بِسْــــــــــــــــــمِاللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Yang kita tahu adalah saat ini. Kejadian yang akan datang entah itu membawa dampak baik atau buruk, kita tidak tahu. Hanya Allah yang mengetahui masa depan.
🍁🍁
"Ta-pi kenapa, Pak? Apa saya melakukan kesalahan?" tanya Shafiya dengan suara bergetar. Padahal, baru saja beberapa menit lalu dia bahagia atas kelahiran adik keduanya, kini sudah dipatahkan dengan kabar pemecatannya ini.
Pak Guntur menggeleng. "Bukan, bukan itu. Pemegang saham tertinggi atas Restoran ini akan mengubah Restoran sunda ini menjadi Restoran internasional dan hanya akan mempekerjakan Karyawan yang pendidikannya di atas SMA. Jadi ...."
Shafiya lemas. Tatapannya menunduk. Kalau sudah menyinggung soal pendidikan, dia memang akan kalah. Seharusnya dia tahu diri sejak awal.
"Saya paham, Pak. Kalau begitu, saya mau berterima kasih pada Bapak atas kebaikan Bapak selama ini kepada saya. Restoran ini sudah banyak membantu kehidupan saya menjadi lebih baik."
Pak Guntur mengangguk. "Kamu pasti bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik lagi, Shafiya."
"Aamiin ... kalau begitu, saya pamit, Pak. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Shafiya beranjak dan hendak pergi. Namun, saat dirinya sampai di depan pintu, Pak Guntur kembali memanggilnya. Pak Guntur memberikan sebuah amplop coklat yang berisikan sejumlah uang. Walaupun pihak perusahaan akan memberi uang pesangon, namun terkhusus Shafiya Pak Guntur ingin juga memberikan gadis itu secara pribadi.
"Tapi, Pak. Apa ini nggak berlebihan?" tanya Shafiya. Dia ragu menerima uang itu.
Pak Guntur tersenyum. "Itu adalah rezeki kamu yang lain dari Allah, Shafiya."
Shafiya ingin menangis rasanya. Betapa beruntungnya dia memiliki atasan sebaik Pak Guntur.
"Terima kasih banyak, Pak."
Pak Guntur mengangguk.
•••
Tidak ada yang abadi di dunia ini. Semua yang kita miliki suatu saat akan pergi. Pada hakikatnya, apa yang kita punya itu semua merupakan titipan Allah. Jika Dia hendak mengambilnya kembali, kita tidak bisa berbuat apa-apa selain bertawakal dan terus berprasangka baik pada-Nya.
Maya menangis tersedu-sedu. Hari ini Shafiya akan pulang. Bukan untuk kembali, tetapi untuk menetap di sana. Sedih rasanya setelah bertahun-tahun dia bersama gadis itu dan sudah menganggapnya layaknya seorang adik.
"Pokoknya kamu jangan lupain aku di sini ya, Shaf. Kalau udah sampai sana, kamu harus kabarin aku."
Shafiya tersenyum simpul. Masalahnya kalimat itu sudah Maya katakan berulang kali. Begitu banyak wanita itu berjasa padanya, kalau bukan karena Maya, Shafiya tidak akan punya teman dekat di tempat kerja.
"Iya. Kak Maya jaga diri baik-baik di sini, ya? Aku pasti bakal kangen banget sama Kakak."
"Aku juga. Suatu saat aku akan berkunjung ke tempat kamu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Munajat Cinta Shafiya[END]
Ficción General[Spiritual-Sad-Romance] •• Ditinggalkan ayah kandungnya tanpa sebuah alasan dan menjalani kehidupan baru dengan ayah sambungnya rupanya tak membuat penderitaan dan kesedihan yang dialami Shafiya berhenti. Hal buruk yang merusak mental dan jiwanya ba...
![Munajat Cinta Shafiya[END]](https://img.wattpad.com/cover/345133966-64-k833320.jpg)