dua puluh lima

11.1K 295 22
                                        

"Kalau ada apa-apa, segera hubungi aku," kata Armando.

Rose mengangguk.

"Harus berapa kali aku mendengarmu mengatakan itu dan menjawabnya dengan kata iya?" balas Rose dengan tawa kecil tanpa arti.

"Sampai aku bisa memastikan kamu berada di tempat yang aman. Di tempatku. Bukan di sini."

Armando nampak serius sewaktu mengatakannya. Tidak terdengar nada bergurau, pandangan matanya pun tersorot menatap mata Rose lekat-lekat.

"Aku aman di sini, Ar. Kamu akan jadi orang pertama yang tahu jika terjadi apa-apa padaku atau Nate. Tapi aku berani pastikan semua kekhawatiranmu itu tidak akan terjadi."

Rose memberi tatapan penuh keyakinan, membuat Armando mau tidak mau berhenti mengungkapkan kekhawatirannya dan memaksa Rose menuruti maunya. Lagipula, ia sudah tahu itu takkan berhasil. Maka ia memilih mengalah dan pulang meninggalkan Rose berdua dengan Nate saja.

Pintu unit apartemen Rose ditutup dari luar oleh Armando yang baru saja keluar. Dari jendela kecil di ruangan tempatnya dan Nate tinggal, langit tampak sudah tidak segelap malam meski belum seterang siang.

Armando memang biasa pulang dan kembali ke penthouse miliknya sebelum matahari terbit sepenuhnya. Jarak apartemen Rose menuju penthouse Armando cukup jauh, Armando juga perlu waktu untuk bersiap menuju kantor dan memastikan ia tidak terjebak di kemacetan morning rush New York yang kerap kali membuat kepala rasanya ingin pecah.

Sepulangnya Armando, biasanya Rose akan kembali tidur selama Nate masih lelap. Ia melirik ke arah boks bayi di samping ranjang. Bayi tampannya itu masih pulas tertidur setelah bangun menyusu satu jam lalu. Rose merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Pikirannya memaksa ia untuk kembali memutar kejadian semalam. 

Ia bersusah payah untuk tidak mengingat detail dan menghentikan ingatannya pada momen tertentu kemudian menghapus beberapa yang ia anggap tidak perlu mendiami laci memorinya untuk waktu lama. Masalahnya, semua tentang Armando tanpa sadar menempati ruang khusus dalam hati dan memori, yang entah sejak kapan sudah ada di sana. Semua seolah rapi tertata.

"Can I kiss you?"

Suara berat itu bertanya tanpa terdengar ragu. Seolah Rose akan dengan senang hati mengatakan "Ya!" atau "Tentu saja!" dan sudah seharusnya memang Rose tidak merespon begitu. Sebesar apapun keinginan Rose untuk merespon demikian.

Di tengah kemelut perasaannya sendiri yang masih ragu pada apa yang mulai tumbuh di hatinya untuk Armando, dan apa yang disampaikan Armando yang hingga kini masih menghantui pikiran, semestinya ia menolak tegas. "No, Ar!" atau jika itu terdengar terlalu kasar, ia bisa menggelengkan kepala dan menatap tajam supaya Armando bisa menangkap bahwa ia tidak sedang bergurau.

Namun yang terjadi justru Armando perlahan bangkit berdiri, mencondongkan badannya ke arah Rose yang masih terduduk. Ia mendekatkan wajahnya, mengusap bibir Rose dengan bibirnya sendiri. Bibir mereka bertaut. Bukan karena Armando kurang ajar sebab tidak menunggu persetujuan Rose, melainkan karena anggukan kecil kepala Rose menjadi jawaban yang ditunggu Armando dari pertanyaan singkatnya itu.

Sejak sehari sebelum Nate lahir, ini kali pertama bibir mereka kembali bertemu. Armando tentu tidak mau menyiakan kesempatan itu. Begitu pula Rose yang merindukan sentuhan Armando menyentuh tubuhnya, meski tentu ia tahu betul ia akan menyesali keputusannya.

Armando mampu mengetahui titik-titik tubuh Rose untuk ia sentuh. Bukan persoalan sulit bagi Armando untuk membuat Rose mengeluarkan desahan kenikmatan.

Tangan Armando menangkup lembut rahang Rose, ibu jarinya mengusap menyapu daun telinga yang kemudian memerah itu. Lidahnya beradu membuka bibir Rose lebih lebar. Rose terengah namun Armando dibuat kalap menguasai permainan, tidak memberikan jeda untuk Rose mengatur napas. Rose hanya bisa pasrah. Tangannya berpegangan pada kain kemeja yang Armando kenakan.

call me daddy [completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang