Chapter 17: Ragu-Ragu - Hari Kedua

238 21 31
                                        

Jennie berdiri di ambang pintu sembari menatap nanar kamar kosong yang semula di tempati Junkyu. Rasanya seperti ada bagian yang hilang setelah laki-laki itu dijemput paksa oleh kedua orang tuanya beberapa hari lalu. Seandainya saja makhluk Tuhan paling menggemaskan itu masih ada di sini pasti mood Jennie bisa sedikit lebih baik.

''Jen, cepet turun, sarapannya udah siap!''

Jennie menutup pintu secara perlahan ketika mendengar teriakan sang ibu.

''Morning, Ma!'' sapa Jennie setibanya di ruang makan.

''Morning, Sayang. Sarapan gih mumpung supnya masih anget,'' kata mama Jennie sembari mengulurkan segelas susu putih yang baru saja selesai diaduk untuk putri tercinta.

Jennie mulai menyantap masakan ibunya.

Yummy.

''Mama nggak sarapan?''

''Nanti aja, Mama masih sibuk.''

Sembari mengunyah, Jennie memperhatikan setiap gerak-gerik yang dilakukan ibunya. Mata yang fokus pada layar laptop, jari-jari yang berlarian di atas keyboard, mulut yang berkomat-kamit membaca mantra, eh, data. Huh, sibuk sekali.

Dan sesibuk-sibuknya sang ibu dengan urusan kantor, beliau masih sempat memasak, membereskan pekerjaan rumah, dan masih bersedia direpotkan dengan rengekan anak remajanya ini, siapa lagi kalau bukan Jennie.

Jennie kagum. Akahkah kelak dia setangguh itu?

Entahlah, baru melihat keluarga Hyunsuk dan keluarga Jisoo makan malam bersama saja psikis-nya sudah porak-poranda.

''Mama hebat, deh. Meskipun berstatus single mother, tapi Mama bisa sekuat ini. Jennie jadi terinspirasi.''

''Terinspirasi jadi single mother?''

Senyum tulus Jennie seketika luntur. ''Ck, si Mama ih, bukan gituuuuu!''

Sang ibu terkikik geli. ''Ngomong-ngomong, gimana kencanmu semalem, seru?''

''Kencan apaan, sih, Ma. Jennie cuma jalan-jalan biasa.''

''Masa?''

''Beneran, Ma.''

''Kencan juga nggak apa-apa, Jen. Jihoon ganteng, kamu cantik. Pas.''

''Main pas-pas aja, belum juga tau aslinya Jihoon kayak apa.''

''Buaya, kan? Terus apa lagi, mesum?''

Jennie melongo. ''Kok, Mama tau?''

''Mama pernah muda, Jen. Cowok-cowok model begitu mah udah kebaca ... tapi Mama yakin Jihoon aslinya anak baik.''

''Widih, kayak peramal aja si Mama, sok tau kepribadian orang.''

''Pegang kata-kata Mama, sebentar lagi kamu bakal melihat sisi lembut yang Jihoon punya. Dan itu adalah kepribadian dia yang sebenernya.''

Jennie tampak meremehkan ucapan ibunya.

''Udah cepetan tuh habisin sarapannya.'' Sang ibu kembali fokus pada laptopnya.

''Kalo Hyunsuk aslinya gimana?'' celetuk Jennie.

Beliau terjeda sejenak. ''Nggak bisa diterawang, dia terlalu abstrak.''

Jennie tertawa. Mengobrol dengan sang ibu juga salah satu alternatif untuk kembali menaikkan mood-nya. Ya, lumayanlah.

Waktu sarapan berlalu. Setelah berpamitan, Jennie bergegas keluar rumah. Jihoon sudah menunggu.

''Selamat pagi, Tuan Putri! Apakah kamu tidur nyenyak semalam?'' sapa Jihoon ketika Jennie memasuki mobilnya.

''Halah nggak usah basa-basi, buruan berangkat tar telat!''

YOUNGBLOODCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang