Di ruang tamu rumahnya yang megah, Dirlan termenung memikirkan ucapan Kay. Hatinya berdebar hebat kala sang gadis pujaan berkata demikian.
Namun juga, berdesir aneh karena sadar bukan dirinya pria yang Kay puja.
"Sudahlah, tidak perlu berpikir macam-macam. Memang sudah begini takdirnya, Lanlan. Kay lupa dengan sakitnya, dan menemukanmu sebagai obatnya. Bukankah ini juga yang diinginkan Mama Kay? Apa yang kamu khawatirkan?" Nyonya Ling menasihati putranya.
"Dokumen identitas baru untuk Kay sudah siap. Mulai akte kelahiran, ijazah TK sampai SMA, catatan imigrasi dan pindah kewarganegaraaan, dan semua detail-detail kecil lainnya sudah lengkap." kata Nyonya Ling lagi.
"Mama, apa ini boleh?" tanya Dirlan, menatap kosong pada dinding yang dingin.
Nyonya Ling paham keresahan sang putra. Dibelainya lembut belakang kepala Dirlan. "Kamu sudah berjanji pada Mama Kay untuk menjaga dan membahagiakan putrinya, benar?"
"Benar," sahut Dirlan membenarkan. "Tapi, Ma. Dirlan takut. Bagaimana jika suatu saat nanti ingatan Kay kembali dan dia membenci Dirlan sebenci-bencinya? Bagaimana pun, kita akan membohonginya, Ma. Dirlan tidak sanggup."
"Kita hanya akan berbohong perihal identitasnya, Lanlan Sayang. Anggap saja kita membantu mewujudkan keinginan satu-satunya keluarga Kay. Yaitu mamanya. Soal perasaan ... itu rahasia semesta.
"Mama tidak memaksamu untuk membuatnya jatuh cinta. Dan Mama percaya, putra Mama satu ini pasti paham dan selalu bertanggung jawab terhadap apa yang diperbuatnya. Hm?"
Dirlan hanya bisa menganggukan kepala. Ia masih sibuk menguatkan hati. Bukan karena ia ragu, ia hanya takut. Cemas menyelusup di tengah kebahagiaannya menjadi seseorang yang bisa Kay andalkan.
•••
"Hei, dengerin aku. Kamu bukannya lupa cara berjalan, tubuhmu hanya butuh penyesuaian."
Dirlan kembali mencoba menenangkan Mikayla —yang tidak bisa dipungkiri— overthinking terhadap proses pengobatannya.
"Ini hal yang wajar, Kay. Bukan sesuatu yang mengerikan," katanya lembut. "Kamu tahu seorang binaragawan?"
Mikayla mengangguk ragu, mengorek ingatannya. "Y- ya?"
"Kalau gerakan push-up, ingat?"
Samar-samar Kay mengangguk, hingga Dirlan yang gemas langsung mempraktekkan push-up saat itu juga. Membuat senyum Kay terurai lebih lebar.
"Bagaimana? Ingat apa itu push-up?" tanyanya lagi sambil menepuk-nepuk tangan membersihkan debu yang menempel.
"Nah, intinya, Kay, seorang yang rajin workout, ototnya akan membesar karena dilatih terus-menerus. Sebaliknya, kayak kamu ini, ototmu sudah lama tidak digunakan, jadi mengecil.
"Untuk gerak sedikit saja sakitnya minta ampun, iya, kan? Tapi, tenang, ini bukan sesuatu yang permanen, kok. Dia akan kembali seperti semula kalau kamu melatihnya untuk bergerak lagi. Tidak perlu sekaligus, pelan-pelan, ya?"
Dengan sayang, Dirlan menjelaskan begitu banyak hal demi mengembalikan kepercayaan diri Mikayla. Segala sendi dan saraf gadis itu sudah lama off, bukan hal mudah memang untuk mengaktifkan lagi semangatnya. Dan itu wajar.
Seseorang sepertinya membutuhkan support system untuk mengurai ketakutannya mencoba lagi hal yang sudah lama ditinggalkan. Dan Dirlan berusaha hadir sebagai sosok itu.
"Hari ini aku mau tau siapa aku." Mikayla menatap Dirlan seperti anak kucing minta diusap kepalanya.
"Hm?" Dirlan sedikit gagap. "Kamu sudah siap?"
Mikayla mengangguk yakin. Dirlan yang ragu. Hari ini, bisakah ia membohongi Kay tentang hidup gadis itu sendiri? Layakkah dirinya?
"Boleh, Dirlan?" Mikayla meminta.
"Y- yeah, bo- boleh." Dirlan tahu dia tidak boleh terlihat panik. Ditariknya senyumnya segaris, "Tapi, ada syaratnya, nanti setelah kamu selesai latihan otot tangan. Okey?"
"Okey," Mikayla menyetujuinya secepat kilat. "Hari ini adalah jadwal aku latihan otot tangan. Dokternya gak galak, kan?"
"Siapa yang berani galak sama kamu kalau ada aku?"
"Kamu nemenin aku?"
"Pasti."
•••
"Mikayla Milcha, lahir di Shanghai, China, dengan nama Tiongkok 'Kay' dan marga 'Ling'. Ayahmu asli Tionghoa, adik kandung mamaku, Ling Jingyi.
"Kamu anak tunggal. Ibumu orang Indonesia asli. Kalian sekeluarga sudah pindah kewarganegaraan dan menetap di Indonesia sejak usiamu tiga tahun.
"Kedua orang tuamu meninggal dalam kecelakaan kereta cepat di China saat melakukan perjalanan bisnis. Kamu sejak kecil hidup bersama kami, di rumah ini."
Bukan, bukan Dirlan yang berkata demikian. Itu Tatjana, yang dengan mati-matian menelan segala kebusukan di lidahnya.
Mikayla diam. Diam dalam artian mendengarkan. Menyimak. Dan memilih percaya ... ini hidupnya.
Ya, terbangun dari tidur panjang dengan pikiran kosong tanpa sedikit pun memori yang tersisa, Mikayla bisa apa selain memilih percaya dan menyandarkan sepenuh hidupnya pada pria yang tak pernah bosan diusirnya itu?
Jika boleh dikatakan, keputusan terbesar Kay sejak bangun dari mimpi panjangnya bukanlah keyakinan untuk kembali belajar bergerak dan berjalan, melainkan adalah keyakinan untuk percaya pada orang lain tentang hidupnya sendiri.
"Yes, it's a cliché. It's the stuff of fairy tales in novels and dramas, if you remember. But this is the reality we can tell you. Believe it or not, the decision is yours." sinis Tatjana, menyembunyikan linu di hatinya
Jarum jam terus berputar, dan Kay masih diam. Terus diam seraya mengamati selembar foto usang —yang katanya adalah foto keluarga kecilnya kala dulu—
"Hm, sungguh keluarga kecil yang bahagia," ucapnya saat dengan lembut mengusap-usap foto tersebut.
"Kay, Sayang ... " Nyonya Ling angkat bicara, ingin segera mengakhiri kecemasannya menunggu keputusan Mikayla. "Sayang, kalau kamu masih butuh waktu untuk mencerna, tidak apa-apa, Nak, kami tidak memaksamu untuk menjawabnya sekarang. Bahkan kalau pun nanti kamu memilih tidak percaya, kami ... "
"Aku percaya," ungkap Kay pada akhirnya. Semua orang terperangah, tak terkecuali Dirlan.
"Bo- boleh katakan sekali lagi, Sayang?" pinta Nyonya Ling.
"Aku percaya. Mikayla percaya, Aunty. Mikayla percaya pada keluarga ini, apa pun hasil akhirnya nanti."
Nyonya Ling menutup mulut haru, Tatjana masih berusaha mencerna, dan Dirlan menahan bahagia di balik selaput tipis air matanya.
"Lalu, aku punya hubungan apa lagi dengan keluarga ini? Misalnya ... bagaimana hubunganku dengan Dirlan? Kulihat dia teramat menjagaku, apakah ada yang lain selain sekedar saudara sepupu?"
"Tunangan. Kamu dan Dirlan adalah tunangan, Mikayla Sayang."
•••
Yuhuu I'm comeback menyapa cuyung²kuuu 🤍
Semoga sedikit bab ini bisa mengobati rindu kalian 🤍 maafkan diriku yang masih belum bisa konsisten kayak dulu lagii huhuu
See you babay Sayang 😘
🫶🏻 17.11.25 🫶🏻
KAMU SEDANG MEMBACA
Hai, Luka
Novela JuvenilKay sudah pernah bodoh dalam mencintai Ken. Mengejar, berkorban, banjir air mata, dikecewakan, dihempaskan harapan, dinomorduakan ... semua sudah Kay rasakan. Kay lelah, lalu Tuhan mengistirahatkannya dengan sebuah kecelakaan yang membuatnya terbari...
