SELAMAT HARI JUMAT, SEMOGA SEHAT DAN MASIH MENJADI JOMBLO YANG TERHORMAT ☺️
Bantu tandain typo ya, Teman-teman ❤️
●●●
"Namanya masih Mikayla, tapi dia bukan lagi Mikayla yang dulu," kata Valerie sambil menatap kakaknya, Keanu, yang tengah hanyut mengamati proses fisioterapi Mikayla.
Dari balik jendela kaca, senyum Ken terbit haru kala menyaksikan Mikayla bisa dengan percaya dirinya berdiri sendiri tanpa bantuan standing frame. Fisioterapis lalu membantunya berdiri di ujung parallel bar.
Perlahan tapi pasti, satu kakinya melangkah maju, kedua lengannya berpegang erat pada palang, menahan beban tubuh serta menjaga keseimbangannya.
Mikayla sudah pulang ke keluarga Dirlan, dia dirawat dengan kehangatan kasih sayang. Jadwal check up-nya selalu diperhatikan, diantar dan diberi support terbaik.
"Apa dia benar-benar akan bertunangan dengan Dirlan?" Ken bersuara untuk pertama kalinya.
"Hm, sepertinya iya. Dia tampak sangat menerima Dirlan di sisinya. Mungkin nanti setelah emosi dan kesehatan Kay stabil, setelah dia berhasil menjalani Gait Training-nya."
Valerie maju selangkah, menepuk pundak kakaknya sekali, lalu menunjuk dengan dagu ke dalam ruangan fisioterapi. Dimana gadis yang hampir kehilangan nyawanya itu kini tengah tertawa lepas, mengekspresikan kebahagiaannya karena berhasil meraih tangan Dirlan yang sejak tadi berdiri di ujung parallel bar.
"Sebagai pembisnis, Kakak pasti tahu kalau Om (nama papa dirlan) sangat mementingkan reputasi. Sekarang ini Kay udah diterima di keluarganya, bahkan kabar pertunangannya juga udah tercium sama media," Valerie menggeleng sekali, "Saranku jangan coba-coba cari masalah, Kak." lanjutnya, menggigit bibir di ujung kalimat.
"Apa masih kurang derita yang Kay alami karenaku?" Keanu tersenyum segaris, "Kakak paham maksudmu, Val. Kakak akan coba menjauh sebisa Kakak. Jauh, menepi ... sampai tidak lagi terlihat."
"Aku anggap ini janji, semoga Kakak bisa menepati."
●●◌◌●●
Di taman rumah sakit, Mikayla seorang diri menikmati udara segar. Gadis itu duduk di atas kursi roda, tersenyum melihat anak kecil berlarian mengejar balon mereka yang terbawa terbang oleh angin.
Pada saat itu, Keanu baru saja keluar dari ruang operasi, berjalan di koridor sembari menyegarkan mata melihat ke sekeliling taman rumah sakit yang asri. Hingga tatapannya berhenti di Kay, langkah kakinya ikut berhenti.
Ingin sekali kakinya melangkah ke sana, mendekat. Mungkin sekadar menyapa, bertanya apa kabar, atau hal paling konyol yang terlintas di pikirannya adalah bertanya 'apakah kamu ingat aku?'.
Sayangnya Keanu tidak se-gentle man itu. Atau bahkan mungkin ... tidak sebangsat itu untuk dengan tidak tahu malunya muncul lagi di depan Mikayla.
Tapi, sepasang matanya kemudian membulat ketika Kay menginjakkan kakinya ke tanah, bertopang pada pegangan kursi roda dan berdiri. Spontanitas langkah kaki Ken berderap cepat menuju taman, meloncati beberapa pot besar pembatas koridor, menginjak rerumputan hijau.
"Oh tidak, dia belum seharusnya berdiri sendiri tanpa pengawasan. Apalagi di keramaian tempat banyak orang berlalu lalang seperti ini! Mikayla, apa yang kamu pikirkan?!"
Jantung Ken berdegup kencang saat melihat Kay mencoba melangkah. Kedua lengannya memang masih bertumpu pada kursi roda, namun masalahnya ... kursi roda itu belum terkunci. Rodanya yang fleksibel tentu saja bergerak, Mikayla kelimpungan mencari tumpuan untuk beban tubuhnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hai, Luka
Teen FictionKay sudah pernah bodoh dalam mencintai Ken. Mengejar, berkorban, banjir air mata, dikecewakan, dihempaskan harapan, dinomorduakan ... semua sudah Kay rasakan. Kay lelah, lalu Tuhan mengistirahatkannya dengan sebuah kecelakaan yang membuatnya terbari...
