16

20.1K 1.7K 299
                                        

Dilarang keras untuk melakukan plagiasi pada cerita ini.
-
Vote + comment😡🫵🏻
-
2,1k words

 ⚠-Vote + comment😡🫵🏻-2,1k words

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Senang bertemu denganmu, mate

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Senang bertemu denganmu, mate."

Jemari lentik Weena tetap berusaha melepaskan tali yang melilit di tangan Jion, wajahnya bersemu ketika sepenggal kata 'mate yang Jion ucapkan.

Sampai tali itu berhasil dilonggarkan, Jion langsung mengebas tangannya. Memar tertinggal disana, cukup parah karena sebelumnya ia melakukan pergerakan yang lasak.

"Itu sakit?" Weena bertanya begitu polos.

"Aku punya salep untuk memar seperti itu." Lanjutnya, tanpa menunggu jawaban Jion.

Jion diam melihat wanita yang lebih kecil darinya sedang merogoh sakunya, seakan mencari suatu barang. Hingga ia mendapatkannya, dan mengeluarkan salep yang ia maksud.

Weena menatap ragu pada Jion.

"Boleh." Ujar Jion, sadar Weena menatapnya ragu apakah boleh menyentuhnya untuk mengoleskan salep itu pada memarnya.

Maka, Weena bergeraklah jemarinya mengambil kedua lengan Jion meletakkannya pada pangkuannya, jari telunjuk mengambil sedikit salep dan mengoleskannya pada luka itu.

Jion sedikit meringis, ternyata bukan hanya memar, ada sedikit kulitnya yang terkelupas disana hingga membuatnya perih ketika bersentuhan dengan salep itu.

"Maaf! Apa itu sakit?" Panik Weena, ia menarik tangannya.

"Tidak." Jawabn Jion spontan. Ini sangat canggung.

Tapi tak apa, takdir menyatukan mereka. Lambat laun kecanggungan akan pupus dari mereka.

Detik berlalu, sesi pengobatan itu sudah selesai.

OmegamdeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang