Rose menghabiskan sepanjang hari Minggu di birthing center. Armando sudah menyarankan untuk tinggal di sana sampai tiga hari ke depan. Namun Rose menolak karena tidak mau tagihan perawatan beberapa hari di birthing center akan membuatnya kebingungan membayar.
"Aku yang akan bayar," kata Armando.
"Tidak semua bisa diselesaikan dengan uangmu itu, Ar. Lagipula kata Rachel memang biasanya ibu yang baru melahirkan hanya menghabiskan satu hari menginap sebelum besoknya pulang ke rumah," balas Rose.
"Ya tapi mereka punya pasangan atau orang lain yang membantu mengurus bayi mereka di rumah."
Armando yang ikut menemani Rose sejak Minggu dini hari itu belum juga pulang padahal hari sudah berganti Senin. Ia harus pulang sebelum pukul 6 untuk menghindari kemacetan sehingga bisa tiba di apartemennya dan bersiap menuju kantor tanpa terlambat. Karena itu, ia membantu Rose membereskan barang-barang dan mengemasinya kembali sejak pagi buta.
"Aku bisa mengurus Nate sendiri," ucap Rose.
Dari nada bicara Rose, Armando tahu perempuan itu kesal. Salah Armando sendiri yang terlalu jauh ikut campur. Bukan porsinya untuk ikut mengambil keputusan hidup yang Rose dan Nate, putranya, jalani. Terlepas dari berapa kali mereka berhubungan badan, sebanyak dan sedalam apapun kisah masing-masing yang dibagi, ia hanyalah seorang asing yang sepatutnya cukup bersyukur bila dianggap teman.
Armando tahu pasti Rose terlalu lelah setelah melahirkan. Tidurnya pun hanya beberapa jam saja karena harus menyusui Nate tiap tiga sampai empat jam sekali. Sejak sore hari, Rose membiasakan diri untuk belajar berdiri dan berjalan. Ia perlahan menyiapkan dirinya untuk bisa mengurus Nate sendirian sewaktu pulang nanti.
Nate bukan bayi yang merepotkan. Terlalu dini untuk mengatakan itu memang. Namun selama hampir 24 jam setelah ia lahir, Nate selalu mudah tenang dan berhenti menangis kencang apabila digendong dan ditimang. Meski begitu, tetap saja mengurus Nate sendirian dianggap Armando sebagai suatu pekerjaan yang tidak mudah untuk dijalani Rose yang masih masa pemulihan. Jalannya saja begitu pelan dan masih tertatih.
Armando menarik resleting dan menutup koper yang dibawa Rose dari apartemen. Sudah disiapkannya satu popok ukuran newborn bersih di luar koper, jaga-jaga jika popok yang Nate pakai basah sebelum Rose tiba di apartemennya. Mereka baru akan pulang setelah bertemu dengan dokter spesialis anak dan Nate selesai diperiksa. Dokter baru akan tiba sekitar pukul 8, jadi Armando tidak bisa ikut menemani dan mengantar mereka pulang.
"Semua sudah ada di dalam koper. Pakaian kotornya sudah aku pisahkan dengan yang masih bersih. Nanti jika sudah sampai, minta tolong driver taxi untuk membantu kamu membawa—"
"Aku tahu harus melakukan apa, Ar," kata Rose yang memotong Armando.
"Sorry. Aku terlalu berlebihan," balas Armando yang berjalan mendekat dan duduk di tepi ranjang.
Rose duduk bersandar pada tumpukan bantal di atas ranjang. Bed cover berwarna putih menutupi tubuhnya sampai sebatas perut. Ia bangun untuk menyusui Nate dua jam lalu, dan tidak bisa kembali tidur. Tidurnya sama sekali tidak nyaman. Ia memang sulit nyaman tidur di tempat baru dan asing. Semakin terasa sulit setelah mendengar ucapan Armando pagi sebelumnya.
Bukan ia tidak mau menerima Armando. Astaga, orang bodoh seperti apa yang menolak ajakan pria seperti Armando untuk menikah?
Namun pernikahan tidak semudah itu. Ia tidak mau menghabiskan semua perasaannya pada orang yang salah, yang ia pikir akan menjadi yang terakhir sampai akhir hidupnya. Gambaran tentang pernikahan dalam bayangan Rose terlalu indah sampai ia khawatir akan dirusak kenyataan. Rose masih belum yakin Armando dan segala gemerlap di kehidupannya akan mau menerima Rose dan kegelapan masa lalu dan latar belakangnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
call me daddy [completed]
Romance[mature and explicit content, 18+] Berawal dari usaha menyambung hidup untuk anaknya, Rosaline berakhir menjadi pemuas nafsu atasannya sendiri.
![call me daddy [completed]](https://img.wattpad.com/cover/236253324-64-k670771.jpg)