''Bentar lagi ujian, tapi kita masih gini-gini aja,'' celetuk Lisa disela mengunyah kentang goreng.
''Kita udah ketinggalan banyak materi pelajaran gara-gara bolos mulu. Gue nggak bisa bayangin sejelek apa nilai gue nanti,'' kata Rose.
''Jangan pesimis, guys. Masih ada waktu buat belajar. Tar kita pinjem buku catatan murid-murid pintar,'' timpal Jennie, santai.
''Murid pintar mana yang lu maksud?'' tanya Lisa.
''Siapa lagi kalo bukan peringkat tiga teratas di kelas kita. Asahi, Yoshi, Doyoung.''
Lisa menggeleng. ''Gue males banget berurusan sama makhluk-makhluk itu, terutama si Yoshi, pelit soalnya.''
Rose mengangguk, setuju. ''Bener kata Lisa. Kalaupun lu dipinjemin, pasti banyak aturan. Harus dibalikin sebelum 24 jam, nggak boleh sobek, nggak boleh kotor, nggak boleh dicoret, dan masih banyak lagi. Itu pengalaman gue pas pinjem buku Doyoung di awal semester satu.''
''Kalo gitu kita pinjem ke Asahi.''
''Nggak akan dikasih. Mereka bertiga tuh 11-12, Jen,'' kata Rose.
''Dicoba aja dulu sambil dirayu dikit-dikit.''
''Nggak akan mempan. Cowok kek Asahi tuh nggak doyan sama rayuan. Yang ada dia malah jijik,'' balas Rose.
''Tapi nggak ada salahnya buat dicoba dulu, kan?'' keukeuh Jennie.
''Ya udah, tar lu cobain aja sendiri,'' kata Lisa, menengahi.
''Oke, nggak masalah. Gue jamin usaha gue nggak akan sia-sia,'' ucap Jennie, percaya diri. ''Jangankan dapetin bukunya, dapetin orangnya aja gue bisa.''
''Nggak usah sok-sokan, anjing, hubungan lu sama Hyunsuk aja nggak jelas,'' cibir Rose.
Mata Jennie melotot. Dia ingin membantah, tapi tidak bisa. Kenyataannya memang seperti itu.
''Ngomong-ngomong masalah hubungan, gue punya pertanyaan buat lu,'' kata Lisa sambil menatap Rose.
''Apa?''
''Kenapa akhir-akhir ini lu udah nggak pernah bucin ke Junghwan dan cenderung jaga jarak?''
Rose terdiam sejenak. ''Eum, gue lagi males aja sama dia.''
''Males kenapa?'' cecar Lisa.
''Ya males aja.''
Lisa dan Jennie kompak menatap tajam Rose seakan mendesak sahabatnya itu untuk berkata jujur.
Rose menghela napas, pasrah. ''Gue lagi ada masalah kecil sama Junghwan.''
''Yakin cuma masalah kecil?'' tanya Jennie, curiga.
Rose mengangguk. Dia terpaksa berbohong. Cukup Jeongwoo saja yang tahu.
-
Junghwan menggebrak meja lalu mengacak-acak rambutnya sendiri karena frustrasi. Sudah berulang kali dia mengirim pesan pada Rose, tapi gadis itu tak kunjung membalas.
''Kenapa lagi, sih?'' tanya Jihoon.
''Nomor gue malah diblokir, anjing.''
Haruto menyambar handphone Junghwan. ''Pantesan diblokir. Siapa suruh lu spam chat, dipikir nggak ganggu apa?''
''Lagian repot amat pake chat segala. Kita, kan, satu gedung, samperin kek,'' usul Jihoon.
''Gue males berhadapan sama temen-temennya,'' kata Junghwan.
Haruto mencibir. ''Halah, bilang aja lu takut sama Jeongwoo. Dasar cemen!''
''Nggak usah ngatain gue cemen, anjing. Gue cuma jaga diri biar nggak babak belur lagi,'' balas Junghwan, sensi.
KAMU SEDANG MEMBACA
YOUNGBLOOD
FanfictionIni adalah cerita remaja tentang bagaimana mereka menjalani kehidupan sehari-hari yang tak lepas dari cinta, persahabatan, pertarungan, dan kenakalan. Treasure x Blackpink ⚠️ Murni imajinasi ⚠️ Tidak bermaksud merendahkan pihak mana pun Luv, matcha_...
