Tahun 2990.
Manusia sudah berhenti memegang benda. Semua hal yang dulu bisa disentuh kini hanya berupa layar tipis di udara — kasat mata tapi memerintah segalanya: panggilan video, pesan pribadi, bahkan nostalgia.
Di perpustakaan, tak ada lagi aroma kertas, hanya udara steril dan suara lembut sistem otomatis yang bertanya: "Buku apa yang ingin Anda baca hari ini?"
Para pengunjung cukup mengedip dua kali, dan ratusan judul melayang di depan mata mereka.
Buku fisik sudah dilarang sejak tahun 2050 — keputusan politis yang awalnya cuma ide kaum Vegente, sekumpulan manusia yang percaya bumi bisa diselamatkan dengan berhenti menebang pohon dan berhenti menulis di atasnya. Ironisnya, sebagian dari mereka tak bisa mengeja kata photosynthesis dengan benar.
Para penulis protes, tentu saja. Tapi mereka akhirnya kelelahan juga. Setelah setengah abad, semua yang tersisa dari kata "menerbitkan" hanyalah versi digital yang bisa dihapus kapan saja — lebih cepat daripada reputasi seseorang di media sosial zaman dulu.
Namun beberapa buku tua tetap selamat. Disebut Buku Kuno, benda-benda itu disimpan oleh para kolektor kaya yang menyebut diri mereka Bigder — semacam sekte baru bagi kaum nostalgia. Di antara mereka, masih ada segelintir pembaca yang berani menyentuh masa lalu.
Salah satunya: Leona, gadis dari Pulau Nyanyian, tempat yang konon masih memiliki pepohonan sungguhan dan listrik yang sering padam.
Hari itu, ia duduk di ruang buku kuno, tenggelam dalam halaman rapuh yang bercerita tentang seorang gadis bernama Cinderella. Dua jam berlalu, dan ia belum bergeser satu inci pun. Hanya sesekali matanya berkedip — refleks biologis terakhir manusia yang belum sepenuhnya tergantikan mesin.
"Kalau suka kisah Cinderella," terdengar suara di belakangnya, "coba baca yang ini."
Leona menoleh. Seorang pemuda berdiri di sana, terlalu tenang untuk ukuran orang asing di ruangan yang seharusnya steril dari publik.
Ia menyodorkan sebuah buku tua dengan sampul tebal bergambar unicorn.
IYEMRELA by Evi Debois.
Leona membaca pelan judulnya, dahi berkerut. "Ini bukan kisah Cinderella," katanya, separuh mengejek.
Pemuda itu tersenyum. "Kamu belum benar-benar baca Cinderella kalau belum baca yang ini."
Leona membuka halaman pertama. Di sana, sebuah kalimat terukir dengan tinta yang hampir pudar:
For my dear sister, Iyem.
Ia membalik halaman. Satu bab, dua bab, tiga.
Sebelum sadar, hari sudah senja dan seluruh dunia di luar jendela perpustakaan telah berubah warna.
Ada sesuatu dalam buku itu yang terasa... akrab. Tapi Leona tak tahu apa.
Dalam perjalanan pulang, pikirannya masih terjebak di antara kata-kata dalam buku itu — kisah tentang mimpi, kutukan, dan seorang gadis yang disebut Iyem.
Notifikasi tiba-tiba muncul di udara. Panggilan video dari nomor asing.
Ia ragu sejenak, lalu menjawab.
Wajah di layar itu — wajah yang sama dengan pemuda di perpustakaan tadi.
"Hai," katanya ringan. "Maaf kalau aku ganggu."
Leona menatapnya waspada. "Dari mana kamu dapat nomor ini?"
Pemuda itu tersenyum samar. "Itu nggak penting. Yang penting: kamu suka bukunya?"
"Aku baru baca sampai bab dua puluh."
"Wah, cepat juga. Tapi kamu nggak bawa pulang bukunya?"
Leona mengerutkan kening. "Maaf, aku capek. Aku mau istirahat," katanya, lalu menutup panggilan itu cepat-cepat.
KAMU SEDANG MEMBACA
IYEMRELA
Mystery / Thriller- dongeng modern tentang cinta, kelas sosial, dan karma yang tak pernah tamat - Iyem hanyalah gadis kampung biasa, sampai Madam Juliet-wanita berkuasa dengan gaya bicara seperti kontrak kredit macet-menjodohkannya dengan pewaris PT DEWO. Demi kelan...
