Fokusnya ada pada layar iPad yang diposisikan tegak di atas meja kerjanya. Rapat direksi akan diadakan lusa, Armando tengah menyiapkan materi yang nantinya akan dipresentasikan. Karyawannya dari banyak tim divisi sudah beberapa kali bolak-balik ke ruangannya untuk mendiskusikan beberapa hal. Suara ketukan di pintu bukan sekali dua kali ia dengar di hari ini.
"Masuk!" perintahnya pada siapapun di balik pintu yang mengetuk.
Pandangannya teralihkan, bertanya-tanya siapa kali ini yang masuk ke ruangannya.
"Bos..." sapa Jeff seraya menutup pintu dan berjalan mendekati meja Armando.
Di tangannya sudah ada sebuah iPad dan kotak yang kemarin dibawakannya dari penthouse lama Armando. Tidak butuh waktu lama bagi Jeff untuk mengumpulkan informasi yang diminta atasannya itu. Beberapa informasi yang didapatkannya mungkin hanya akan menambah beban pikiran Armando yang ia tahu tentu sedang sibuk. Namun jika Jeff menunda memberikan informasi yang ia dapat, Armando tentu akan memarahinya.
Armando menyandar pada kursi kerjanya. Kedua tangan ia lipat di depan dada. Pandangannya tertuju pada Jeff yang berdiri di hadapannya, dipisahkan oleh meja kerjanya di antara mereka. Satu alisnya naik, sebuah bahasa tubuh yang Jeff sudah tahu betul apa artinya.
Jeff meletakkan kotak yang ia bawa di atas meja kerja Armando. Ia kemudian menyalakan iPad-nya dan membuka sebuah file sebelum menyerahkannya pada Armando untuk melihat sendiri apa yang ditampilkan pada layar.
"Fiona Wilson adalah seorang sipir penjara lembaga pemasyarakatan khusus perempuan di Indianapolis. Ia sudah bekerja di sana selama 3 tahun. Bos bisa melihat sendiri untuk identitasnya dari data yang didapat," Jeff menjelaskan pada Armando yang sedang fokus membaca identitas Fiona hingga alisnya seolah akan menyatu.
Berarti benar apa yang disampaikan Fiona dalam surat yang dikirimnya di alamat penthouse mereka yang lama. Setidaknya, Armando bisa mengonfirmasi kebenaran dari sebagian isinya lewat data yang diberi Jeff.
"Lalu?" tanya Armando mengangkat kepala memandang Jeff.
Pria bertubuh gempal itu mencondongkan badan, membuka sebuah file baru di iPad-nya tanpa mengambil iPad itu dari tangan Armando. File baru yang dibukanya merupakan foto tangkapan layar CCTV yang diminta Armando untuk ia cari. Bukan hanya mendapatkan tangkapan layar itu, Jeff juga mendapat informasi siapa yang mengantarkannya sampai diterima concierge penthouse.
"Namanya Brandon Wilson. Dia adalah adik dari Fiona Wilson yang bekerja di sebuah bank swasta cabang wilayah Westchester County. Keduanya tidak ada riwayat kriminal, bahkan sewaktu menyerahkan paket itu Brandon Wilson mau mengikuti aturan untuk menunjukkan identitas. Bank swasta tempat Brandon Wilson bekerja pernah punya kerjasama dengan perusahaan ini, jadi sepertinya akan mudah untuk menulusuri lebih jauh atau mungkin meminta Brandon Wilson untuk datang menghadap kemari."
Armando menganggukkan kepala. Mengetahui bahwa penulis surat dan pengirim paket itu masih ada relasi yang sepertinya tidak mencurigakan dan masih masuk akal, Armando dibuat lega. Dengan begitu, ia tidak perlu mengkhawatirkan kemungkinan bahaya mengancam keluarganya. Ia merasa tidak ada perlunya untuk meminta bertemu dengan Brandon Wilson untuk menanyakan lebih jauh tentang itu.
"Selain itu..."
"Ada lagi?" potong Armando.
Jeff menganggukkan kepalanya sebelum kembali melanjutkan ucapannya, "Selain itu, Karen Clark memang benar ada di data penghuni penjara di lembaga pemasyarakatan tempat Fiona bekerja."
Lagi-lagi data informasi dari Jeff mengonfirmasi kebenaran isi surat yang dikirim Fiona.
"Apa ia juga pasien di rumah sakit yang disebut di surat?" tanya Armando dibalas anggukan dari Jeff membenarkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
call me daddy [completed]
Romantiek[mature and explicit content, 18+] Berawal dari usaha menyambung hidup untuk anaknya, Rosaline berakhir menjadi pemuas nafsu atasannya sendiri.
![call me daddy [completed]](https://img.wattpad.com/cover/236253324-64-k670771.jpg)