Ngebut nih biar bisa update malam ini
😭😭😭
Bantu tandain typo ya
Selamat membaca
🖤
.
.
.
Sudah 1 jam sejak pasien pekerja konstruksi dibawa ke ruang tindakan. Sesekali pintu terbuka, para perawat keluar masuk mengambil peralatan yang dibutuhkan.
Kay terduduk di lantai tak jauh dari ruangan itu. Wajahnya jelas memancarkan kecemasan, dengan seragam putih yang sudah dipenuhi noda merah darah.
"Kay," panggil Bu Mega. Kay menoleh, mendongak menatap atasannya yang kini sedang berdiri dengan amarah tertahan. "Cepat ikut saya."
Menurut, Kay berdiri mengikuti Bu Mega, tanpa sadar jika ia telah menjatuhkan sesuatu. Lalu tangan lain memungut sesuatu itu.
Sampai di dapur, dapat Kay lihat tatapan menyalahkan dari semua rekan kerjanya di sana. Kay menunduk, ia tahu ia salah. Ia tahu kecerobohannya mengakibatkan semua pekerja dapur mendapat teguran dari atasan, apalagi Bu Mega.
"Masalah ini sudah sampai di keluarga pasien. Kalau sampai pasien tadi mengalami luka serius dan tidak bisa kembali berjalan, rumah sakit pasti akan disalahkan. Dan kamu, Kay ... divisi dapur pasti- "
"Saya tau, Bu. Maaf sudah mengecewakan. Saya tidak akan melibatkan divisi dapur. Kalau harus dipecat, saya siap." potong Kay dengan tatap sungguh-sungguh.
"Dipecat sih belum seberapa. Kalo lo dikasuskan?" seloroh seorang koki wanita.
"Masih mending kalo cuma dia yang kena, lha kalo rumah sakit juga ikut keseret?" sahut lainnya.
"Mikir apa sih, Kay? Kerja dorong troli aja udah kayak dorong dunia, ya? Segitunya lo gak becus kerja?"
"Tau tuh, pas pertama kali dia ke sini nganterin pizanya Dokter Dirlan juga sampe nabrak pasien."
"Pernah juga hampir salah ngasih porsi makanan pasien." Vita, partner yang paling Kay percaya pun ikut menyudutkannya.
"Apa ini taktik lo, Kay? Cari perhatian Dokter Ken, ya?"
"Sudah, semuanya diam," Bu Mega bersuara rendah, namun sudah cukup menertibkan kegaduhan para pekerja dapur.
Tepat setelahnya, pintu dapur dibuka oleh Tiara. Dengan raut datar khasnya, ia berucap, "Bu Mega, boleh saya berbicara dengan Kay?"
●○●○●○●○●○
Entah ada fenomena alam apa sampai Tiara menemui Kay dan mengajaknya ke rooftop rumah sakit. Tiara bahkan memberi Kay sebotol air mineral dingin.
Cukup lama kedua perempuan itu hanya duduk dalam diam. Memandang jauh pada keramaian jalan raya di bawah sana.
"Pasien baik-baik saja," Tiara membuka obrolan.
Kay terkekeh sumbang sebelum meneguk airnya, "gak perlu ngehibur gue, Kak."
"Memang aku tipikal penghibur?"
Kay menoleh, ia beradu tatap dengan Tiara yang menatapnya tanpa dusta. "Kalo sembuh bisa jalan lagi? Gak cacat?"
Tiara membalas dengan anggukan. Rasa lega seketika memenuhi rongga dada Kay, tersalur pada seulas senyum di bibirnya.
"Ken dan Dirlan lagi di Jakarta menghadiri seminar."
Jujur, Kay tak paham maksud ucapan Tiara. Gadis itu mengerutkan kening bingung.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hai, Luka
Teen FictionKay sudah pernah bodoh dalam mencintai Ken. Mengejar, berkorban, banjir air mata, dikecewakan, dihempaskan harapan, dinomorduakan ... semua sudah Kay rasakan. Kay lelah, lalu Tuhan mengistirahatkannya dengan sebuah kecelakaan yang membuatnya terbari...
