18- Cincin dan Sisa Logika Manusia

37 2 1
                                        

Sekembalinya dari restoran, Eddy langsung menuju apartemennya. Ia membatalkan semua jadwal kantor — termasuk rapat penting yang entah kenapa tiba-tiba terasa lebih remeh dibandingkan gadis yang baru saja ia temui di West Virgin.

Begitu tiba di kamar, ia rebah di kasur, menatap langit-langit seperti orang yang baru menyadari hidupnya diatur oleh naskah orang lain.
Masih ada aroma parfum gadis itu di pikirannya — samar tapi menjengkelkan, seperti lagu pop yang tidak ia sukai namun tak bisa ia hentikan di kepala.

Iyem sudah mulai menunjukkan “kemampuan”-nya. Tadi, di restoran, ia hampir membaca isi pikirannya. Hampir.
Kalau sedikit saja lebih peka, mungkin gadis itu sudah bisa menebak siapa dirinya sebenarnya.

Eddy menutup mata, menarik napas panjang.
Tugasnya sederhana: melindungi gadis itu, apa pun caranya.
Masalahnya, hidup tidak pernah berjalan sederhana kalau ada Madam Juliet di naskahnya.

Teleponnya bergetar.
Sebuah pesan muncul di layar.

“Sekali lagi makasih banyak ya, Mas Eddy. Aku suka makanan di sana. Semoga bisa ke sana lagi sama Mas Eddy.”

Eddy tersenyum tipis — senyum pria yang sudah terlalu lelah untuk berharap, tapi masih cukup sopan untuk membalas.
Jari-jarinya mengetik cepat:

“Senang bisa bertemu lagi.”

Titik.
Tanpa emoji. Tanpa hati.
Ia tahu, satu emotikon saja bisa salah dimengerti perempuan. Dan salah tafsir adalah awal dari bencana, terutama kalau perempuan itu... bukan sembarang perempuan.

Ia menatap layar ponsel beberapa detik sebelum meletakkannya di meja.
Bayangan masa lalu berkelebat — kisah cinta lama yang terlalu manis untuk diingat, terlalu pahit untuk diulang.
Matanya menghangat, tapi air matanya hanya sempat jatuh separuh jalan — sisanya kering di pipi, bersama harga diri yang tersisa.

Sementara itu, di rumah kastil, Iyem tersenyum membaca balasan singkat dari pria itu.
Singkat.
Dingin.
Tapi entah kenapa, tetap membuat jantungnya berdetak seperti timer oven.
Ia sempat berharap ada sedikit tambahan “bumbu” — minimal emoji senyum, atau hati kecil di ujung kalimat.
Tapi tidak.
Pria itu menulis seperti notulen rapat: rapi, singkat, dan tanpa emosi.

Iyem menghela napas. “Ya Tuhan,” gumamnya, “aku baru sadar, bahkan pesan singkat bisa lebih dingin dari AC kastil ini.”

Ia menepis khayalan itu dan langsung mengirim pesan ke Evi.
Harus ada yang menjelaskan misteri cincin berlian biru di jarinya sebelum ia mulai percaya bahwa dirinya dilamar alien.

Evi, di sisi lain, sudah menyalakan motornya dengan semangat yang tidak pernah muncul saat bekerja.
Bagi Evi, setiap kali Iyem mengajaknya bertemu, rasanya seperti audisi untuk jabatan manajer tetap — posisi yang selama ini hanya bisa ia impikan sambil mengupas kacang di kamar kos.

Ia melaju cepat, menembus lalu lintas Jakarta dengan heroisme palsu, sambil mengomel pada dirinya sendiri: “Lisa itu ular salon. Aku nggak bisa kalah dari ular.”

Begitu tiba di kafe, Evi langsung tahu kalau dirinya memang terlambat... gaya.
Iyem sudah duduk anggun di pojok ruangan, menyeruput kopi seperti sosialita yang baru saja menceraikan konglomerat.
Kafe itu penuh anak muda, tapi hanya Iyem yang terlihat seperti poster keberhasilan ekonomi digital.

Evi melambaikan tangan dengan senyum yang sedikit dipaksakan.

“Maaf, aku telat ya?”

Iyem menggeleng sambil tersenyum sopan — senyum khas orang yang tahu dirinya memang lebih unggul tapi cukup beradab untuk tidak mengatakannya.

Mereka duduk berhadapan.
Dan di udara kafe yang wangi kopi mahal dan harapan palsu, ada satu pertanyaan yang menggantung di kepala Iyem:

Pekerjaan apa, sebenarnya, yang sedang aku jalani sekarang?

IYEMRELATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang