Pertemuan bisnis yang dimaksud Armando lebih bisa dibilang pertemuan teman lama. Tidak ada pakaian resmi, obrolan menegangkan, bahkan tidak dilaksanakan di ruang pertemuan seperti pertemuan bisnis Armando sebelum-sebelumnya. Penanggungjawab bisnis untuk rencana beach club barunya itu adalah teman semasa sekolah menengahnya sendiri.
Keduanya tidak banyak membicarakan bisnis karena ternyata sudah satu visi dan Peter—teman Armando yang juga dipasrahi Armando memegang bisnis rumah spa, kelab malam, dan bakal beach club itu sudah paham betul apa yang diinginkan Armando dalam pikirannya. Mereka bertemu sudah seperti dua teman sedang reuni, membuat Rose dan konsultan bisnis yang datang dibuat kikuk.
"Tadi Peter sudah bawa copy-annya, kan?" tanya Armando yang sedang fokus menyetir.
Rose mengecek map yang berada di pangkuannya sebelum mengangguk mengiyakan. Pasti ia terlalu menikmati reuni singkat dengan Peter sampai hampir melupakan agenda utama pertemuan mereka tadi.
Ini kali pertama Armando berada dalam pertemuan bisnis tanpa mengenakan setelan formal. Melihat Armando dalam setelan kasual dengan celana jeans biru panjang, kaos lengan pendek milik brand atribut olahraga kenamaan, sepatu sneakers, tanpa jas mahal, dasi yang beberapa ada yang harganya lebih mahal dibanding biaya sewa apartemen Rose per bulannya.
Dan, harus Rose akui, Armando terlihat lebih tampan demikian.
Barangkali ada pengaruh dari kejadian semalam yang masih sulit diingat Rose dengan jelas, namun ia sudah cukup malu dan ingin melupakannya saja. Ia masih tidak percaya, dari banyak pria yang ia kenal, ia tidak pernah terbayang akan tidur bersama dengan bosnya sendiri.
Jika ini adalah film khas Hollywood, mungkin tidur dengan atasan akan berakhir saling jatuh cinta, kemudian menikah, dan hidup bahagia bersama. Sayangnya dengan keadaan Rose kini, rasanya terlalu tidak tahu diri untuk mengharapkan hal yang sama terjadi padanya. Ia sudah cukup tidak tahu diri dengan tidak mengajukan surat pengunduran diri dari pekerjaannya setelah kejadian semalam.
Nada dering yang terdengar dari ponsel Armando yang diletakkan pada phone holder dekat setir membuyarkan lamunan singkatnya. Ia melirik kontak penelepon dan membaca tulisan 'Mommy' pada layar ponsel Armando. Dengan telunjuk kanannya, Armando menggeser layar untuk mengangkat panggilan.
"Ada apa, Mom?" tanya Armando setelah panggilan tersambung.
"Apa Mommy tidak boleh telepon anak Mommy sendiri?"
Armando menghela napas. Ibunya selalu penuh dengan drama, sama dengan Thea. Ia tumbuh besar dengan keharusan berdamai dengan kebawelan dan drama yang dibuat dua perempuan itu.
"Boleh, tapi aku sedang menyetir," balas Armando.
"Siapa suruh membawa Jeff ikut ke Honolulu tapi malah membiarkannya menganggur?"
Jika ingatan Armando masih sama baiknya dengan ketika ia menjuarai olimpiade Matematika ketika sekolah dasar dulu, seingatnya ia tidak memberitahu ibunya kalau ia menginap di tempat terpisah dengan Jeff. Dari tiga anak ibunya, Armando adalah yang paling tidak dekat dengan ayah dan ibunya. Suatu hal yang tidak masuk akal jika tiba-tiba Armando memberitahu business trip-nya secara mendetail.
"Jeff yang memberitahu Mommy?"
Terdengar agak aneh karena untuk apa ibunya menghubungi atau dihubungi Jeff. Memang Jeff sudah ikut bekerja dengannya dalam waktu lama sampai ia akrab dengan keluarga Armando, bahkan dengan keluarga sisi ayahnya di Seoul. Tapi tetap saja terasa aneh jika Jeff tiba-tiba melaporkan detail kegiatan mereka di Honolulu.
"Mommy yang tanya ke dia."
"Hah? Mommy kenapa tiba-tiba tanya ke Jeff soal aku?"
"Ya! Lee Jinwoo!"
KAMU SEDANG MEMBACA
call me daddy [completed]
Romance[mature and explicit content, 18+] Berawal dari usaha menyambung hidup untuk anaknya, Rosaline berakhir menjadi pemuas nafsu atasannya sendiri.
![call me daddy [completed]](https://img.wattpad.com/cover/236253324-64-k670771.jpg)