🚫 𝐃𝐨𝐧'𝐭 𝐩𝐥𝐚𝐠𝐢𝐚𝐫𝐢𝐳𝐞 𝐭𝐡𝐢𝐬 𝐰𝐨𝐫𝐤𝐬.
Sungjake | ABO | Enigma x Alpha.
Takdir.
Takdirnya diubah oleh dia yang memiliki kuasa, lika-liku kehidupannya dipaksa berbeda.
Ini kisah seorang Alpha yang bertemu dominannya, seorang Enigma.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jion melirik pada nampan yang terletak diatas nakas. Perutnya sudah berbunyi keroncongan sedari siang tadi, namun ia enggan menyentuh makanan itu.
"Kau pikir aku akan memakannya, hah!? Tidak sialan!" Ocehnya berbanding terbalik dengan tubuhnya sudah ribut ingin diberi asupan.
"Kau kira aku akan diam saja begini, hah!? Shan keparat!? Sialan aku membencimu, bodoh!"
Kemudian, wajahnya tiba-tiba memurung, "Weena... Apa dia baik-baik saja?"
"SIALAN SHAN AKU MEMBENCIMU, BRENGSEK." Ia kembali lagi menggebu.
Dengan emosi yang membara, Jion menyingkirkan selimut dari tubuhnya. Dan menurunkan perlahan kakinya untuk menyentuh lantai, tentu ia meringis melakukan pergerakan itu.
"SHAN AKU AKAN MEMBUNUHMU, BANGSAT!" Histerisnya marah untuk kesekian kalinya. Kali ini, sebabnya karena sekujur kakinya mulai dari paha hingga ujung kaki tertinggal noda kemerahan disana, kebetulan ia menggunakan celana pendek yang mengekspos sebagian kaki jenjangnya.
Mengabaikan rasa sakit, Jion mencoba berdiri untuk keluar dari kamar itu. Namun, apa yang terjadi selanjutnya adalah raungan kesakitan kembali terdengar bersamaan dengan tubuhnya yang ambruk menghantam lantai yang menambah rasa sakitnya.
"Sakit..." Ringisnya yang sudah terduduk dilantai dingin.
Sampai terdengar pintu terbuka, menampilkam Shan yang langsung menatapnya yang tengah terduduk dilantai.
Lalu mata itu bergulir pada nampan makanan yang sama sekali tak tersentuh, dan kembali lagi menatap Jion.
"Kau belum makan apapun. Kau tau itu."
Jion memasang wajah tak sukanya, "Apa urusannya denganmu!?"
Shan berjalan mendekat hingga ia tepat berada dihadapan Jion, lalu berjongkok menyamakan tinggi tubuhnya dengan Jion. "Kenapa kau duduk dilantai? Lantai ini menyentuh kulitmu."