Iyem duduk di balik tirai, masih terbungkus handuk kimono seperti tawanan spa yang kehilangan arah hidup. Di seberang ruangan, pria yang hanya dikenalnya sebatas “penyebab pusing kepala hari ini” sedang menuang kopi ke cangkir porselen.
“Sarapan dulu. Kalau sudah sarapan, nanti nggak pusing lagi,” katanya dengan nada dokter pribadi yang tak diminta.
Iyem mengerutkan dahi. Sarapan jam dua siang? Kalimat itu terdengar seperti kebohongan yang dibungkus keramahan. Tapi aroma kopi yang menampar hidungnya pelan-pelan melunturkan logika. Begitu roti panggang mendarat di meja, semua teori tentang harga diri pun ikut gugur.
Cacing di perutnya menyanyi, mungkin lagu kebangsaan restoran hotel.
Ia melangkah keluar dari balik tirai seperti makhluk mitologi yang kelaparan. Pria itu tersenyum, tak berkata apa-apa—seolah sudah tahu bahwa satu langkah saja sudah prestasi spiritual bagi gadis yang barusan bangun di kamar asing.
Iyem menatapnya lama. Ada sesuatu yang ganjil di wajah itu.
“Kita pernah ketemu,” gumamnya.
Pria itu tersenyum, menuang kopi lagi. “Yup. Dua kali.”
Dua kali? Iyem menatapnya seakan-akan sedang menonton film thriller dan baru sadar dia pemeran utamanya.
“Bagaimana aku bisa di sini? Apa yang terjadi semalam?”
“Sarapan dulu.”
Kalimat itu terdengar seperti mantra, dan seperti sapi yang dicucuk hidungnya, Iyem menurut. Ia meneguk kopi panas itu pelan, lalu menggigit roti. Seketika matanya membulat.
“Enak, kan?” kata pria itu santai. “Chef Mark dari Prancis. Katanya, rahasia roti enak itu bukan tepung, tapi patah hati.”
Iyem tak membalas. Ia terlalu sibuk menelan roti sekaligus harga dirinya.
Mungkin karena lapar. Mungkin karena gugup.
Atau mungkin karena pria ini punya dua lesung pipit yang berbahaya bagi iman manusia.
Tiba-tiba pria itu bicara, tenang tapi tepat sasaran:
“Kamu pasti nggak ingat apa yang terjadi semalam.”
Iyem membeku, menatap wajah itu seperti sedang menunggu kredit film muncul di bawahnya.
Lesung pipit. Senyum itu. Nada suaranya. Ia pernah melihatnya—di mana? Kapan? Otaknya mencari, tapi yang keluar hanya satu kalimat kosong: Loading memory 99%... gagal.
Eddy menatap cangkir kosong di depan Iyem. “Mau tambah?”
Iyem mengangguk gugup. “Kita… pernah di mana ya, Mas?”
Eddy menyandarkan punggung di kursi, menatapnya tanpa kata. Senyum kecilnya seperti jawaban yang sengaja ditahan. Lalu ia berdiri, menata dasi, dan berkata pelan, “Sebelum kamu pergi, sebaiknya mandi dulu. Gaun kamu di lemari. Sama… pakaian dalam kamu.”
Kata terakhir itu jatuh seperti granat kecil di telinga Iyem.
Ia menelan ludah, separuh ingin bertanya, separuh ingin hilang dari bumi. Tapi lidahnya beku, logikanya ikut berkemas.
Eddy berpakaian rapi dengan tenang, seperti orang yang sudah terbiasa meninggalkan kekacauan dalam kondisi estetis. Iyem memperhatikannya tanpa sadar, terpukau melihat lelaki itu berubah dari makhluk handuk menjadi pejabat kantoran.
Dalam otaknya muncul kalimat aneh: Begini rasanya melihat pangeran pakai dasi, bukan pedang.
“Aku pergi dulu, ya,” kata Eddy akhirnya.
Iyem hanya menatapnya, masih belum yakin apakah ini manusia atau efek samping kopi hotel.
“Mas Eddy?” panggilnya sebelum pria itu menyentuh gagang pintu.
“Bagaimana saya bisa menghubungi Mas Eddy?” —bukan pertanyaan yang ingin ia ucapkan, tapi itulah yang lolos dari bibirnya.
“Aku sudah tulis di note, di meja,” balasnya.
Lalu pergi.
Iyem menatap pintu yang tertutup.
Kamar itu tiba-tiba terasa terlalu besar, terlalu wangi, dan terlalu penuh pertanyaan yang tidak ingin dijawab.
KAMU SEDANG MEMBACA
IYEMRELA
Misterio / Suspenso- dongeng modern tentang cinta, kelas sosial, dan karma yang tak pernah tamat - Iyem hanyalah gadis kampung biasa, sampai Madam Juliet-wanita berkuasa dengan gaya bicara seperti kontrak kredit macet-menjodohkannya dengan pewaris PT DEWO. Demi kelan...
