26. Ketegasan untuk Dirlan

320 27 8
                                        

Halooo aku datang lagiii ^^

Selamat membaca!

.
.
.

Mikayla tidak tahu mengapa Lala begitu mencegahnya pergi ke klinik Tiara. Lala tidak lagi membalas pesan darinya. Kay hanya diam, duduk di samping Ken yang mendadak lupa akan semua kalimat manisnya sendiri.

Kay memperhatikan jalanan. Arah ke klinik Tiara terasa tidak asing baginya. Jalanan ini dekat dengan kontrakan tempatnya tinggal.

Namun bukan itu. Kay sepertinya sudah sangat lama tidak melewati jalanan ini.

Mobil Ken melintas di depan gedung olahraga, belok kanan, berjalan lurus sejauh 500 meter, lalu mulai banyak ditemui pohon jati di kanan kiri jalan.

Tak lama setelah itu, mobil Ken melambat. Kay meloncat turun dari mobil sebelum mobil benar-benar berhenti.

Ken terkejut, bergegas turun menyusul Kay yang kini terlihat seperti orang linglung.

"Kay, kenapa?"

Napas Kay memburu melihat bangunan putih yang masih tampak baru di depannya. Kedua matanya memerah, berair. Bahunya bergetar naik turun.

"Papa," gumamnya hampir tak terdengar.

Ken mengerutkan kening, menepuk pelan bahu Kay. "Kenapa? Ayo masuk, ini klinik baru Tiara."

Kay menoleh, mulutnya terbuka lebar dengan tatapan mata yang kian mengilat tajam. "Klinik?"

"Hm, ya." Ken mengangguk, masih menerka-nerka apa yang terjadi pada Kay.

Telunjuk Kay mengarah ke dalam bangunan putih itu. "Di sana, lima puluh langkah dari sini. Kak Ken kenapa gak bilang mau bawa aku ke sini? Harusnya tadi mampir beli bunga sama air mawar, Kak."

"Kay, kamu ngomong apa?"

"Ya Allah, aku udah lama banget gak ke sini. Waktu itu katanya makam Papa mau digusur, Kak. Aku gak punya uang buat pindahin makam Papa.

"Aku kira aku bener-bener gak bisa jenguk Papa lagi. Ternyata masih ada. Makasih, Kak Ken, udah bawa aku ke sini."

Kay berlari memasuki bangunan putih tersebut. "Assalamualaika ya ahli kubur," ucapnya begitu sampai di pintu.

Kay kembali berlari. "Papa, Kay datang! Maafin Kay udah lama gak jenguk Papa."

Kay sampai di jarak yang dia sebut 50 langkah. Hanya ada ruang kosong, juga lantai putih yang masih sangat bersih.

"Loh, Papa? Papa di mana?" Kay celingukan melihat sekitar. "Papa, Kay datang. Papa marah karena Kay lama gak jenguk Papa, ya?"

Tiara keluar dari dalam, terkejut sekaligus bingung. Sama halnya dengan Ken yang baru menyusul.

"Kay, kamu kenapa? Papa apa, Kay? Jenguk apa? Ini gedung yang rencanya akan kujadikan klinik." Tiara mencoba bertanya.

Bukannya menjawab, Kay justru menjatuhkan badan di dinginnya lantai. Air matanya mengalir deras.

"Ternyata bener makam Papa udah digusur. Kay terlambat. Kay gak punya uang buat pindahin makam Papa."

Tangisan Kay semakin keras. Terdengar pilu nan menyayat. Ini tidak seperti Kay, gadis dewasa yang kuat.

Ini adalah tangisan gadis remaja yang ditinggal pergi orang tuanya.

"Aaargh! Kay gak berguna! Kay anak durhaka! Kay gak bisa ngelindungin peristirahatan terakhir Papa!" Kay memukuli kepalanya sendiri.

Hai, LukaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang