergoda

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Hay, guys!" sapa EJ kepada kamera dengan suara dalam dan serak, suara yang bertujuan untuk membuat para perempuan tergoda.

EJ menyipitkan mata dan menggerakkan alis serta bibir untuk mencari ekspresi terbaiknya. Lalu dia tersenyum, membuat bunyi notifikasi semakin kencang.

Aku yakin orang-orang yang sedang menonton live streamingnya sedang memujinya.

"Yang belum follow, langsung follow aja, ya!" suaranya mendayu indah, tetapi tetap mempertahankan nada seraknya.

"EJ udah punya pacar belum?" mata EJ menyipit membaca salah satu komentar fansnya.

Aku mengalihkan pandangan karena dia menoleh ke arahku setelah membaca komentar itu.

"Pacar, hm?" katanya, tersenyum menggoda ke arahku, lalu ke arah kamera.

Aku berjalan ke arah kanvas dan palet agar terkesan sedang tidak menguping. Aku bahkan menyembunyikan diri di balik kanvas itu agar tidak melihat EJ secara langsung.

"Bule ganteng," EJ membaca komentar lagi membuat dahiku mengerut. Aku mengintip dari sela-sela kanvas.

Kupikir dia menjawab pertanyaan tentang pacar dengan jawaban bule ganteng, ternyata Ej memilih untuk tidak menjawab dan membaca komentar lain.

"Makasih, tapi gue bukan bule," kata EJ ke arah kamera. Sekejap saja, dia melupakan tentang pertanyaan pacar.

Aku harap aku juga begitu, melupakan pertanyaan tentang pacar tadi. Jujur saja aku penasaran dengan jawaban dari pertanyaan itu, apakah dia sudah punya pacar atau belum.

"Udah malam, Kak, waktunya tidur," EJ membaca komentar lain. Dia tertawa, semakin membuat suara notifikasi bermunculan.

"Belum jam delapan," sahut EJ. Belum pernah dia bicara dengan nada seperti itu kepadaku. Seolah dia memang menyiapkan suara baritone itu khusus untuk para fansnya. "Habis ini mau apa? I guess, baca buku, main gitar, or something."

Aku melirik gitar di ujung ruangan, tergantung di dinding dengan posisi dramatis.

Aku mulai mengalihkan pandangan ke arah kanvas di depan wajahku. Cat biru mendominasi dengan beberapa bentuk seperti segitiga, bulat, dan kotak.

Sekilas, aku bisa melihat bunga mawar dari susunan bentuk itu. Hanya saja, masih ada bagian yang belum selesai.

Aku menoleh ke arah EJ. "Lo suka ngelukis?"

EVIDEN (Republish)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang