Evi duduk terpaku di depan layar komputer. Neuron di kepalanya seperti mogok kerja; tak satu pun sinyal ide yang lewat. Jarinya juga ikut malas, menggantung di atas papan ketik seperti sedang mogok makan. Pencarian tentang lukisan itu hanya berputar di sana-sini—kisah klasik dua sejoli terlarang, sang ibu yang menolak cinta, dan tragedi yang sudah basi tapi tetap menyedihkan. Tak ada yang baru. Tak ada petunjuk. Hanya sejarah yang malas menulis ulang dirinya.
Ponselnya berdering. Nomor itu lagi—nomor asing yang sejak dini hari menelpon tanpa kenal lelah, bahkan ketika dia masih di rumah sakit.
Satu pesan muncul:
“Ini aku, Ika. Iyem di mana? Kamu di mana? Apa kalian bersama?”
Evi langsung menekan tombol hijau.
“Ika?” sapanya datar.
“Oh my God, Evi! Di mana Iyem?! Kamu di mana?! Cindy belum pulang sampai sekarang! Kita semua panik di sini!” jerit suara di seberang.
Evi menjauhkan ponsel dari telinganya, menatapnya seperti benda kriminal.
“Ika, kita harus ketemu. Tapi jangan bilang siapa pun, ngerti? Siapa pun.”
Satu jam kemudian, pintu kamar Evi diketuk. Saat dibuka, Evi mendapati bukan hanya Ika, tapi satu rombongan lengkap geng Ganesha yang kini tampak seperti pasukan relawan tanpa izin resmi.
Evi menatap mereka satu-satu—datar, dingin, dan dengan sedikit niat untuk menyesal karena masih hidup.
“Ika,” desisnya, “aku bilang jangan bawa siapa pun.”
Ika menunduk, memainkan jurus akting andalannya. “Mereka maksa ikut. Apalagi Santi. Aku nggak berani ngelawan dia.”
Santi hanya menaikkan alis, seperti pemimpin orkestra yang baru sadar konsernya diadakan di kamar kos murahan.
Evi mendengus. “Masuk. Sekalian bawa rasa ingin tahu kalian itu.”
Mereka pun duduk, kaku, seperti sedang menunggu hasil ujian nasional. Evi menceritakan segalanya: kejadian di pesta, pingsan mendadak, rumah sakit, dan diagnosis yang terlalu absurd untuk logika waras. Saat ia selesai, ruangan sepi. Hening. Hanya ada suara pendingin ruangan yang terdengar seperti napas Tuhan yang kelelahan.
“Ya sudah,” kata Ika akhirnya. “Kita jenguk Iyem, kalau begitu.”
“Dia koma, Ika,” potong Linda cepat. “Apa gunanya kita ke sana? Mau diajak ngobrol?”
Wiwi, yang sejak tadi diam, menggeleng pelan. “Ika benar. Kita tetap harus ke sana.”
Mereka saling menatap, dan untuk pertama kalinya, Evi merasa dirinya sedang memimpin geng film murahan yang tanpa sadar sedang melangkah ke babak baru: antara tragedi dan kebodohan yang terorganisir.
Evi memandangi satu per satu wajah di depannya. Mereka semua tampak seperti sekelompok aktris sinetron yang tersesat di adegan yang bukan milik mereka. Entah kenapa, Evi merasa momen ini begitu familiar—seolah dirinya sudah pernah duduk dalam lingkaran yang sama, membicarakan sesuatu yang sama pentingnya, dengan empat perempuan yang sama cerewetnya.
Lalu, suara samar melintas di kepalanya. Lembut, tapi menusuk.
“Kalian harus tetap bersama Iyem. Kebersamaan kalian adalah kekuatannya. Itu satu-satunya cara menahan yang jahat.”
Evi membuka mata. “Kalian semua ikut aku ke rumah sakit,” katanya mantap, seperti pemimpin pasukan yang baru menemukan alasan hidupnya.
Tak perlu dua kali disuruh. Mereka berlari bersama menuju garasi. Ika menjerit, Linda salah masuk mobil, dan Santi tetap terlihat seperti ibu lurah yang tidak sabar dengan rakyatnya. Dalam perjalanan, Evi menelepon Eddy.
KAMU SEDANG MEMBACA
IYEMRELA
Mystery / Thriller- dongeng modern tentang cinta, kelas sosial, dan karma yang tak pernah tamat - Iyem hanyalah gadis kampung biasa, sampai Madam Juliet-wanita berkuasa dengan gaya bicara seperti kontrak kredit macet-menjodohkannya dengan pewaris PT DEWO. Demi kelan...
