🚫 𝐃𝐨𝐧'𝐭 𝐩𝐥𝐚𝐠𝐢𝐚𝐫𝐢𝐳𝐞 𝐭𝐡𝐢𝐬 𝐰𝐨𝐫𝐤𝐬.
Sungjake | ABO | Enigma x Alpha.
Takdir.
Takdirnya diubah oleh dia yang memiliki kuasa, lika-liku kehidupannya dipaksa berbeda.
Ini kisah seorang Alpha yang bertemu dominannya, seorang Enigma.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jion terus menjalani hari dengan penyangkalannya, hingga hari yang berlalu menjadi sebulan setelah hari dimana ia berkali-kali menguji test pack.
Silau.
Matanya terpejam erat kala silaunya cahaya dari nuansa putih dihadapannya, 'Lagi. Seperti ini.'
Seminggu belakangan ini, ia akan bermimpi berdiri ditempat serba putih. Jion melangkah tak tau arah, walaupun sempat membuatnya kesilauan tak ia pungkiri ini tempat yang nyaman disaat bunga tidurnya.
'Ini,' Jion hanya berbicara sendiri pada benaknya kala mendapati gelembung yang hendak menghampirinya.
'Ada lagi.'
Dan juga gelembung ini selalu menghampirinya setiap kali ia di tempat nuansa putih itu. 'Kau ini apa?' Tanyanya seraya memberi telapak tangannya untuk gelembung itu bersinggah, rasanya hangat dalam artian menenangkan. Buktinya si surai pirang itu tidak mencak seperti biasanya.
Jion mengerjapkan matanya ketika rasa gelembung itu bereaksi, hingga,
'Sh-Sh...'
"SHAN!?"
Jion tergelak bangun dari lelapnya, dadanya naik turun. "Sial. Aku mimpi buruk lagi." Umpatnya. Bunga tidurnya berakhir dengan wajah Shan yang tiba-tiba muncul.
Sedangkan di sisi lain ada Nicho yang baru saja tiba dan melepaskan sepatunya, wajahnya memandang jengah pada Jion, "Lebih baik kau temui tuan Shan Park itu. Ini bukan pertama kalinya kau mengigau memanggil namanya." Malasnya, seraya mengambil cola di kulkas.
"Itu mimpi buruk, bukan sekedar mengigau."
Nicho menghela nafasnya, malas menanggapi. "Seminggu lagi, pre-rut kutiba. Terserah ingin menetap disini atau tidak." Tuturnya tiba-tiba.
Benak Jion seketika tersadar akan sesuatu, "Tanggal berapa sekarang? Apa sudah masuk tengah bulan?"
"Tanggal 15, kau pikir saja sendiri sudah tengah bulan atau belum."
Ini sudah tengah bulan.Jion mengernyit bingung, "Seharusnya sekarang pre-rut ku tiba."
"Kutebak kau sudah terikat dengannya, kan?" Tuduh Nicho langsung, setelah ia muak dengan kejanggalan yang terjadi pada Jion. Mulai dari dirinya repot-repot menjauh dari Shan, selalu muntah di pagi hari, saat hari mereka bertemu banyak tanda di tengkuknya, dan juga fisik Jion.
"Itu tidak mung-!?" Omongan Jion mendadak tersendat dengan mata yang melebar, "ARGH!!" Gaduhnya kemudian merasa sakit luar biasa pada perutnya.
Nicho cekat mendekati Jion. "Kenapa?", wajah Jion tertera sekali ia merasa sakit, bahkan pria itu sampai berkeringat.
Mengabaikan kekhawatiran Nicho, Jion meringkuk hingga tubuhnya terlihat kecil, bibirnya terbata ingin memanggil nama seseorang namun tak sanggup, hingga yang keluar hanya lenguhan ringis
"Kita kerumah sakit."
Jion sedikit mengangkat wajahnya, menatap Nicho dengan tatapannya yang sedang merasakan sakit, dan kata yang keluar dari mulut pria itu berhasil membuat Nicho semakin yakin dengan dugaannya.
"Sakit, Shan..."
- Omegamde -
Ia selalu menyangkal segala hal yang tak ingin terjadi pada dirinya. Menyangkal sesuatu yang ada di dirinya, takdir barunya. Namun, tanda terikat yang menjalin takdirnya tak akan pernah luput.
Selama dirinya menumpang di unit apartemen milik Nicho, ia setiap malam akan meringkuk dalam selimut, karena sisi di dalam dirinya merindukan akan sesuatu. Ia tau itu apa, namun ia menyangkalnya. Terus menyangkal hingga mengalami kesulitan sendiri pada pikirannya,
dan ini hasil dari keras kepalanya itu,
"Usia kandungan anda 1 bulan, tapi ini sama sekali tak kelihatan." Jelas dokter seraya transducer digenggamannya mengitari perut rata Jion.
Arah pandangan wanita berjas putih itu pada monitor yang menampilkan gambar yang terekam oleh transducer, berbeda dengan Jion yang menjadi objek pemeriksaannya. Ia lebih memilih memandang arah lain, tak ingin tau. Dan tentu di dalam hatinya ia menyumpah serapahi Nicho yang membawanya kesini.
"Janin tau pikiran ibunya, jika anda menolak kehadirannya maka dia akan bersembunyi untuk mengabulkan pikiran ibunya yang tak mau kehadirannya,"
'Siapa yang dia bilang ibu?
"Tekanan darah anda rendah, anda terlihat banyak pikiran, hingga menjadi stres. Janin anda sangat rentan sekarang."
Jion segera duduk dan membenarkan bajunya saat dokter itu menjauhkan benda aneh pada perutnya. Sadar raut wajahnya terlihat aneh, dokter itu menghela nafasnya "Tolong jaga kesehatan, dan pikirkan janin yang anda kandung dan tolong lebih dekatlah dengan pasangan anda." . . Jion memandang linglung pada rintikan lebat dihadapannya, hujan deras melanda setelah ia usai diperiksa. Bukan hujan itu yang membuatnya linglung, melainkan hasil usg di genggamannya. Pikirannya berkecamuk, tapi ia tak tau sebabnya, ada rasa tak nyaman pada dirinya.
Ia setia berdiri disana, menunggu wajah Nicho muncul untuk menjemputnya.
"Jion."
Jion menoleh cepat kala pendengarannya menangkap suara yang begitu familiar, matanya langsung membola mendapati seseorang disana.
Panah nasib turun bersamaan dengan rinai hujan yang mempertemukan mereka kembali.
Tubuh Jion bereaksi, ia melangkah menggapai kerinduan yang sisi dirinya rasakan. Namun langkahnya itu dengan cepat berubah berbalik, ia berlari menjauh menerobos lebatnya hujan.
"Jangan berlari, Jion!" Suaranya teredam dengan lebatnya hujan.
Jion tak mendengarkannya, "Aku tidak..." Ia menoleh kebelakang, "AAAAA! JANGAN MENGEJARKU, SHAN!"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.