Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan 1446 H.
Maafin aku yang udah lama ngilang
🙏😘
Selamat membaca ...
🪷🪷🪷
Dirlan masuk ke ruang perawatan Mikayla. Gadis itu masih sama, terbaring kaku di atas brankar. Hanya saja kini dengan mata terbuka.
Mata sipitnya bagai ruangan sempit yang kosong, gelap dan berdebu. Tidak menyambut siapa pun datang bertamu. Sama sekali matanya tak bergerak barang melirik saat mendengar derit pintu yang Dirlan buka.
Dia tidak peduli pada apa pun dan siapa pun. Tidak karena bahkan ia tidak mengenali dirinya sendiri.
Insiden dirinya terlempar keluar saat jatuhnya pesawat, terhantam batu pada kepalanya, dan ketidaksadaran sistem berpikirnya selama kurang lebih tujuh bulan, sukses membumihanguskan segala memorinya.
Memori baik dan memori buruk. Kenangan manis dan kenangan pahit. Semuanya seperti buku catatan yang terlempar ke dalam api menyala. Hangus hanya menyisakan abu.
Mikayla kembali membuka mata dengan kondisi persis seperti komputer usang yang baru saja dimulai ulang.
Segala sistem dan datanya hilang. Kosong dari penyimpanan apa pun layaknya komputer baru. Namun, hardware-nya lecet sana-sini. Software-nya banyak yang tak lagi berfungsi.
Untuk itu, satu kalimat permohonan Mama Mikayla pada Dirlan, "Jika benar prediksi dokter, jika benar Mikayla bangun dan kehilangan memorinya, tolong jaga dia dengan identitas baru."
Mama Mikayla menambahkan kata demi mengokohkan permohonannya, "Nantinya dia adalah anak itik yang baru menetas. Apa pun yang dia lihat dan dia dengar pertama kali, dia akan memercayainya, Nak. Dia akan menurutimu. Dan biarkan dia bergantung padamu."
Dirlan menarik napas panjang, ia akan memikirkannya lagi nanti. Hal terpenting menurutnya kini adalah mengembalikan semangat hidup Mikayla.
Pria itu melangkah masuk, senyum ia ukir di bibirnya sebelum duduk di kursi samping bed, "Hai, aku datang lagi." sapanya.
Mikayla membisu. Lagi-lagi tidak peduli. Tatap matanya terfokus pada cahaya kuning yang mengintip dari celah tirai.
Menyiramkan sinar hangat pada wajah tirus pucatnya. Membuatnya sesekali menyipitkan mata karena silau. Tapi juga terus menatapnya karena penasaran.
Membuat Dirlan terkekeh geli, "Mau aku bukain gordennya?" tawarnya.
Kali ini Kay sedikit melirik, kepalanya masih sangat kaku untuk digerakkan. "Ada apa di luar sana?"
"Ada semesta yang merindukan salah satu penghuninya yang paling ceria," kata Dirlan dengan senyuman.
Lelaki itu berpindah duduk di depan Kay agar mereka lebih mudah mengobrol. "Mau?" tawarnya lagi sambil menatap antusias.
Mikayla balik menatap Dirlan malu-malu. Bibirnya membentuk garis sejajar dengan sedikit anggukan kepala sebagai jawaban.
Dan saat itu pula hati Dirlan gembira luar biasa. Ia berlari kecil mengambil kursi roda di sudut ruangan.
"Aku izin angkat kamu ke kursi roda. Boleh?"
Mikayla mengangguk. Lalu Dirlan mengangkatnya, hati-hati sekali. Batinnya pedih merasakan betapa ringannya tubuh Mikayla. Betapa kaku dan lemasnya tubuh itu dalam rengkuhannya.
Segera Dirlan membuang muka, mengembuskan napas berat berharap pedihnya ikut keluar melalui hembus tersebut.
Ia lalu mendorong kursi roda Kay tepat di depan jendela kaca besar. Menyibak gordennya lebar-lebar. Dan seketika terlihatlah pemandangan indah taman rumah sakit yang tersinar cahaya kuning.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hai, Luka
Teen FictionKay sudah pernah bodoh dalam mencintai Ken. Mengejar, berkorban, banjir air mata, dikecewakan, dihempaskan harapan, dinomorduakan ... semua sudah Kay rasakan. Kay lelah, lalu Tuhan mengistirahatkannya dengan sebuah kecelakaan yang membuatnya terbari...
