(37)- Mulai Terungkap

6.5K 377 10
                                        

HAPPY READING GUYS

Arthan menatap kosong gundukan tanah di depannya, kedua tangannya juga terkepal kuat.

"Kenapa!?" Tanya Arthan lirih, nadanya penuh rasa frustasi, sedih dan marah.

"Lo menang. Lo udah menang dapat Anara, dan sekarang lo pergi? Permainan yang bagus," sinis Arthan penuh emosi.

"Disaat dia suka lo, lo malah pergi? Bangsat, lo tau nggak kalo itu brengsek, Nathan!!"

Arthan tertawa miris, dia menertawakan dirinya yang sudah kalah dan malah harus kena juga.

"Dan sekarang lo malah suruh gua buat jagain dia? Lo gila!"

Pemuda itu tidak bisa berkata-kata lagi, benar-benar suatu yang ia sendiri bingung. Apakah ini sebuah kesialan atau keberuntungan.

"Dia suka lo, kenapa nggak lo aja yang jaga?"

"Oh ya, gua lupa lo sekarang udah jadi mayat," gumamnya.

🍂🍂🍂🍂

Suara tawa mulai terdengar, meskipun lirih tapi hal itu membuat dua saudara kembar ikut tersenyum.

Anara, dia mulai memperlihatkan tawanya setelah dihibur oleh pertengkaran dua saudara kembar itu.

" Nah gitu, Anara nya El cantik," puji El sambil menyelipkan rambut Anara ke kebelakang telinga gadis itu.

Anara senang-senang saja saat dimanja-manja seperti ini, membuat moodnya yang tadi buruk mulai membaik.

Aku mau dimanja-manja~~

Gadis itu memeluk erat perut El dengan kepala yang disandarkan di dada bidang El. Mwehehehe peluk cogan~~

"Sekarang Anara cantiknya El mau apa?"

Gadis itu mulai berpikir, dia mau apa ya? Lama berpikir tak membuat kedua pemuda itu menunggu dengan sabar.

"Gimana kalo main make up artis, aja? Anara yang jadi tukang make up, kalian yang jadi medianya," jelasnya sambil mengutarakan idenya.

El dan Al sontak saling pandang, apakah harus? Sepertinya itu adalah ide buruk, mau menolak tapi nanti Anara sedih lagi.

Mereka hanya bisa menghela napas, berdoa semoga mereka masih baik-baik saja, kayak mau perang aja.

Kedua saudara kembar itu hanya bisa menerima dengan lapang dada, toh menolak sama saja membuat gadis itu kembali nangis lagi.

Anara dengan senang hati ke arah laci di meja belajarnya, terlihat dia sedang mengambil barangnya. Setelah merasa sudah cukup, Anara kembali dengan membawa beberapa barang penting yang dibutuhkan untuk menghias.

"Nah! Sekarang kita akan bermain merias wajah," pekik Anara senang.

"Siapa yang duluan?" Tanya Anara yang membuat saudara kembar itu kompak saling tunjuk.

Anara menatap keduanya bergantian, tak lupa dengan jari telunjuknya yang mengetuk-ketuk dagu, seolah sedang berpikir keras.

Sampai matanya berhenti di satu pemuda yang menunjuk pemuda lainnya dan ditunjuk oleh si saudara kembar.

Ana Or Anara Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang