Bagaikan jalan tol Salatiga—mulus di awal, berliku di ujung—dua tahun pernikahan Purwanto dan Dahlia berjalan lancar tanpa hambatan berarti.
Purwanto merasa hidupnya seperti sinetron yang akhirnya dapat season baru. Dari duda tak laku menjadi suami seorang wanita menawan yang lihai mengatur toko, uang, dan pose di depan kaca.
Dahlia bukan hanya cantik dan bertubuh menggoda, tapi juga cekatan dalam mengurus bisnis material milik Purwanto. Dalam pandangan Purwanto, wanita ini seperti dewi yang bisa menghitung stok semen sambil memutar pandangan mata dengan anggun.
Ia bahkan sempat berpikir, “Mungkin inilah kebahagiaan.”
Kalimat itu kini terdengar seperti kutukan dengan tata bahasa yang baik.
Dua anak tirinya, Santel dan Rosi, juga tampak menyayangi Iyem kecil.
Mereka memanggilnya “Adik”, meskipun sering lupa melanjutkan kalimatnya dengan kasih sayang.
Purwanto bahagia. Ia percaya rumah ini sudah penuh cinta, walaupun cintanya beraroma parfum mahal dan sisa masakan reheating semalam.
Namun pada tahun ketiga, hidupnya berbelok seperti mobil yang bannya copot di tikungan.
Di tengah toko materialnya, Purwanto ambruk. Dunia memantul-mantul, lalu menggelap seperti lampu hemat energi yang dipaksa hidup.
Diagnosa dokter singkat: stroke berat akibat penyempitan pembuluh darah di otak.
Diagnosa semesta lebih panjang: karma.
Sejak hari itu, hidup Purwanto berubah jadi film dokumenter tanpa penonton.
Dahlia, yang dulu lembut seperti spons baru, kini sekeras sabut kelapa bekas.
Ia masih tersenyum di depan tetangga, tapi di rumah, suaminya diperlakukan seperti tanaman hias—disiram kalau sempat.
Purwanto sering lapar, tapi menu hariannya hanya udara dan diam. Kadang Dahlia lupa memberinya makan; kadang pura-pura lupa.
Pakaian Purwanto jarang diganti, dan ia dibiarkan tenggelam dalam aroma yang bisa membuat malaikat mundur sopan.
Kalau bukan karena Iyem yang tiap sore menyeka tubuhnya dengan sabun colek dan kasih sayang, mungkin Purwanto sudah jadi legenda urban bertema busuk.
Kamar Purwanto kini di belakang rumah—Dahlia bilang agar mudah diurus.
Kenyataannya: agar mudah disembunyikan.
Setiap kali ada yang bertanya, “Pak Pur ke mana?”, Dahlia akan menjawab ringan,
“Lagi tidur. Istirahat. Banyak pikiran.”
Seakan stroke adalah bentuk self-care.
Kadang Purwanto ingin berteriak, ingin bilang kepada siapa pun bahwa ia masih ada, masih hidup, masih menyesal.
Tapi lidahnya membeku, bibirnya kaku, dan hanya air mata yang berhasil kabur dari tubuhnya.
Seribu penyesalan menyerang.
Menyesal menikahi wanita bertubuh semok itu.
Menyesal menomorduakan Nurjanah.
Menyesal karena menamai anaknya dengan nama gadis masa lalunya.
Tapi, seperti kata pepatah yang tidak pernah menolong siapa pun:
“Kalau datangnya belakangan itu penyesalan. Kalau datangnya duluan, itu pendaftaran.”
Suatu sore yang dingin, Purwanto memanggil pelan: “Iyem…”
Tapi yang keluar dari mulutnya hanya suara seperti ayam lapar dan mesin blender rusak.
Iyem kecil mendekat, duduk di sisi ranjang. Air matanya berkilat, tapi wajahnya tetap tegar, seperti anak yang sudah sering melihat keanehan hidup.
Purwanto berusaha bicara lagi. Kata-kata itu penting—ia ingin meminta maaf, ingin memperingatkan anaknya, ingin mengatakan sesuatu yang berarti sebelum napasnya jadi kenangan. Tapi semua terjebak di tenggorokan.
Hanya air mata yang berbicara.
Iyem mengangguk pelan, seolah mengerti bahasa kesedihan.
Ia tidak benar-benar paham, tapi hatinya tahu: ini saatnya ia belajar diam seperti dunia yang sedang menonton manusia menyerah.
Malam itu, kondisinya memburuk.
Iyem berlari keluar, mengetuk pintu kamar Dahlia yang wangi tapi kosong maknanya.
“Bu! Bapak sakit lagi!” teriaknya.
Dahlia membuka pintu dengan malas, memeriksa suaminya sekilas, lalu berkata datar,
KAMU SEDANG MEMBACA
IYEMRELA
Mystery / Thriller- dongeng modern tentang cinta, kelas sosial, dan karma yang tak pernah tamat - Iyem hanyalah gadis kampung biasa, sampai Madam Juliet-wanita berkuasa dengan gaya bicara seperti kontrak kredit macet-menjodohkannya dengan pewaris PT DEWO. Demi kelan...
