Ia baru menyadari cangkir putih yang diletakkan di atas mejanya itu sudah tidak berisi lagi ketika hendak menyeruput kopi hitam pesanannya. Tangannya hampir bergerak menekan tombol di telepon meja untuk memanggil asisten pribadinya sebelum kemudian tersadar. Asisten pribadinya itu sudah berpamitan pulang sekitar dua jam lalu. Di ruangan besar miliknya hanya ada dirinya dan sopir pribadinya yang sedang tiduran di sofa sambil memainkan gawai.
Kantor sudah semestinya tutup sejak pukul 6 sore. Namun Armando berencana menyelesaikan pekerjaan yang sempat ia tunda selama ia di Honolulu sehingga security menunda menutup dan mengunci gedung sampai ia selesai. Jeff juga terpaksa pulang lebih larut. Tentu saja Jeff sama sekali tidak keberatan, toh dia tidak ada kepentingan lain selain mengikuti Armando kemana saja bosnya itu pergi.
Sebagai asisten pribadi, Rose menawarkan diri untuk membantu sebisanya dan ikut kerja overtime. Armando meyakinkan asistennya itu bahwa apa yang sedang ia kerjakan cukup mampu untuk ia selesaikan sendiri tanpa bantuan Rose. Lagipula Rose sudah membantu mengatur dan menunjukkan tempat dokumen-dokumen yang sekiranya dibutuhkan Armando. Tanpa disuruh lagi, Rose membawakannya kopi hitam sebelum kemudian izin pamit pulang lebih dulu.
"Baiklah. Terima kasih, Rose. Hati-hati," katanya membalas permohonan izin yang disampaikan Rose.
Ia mengatakannya tanpa mengalihkan netranya dari kertas-kertas di hadapan sebelum menggerakkan jemarinya di tablet dan komputer pangku di atas meja kerja. Besok ada rapat dengan jajaran direktur membahas rencana perusahaan dalam waktu dekat serta membahas pencapaian perusahaan dalam selang waktu sejak rapat terakhir. Tengah tahun dan akhir tahun, Armando selalu disibukkan dengan mempersiapkan materi untuk disampaikan di rapat penting ini.
Sama seperti Rose, ia baru mendarat di kota New York pukul 4 pagi dan tiba di tempat tinggalnya di kawasan Fifth Avenue sebelum jam 6. Sementara matahari muncul, Armando memilih menutup matanya setiba di penthouse dan menghabiskan dua jam untuk tidur sebelum terbangunkan oleh alarm yang ia atur sendiri.
Selelah apapun dan seterlambat apapun, Armando tidak akan pernah cukup tidak tahu malu untuk datang ke kantor dalam keadaan belum mandi. Ia harus mengakui bahwa ada rasa senang dalam hatinya tiap kali mencuri dengar perempuan-perempuan berbisik membicarakan betapa wangi ia setiap kali ia berjalan melewati mereka. Salahkan Appa yang sudah menanamkan dari ia kecil bahwa wangi, rapi, dan bersih bisa memunculkan kesan pertama yang baik, juga bisa membantu meningkatkan kepercayaan diri.
Namun kali ini, tidak demikian.
Armando duduk di kursi di balik meja kerjanya. Jas hitam yang ia kenakan hari ini sudah ia tanggalkan sejak sore, menyisakan kemeja hitam yang lengannya sudah ia gulung sampai siku. Rambutnya sudah tidak tertata rapi. Ia punya kebiasaan menarik dan menyisirkan jemari tangannya pada rambutnya sendiri tiap kali fokus berpikir.
Dari jendela kaca yang setinggi lantai sampai langit-langit dan selebar satu sisi ruangan yang ia punggungi, cahaya dari lampu gedung-gedung pencakar langit dapat terlihat. Karena letak ruang kerja Armando berada di lantai tertinggi di gedung perusahaannya, ia juga bisa melihat keramaian jalanan New York dari atas. Sayangnya, ia sudah bosan dengan pemandangan yang sudah menjadi suguhan untuknya sejak ia disahkan menjabat sebagai CEO.
Armando menghela napas dan mengerang. Ia menyandarkan punggungnya. Tangannya bergerak mengusap wajahnya beberapa kali sebelum bergerak menyibak rambutnya ke belakang.
Pekerjaan yang harus ia selesaikan masih tinggal sedikit. Ia bisa saja segera menyelesaikannya, kemudian pulang. Sayangnya, kepalanya terasa berat. Beberapa kali ia memijat pelipisnya, berharap itu cukup menghilangkan pening yang dirasa.
"Masih lama, Bos?"
Kepalanya menoleh pada sumber suara. Jeff masih pada posisi yang sama dengan sewaktu Armando melihatnya beberapa waktu lalu. Masih dengan gawai miliknya di tangan, membuka entah aplikasi apa, dan terfokus melihat ke arah layar.
KAMU SEDANG MEMBACA
call me daddy [completed]
Romance[mature and explicit content, 18+] Berawal dari usaha menyambung hidup untuk anaknya, Rosaline berakhir menjadi pemuas nafsu atasannya sendiri.
![call me daddy [completed]](https://img.wattpad.com/cover/236253324-64-k670771.jpg)