Hyunsuk keluar dari rumah dengan langkah gontai.
''Suram banget tuh muka, kalah sama sinar matahari!'' goda Jeongwoo.
''Ck, kang ojek jangan bawel!'' timpal Hyunsuk, kesal.
''Dih, sensi!'' balas Jeongwoo sembari tertawa kecil.
Pagi ini Jeongwoo bertugas menjemput Hyunsuk untuk berangkat sekolah bersama. Kenapa? Karena motornya disita mama.
Saat Jeongwoo hendak menyalakan mesin motor, seorang wanita paruh baya keluar dari rumah dan berkata, ''Suk, inget pesen Mama!''
''Iya, Mama sayang!''
''Apa coba, ulangi?!''
Hyunsuk menghela nafas. ''Nggak boleh berantem!''
Sang ibu melanjutkan, ''Bagus. Kalo kamu melanggar apa konsekuensinya?''
''Mobil sama motor dijual. Uang jajan dipotong!''
''Satu lagi?''
''Gantiin tugas Mbak bersih-bersih rumah selama satu bulan,'' lirih Hyunsuk. Gila, harga diri, bro! Kenapa harus di depan Jeongwoo, sih!
Jeongwoo hampir meledakkan tawa ketika mendengar jawaban Hyunsuk. Si garang satu ini ternyata ciut di depan ibunya.
''Ya udah pergi sana! Awas aja kalo sampe Mama dapet panggilan lagi dari sekolah!''
Setelah mama masuk rumah, barulah Hyunsuk dan Jeongwoo berangkat. Tak lupa, Jeongwoo mengejek Hyunsuk sepanjang perjalanan.
Sementara itu, di rumah Jihoon, suasana meja makan tampak membosankan, seperti yang biasa Jihoon rasakan.
''Nanti siang mau dimasakin apa, Hoon?'' tanya lembut seorang wanita cantik yang duduk di samping ayahnya.
''Nggak perlu. Gue juga nggak kepikiran bakal makan siang di rumah!'' ketus Jihoon.
''Jihoon, sudah berapa kali Ayah peringatkan agar kamu bersikap sopan pada Ibumu!'' sergah sang ayah.
''Ibu?'' desis Jihoon sembari tersenyum miring. ''Ibu Jihoon udah meninggal. Wanita ini ... dia cuma istri Ayah dan nggak akan berarti apa-apa di hidup Jihoon!''
Sang ayah sudah siap memukul kepala Jihoon kalau saja tidak dicegah oleh wanita di sampingnya.
''Jangan, sayang! Kamu harus paham, memang nggak mudah buat Jihoon bisa nerima aku!''
Jihoon sudah muak melihat drama ini setiap kali dia dan sang Ayah berdebat. Pergi adalah solusi.
''Mau sampai kapan kamu menoleransi hal ini? Lihat, dia pergi tanpa berpamitan! Anak itu semakin kurang ajar!'' kesal sang ayah.
Sayup-sayup Jihoon mendengar ucapan sang ayah. Dia tidak peduli.
Sedikit kilas balik. Dulu, Jihoon adalah anak yang baik, ceria, sopan, dan penurut. Namun, semua itu berubah sejak ibunya meninggal, kurang lebih tiga tahun yang lalu. Jihoon menjadi anak pendiam dan sulit diajak berkomunikasi. Kepergian sang ibu yang mendadak benar-benar mengguncang mentalnya. Puncak yang merubah segalanya adalah ketika sang Ayah berkata akan menikah lagi.
Jelas Jihoon tidak setuju.
Dia mempertanyakan cinta sang ayah pada ibunya. Jihoon kira keluarga mereka sangat harmonis. Punya ayah dan ibu yang saling mencintai dan mereka berdua menyayangi Jihoon. Tetapi, apakah itu benar?
Kalau ayah mencintai ibu, kenapa dia menikah dengan wanita lain selang tiga minggu setelah ibu meninggal?
Kalau ayah menyayangi Jihoon, kenapa dia tidak memperdulikan betapa hancurnya hati Jihoon saat kehilangan sang ibu? Dia malah sibuk menggandeng wanita baru.
KAMU SEDANG MEMBACA
YOUNGBLOOD
أدب الهواةIni adalah cerita remaja tentang bagaimana mereka menjalani kehidupan sehari-hari yang tak lepas dari cinta, persahabatan, pertarungan, dan kenakalan. Treasure x Blackpink ⚠️ Murni imajinasi ⚠️ Tidak bermaksud merendahkan pihak mana pun Luv, matcha_...
