Sama seperti hari-hari yang mereka habiskan di Honolulu, Armando bangun lebih awal dibanding perempuan yang terlelap di sampingnya. Selain karena ia selalu terbiasa bangun pagi, punggungnya terasa sakit karena ranjang yang ia tiduri kali ini tidak senyaman ranjang lain yang biasa ia tiduri. Sinar matahari tampaknya belum muncul sebab ruangan apartemen kecil milik Rose masih remang-remang, hanya disinari lampu tidur yang mulai meredup di atas nakas samping ranjang.
Mengendap-endap ia bangkit dari tidurnya, memunguti pakaian yang ia kenakan semalam yang berserakan di lantai. Senyuman tipis mengembang di bibirnya mengingat apa yang terjadi malam tadi. Suara decitan ranjang sebab pergerakan tubuh dua sejoli di atasnya, erangan dan desahan kenikmatan yang lolos dari keduanya, juga Rose yang berkali-kali berbisik mengingatkan Armando bahwa hunian yang ia tempati tidak kedap suara dan ia tidak mau tetangganya mendengar apa yang sedang mereka lakukan.
"Persetan dengan mereka, Rose. Kamu terlalu nikmat," begitu balasan Armando.
Pria itu membuka pintu yang sepertinya merupakan pintu masuk kamar mandi. Ia tidak suka bau cairan persetubuhan menempel di tubuhnya, terlebih hari ini ia harus menghadiri rapat penting. Ia bisa saja segera pulang dan mempersiapkan diri di tempat tinggalnya, namun rasanya tidak mungkin jika meninggalkan Rose begitu saja setelah apa yang terjadi semalam.
Aneh. Armando sendiri merasakan keanehan itu. Bukankah biasanya itu yang ia lakukan setelah puas bersetubuh dengan wanita-wanita yang ia bayar? Ia akan pergi setelah nafsunya terpuaskan, tanpa menunggu wanita itu bangun hanya untuk berpamitan.
Ruangan apartemen Rose kecil. Tentu saja kamar mandinya jauh lebih kecil. Hanya ada wastafel, toilet, dan ruang pancuran air yang dibatasi serta ditutupi dengan tirai tahan air. Ada sebuah sikat gigi, pasta gigi, mouthwash, dan beberapa botol produk skincare yang biasa mudah ditemukan di drugstore. Semua tertata rapi di rak besi dekat wastafel meski beberapa botol diposisikan terbalik. Dispenser sabun cair yang menempel pada tembok di bawah pancuran air tampak hanya seperempat penuh. Sepertinya Rose sudah waktunya belanja kebutuhan sehari-hari.
Tubuh Armando yang tidak tertutup sehelai kain itu basah dibasuh air hangat yang mengucur dari pancuran. Melihat kran wastafel yang tidak bisa diatur suhunya, serta apartemen yang tidak mewah, Armando dibuat sedikit terkejut dan bersyukur bahwa pancuran murah itu masih bisa mengalirkan air hangat. Setidaknya hidup Rose selama tinggal di tempat itu tidaklah teramat menyedihkan.
Sekembalinya ia mandi dan mengenakan kembali pakaian yang ia pakai semalam, Rose masih lelap tertidur di atas ranjang. Armando duduk di tepi ranjang, memandang wajah Rose yang begitu damai. Sesekali kening Rose mengerut, hampir membuat kedua alisnya yang tertata rapi secara natural itu hampir bertemu di tengah. Armando dibuat penasaran sedang mimpi apa perempuan cantik itu, pikiran seperti apa yang sedang memenuhi kepalanya.
Melihat sinar matahari perlahan masuk ke dalam ruangan melalui jendela kecil, Armando bangkit dan mematikan lampu tidur. Ia bergerak menuju dapur yang tentu saja bisa dilakukannya hanya dalam dua langkah pendek. Tidak ada banyak makanan yang mengisi lemari es, hanya ada sebungkus cokelat batang yang sudah dihabiskan setengah, tiga buah apel, dua bungkus jus jeruk yang masih dikemas dalam satu plastik bertuliskan buy 1 get 1 free. Di atas meja dapur, di samping kompor tanam satu tungku, terdapat satu kantong belanja kertas berisikan tiga butir telur.
Armando menghela napas. Apartemen Rose terlihat rapi dan bersih bukan karena rajin dibersihkan namun karena memang hampir tidak ada isinya.
Dengan berusaha semaksimal mungkin untuk membuat seminimal mungkin suara, Armando memasak scrambled egg untuk mereka sarapan. Masih terlalu pagi untuk sarapan namun sejak semalam belum ada makanan yang masuk ke perutnya dan hari ini akan menjadi hari panjang untuknya. Tidak ada kopi pagi bagi Armando kali ini, sebab di apartemen Rose tidak ada terlihat kopi sama sekali bahkan yang kemasan sachet sekalipun. Hanya ada teh kantong.
KAMU SEDANG MEMBACA
call me daddy [completed]
Romance[mature and explicit content, 18+] Berawal dari usaha menyambung hidup untuk anaknya, Rosaline berakhir menjadi pemuas nafsu atasannya sendiri.
![call me daddy [completed]](https://img.wattpad.com/cover/236253324-64-k670771.jpg)