Iyem tidak berniat menceritakan apa pun kepada siapa pun — terutama kepada Bude Tien yang baru kembali dari kampung dengan aroma minyak telon dan kecurigaan tajam. Namun, menyembunyikan sesuatu dari Bude Tien sama sulitnya dengan menyembunyikan bau sambal terasi di ruang ber-AC.
“Kenapa, Yem?”
“Tidak apa-apa, Bude.”
Tatapan Bude Tien seperti sinar X versi domestik: lembut tapi tembus.
Akhirnya Iyem menyerah.
“Iyem mau berhenti sekolah, Bude.”
Kalimat itu meluncur pelan, tapi dampaknya seperti sendok jatuh di ruang tamu: sunyi tapi memalukan.
Bude Tien tidak langsung menjawab. Ia tahu sesuatu telah terjadi, sebab gadis itu sehat, gemuk, dan makannya tetap seperti kuda liar yang baru lepas dari kandang.
“Kalau tidak sekolah, kamu mau apa?”
Iyem menunduk. Ia sendiri tidak tahu. Rasanya dunia tiba-tiba seperti ruang kelas kosong yang lampunya kedap-kedip.
“Ya sudah, nanti kita bicarakan sama Madam,” kata Bude akhirnya.
Beberapa jam kemudian, dengan mata masih berat karena jet lag bus ekonomi, Bude Tien sudah menekan nomor Madam Juliet.
Suaminya di kampung masih ngambek. Katanya, istrinya kini lebih setia pada sinyal Wi-Fi daripada pada cinta suci pernikahan.
Dan, sejujurnya, Bude Tien tidak bisa membantahnya.
“Ada apa, Tien?” suara dari seberang seperti es batu yang jatuh ke gelas kristal.
“Saya juga tidak tahu, Madam. Sepertinya ada masalah di sekolah.”
“Baik. Nanti saya urus.”
Tut… tut… tut. Telepon mati.
“Ya ampun, orang kok tidak bisa pamit baik-baik,” gerutunya sambil menatap ponsel, seolah benda itu baru saja menghina garis nasibnya.
Sejak memutuskan berhenti sekolah, Iyem lebih banyak menulis. Kadang di kamar, kadang di tepi kolam renang, kadang di dapur karyawan yang baunya seperti kenangan masa kecil — gurih, tapi melekat.
Bude Tien sempat khawatir karena anak itu lupa mandi dan makan, tapi, seperti semua penulis yang baru menemukan “suara,” Iyem lebih sibuk mencari diksi ketimbang nasi.
Di hari ketujuh, Evi datang.
Manajer tanpa komisi itu memandangi Iyem dengan tatapan gabungan antara prihatin dan ingin memarahi.
“Jadi lo mau berhenti sekolah?”
“Sudah berhenti.”
“Lo takut rahasianya kebongkar?”
“Awalnya, iya. Sekarang tidak. Aku cuma tidak mau melawan. Capek.”
Evi menatapnya lekat-lekat. Gadis ini benar-benar absurd — sudah punya pelindung sekelas Madam Juliet, tapi memilih menyerah dengan elegan.
“Baiklah. Gue tetap jadi manajer lo.”
“Tapi aku tidak di sekolah lagi.”
“So what? Gue tetap bisa ngatur hidup lo di luar sekolah.”
Iyem tertawa kecil. Ia tahu, Evi bukan tipe orang yang gratisan.
“Nanti kalau aku kaya, aku bayar dobel, ya.”
“Catet itu. Dobel, bukan diskon.”
Sementara itu, Bude Tien mencoba berdamai dengan rumah tangganya yang kini terasa seperti kasur busa: masih empuk, tapi sudah kehilangan bentuk.
Suaminya berhenti menelepon, dan ia pun berhenti berharap.
Kini hidupnya berputar antara rumah berkastil, dapur karyawan, dan mengawasi Iyem yang menulis seperti orang kesurupan tapi beraroma minyak angin.
Madam Juliet tidak menentang keputusan Iyem. Syaratnya hanya satu: gadis itu tetap menyelesaikan sekolah lewat kelas malam.
Iyem menuruti.
Pagi bekerja di salon, malam belajar, di sela-selanya menulis.
Ia mulai hidup seperti pekerja lepas dalam sinetron: letih, tapi masih sempat melamun.
KAMU SEDANG MEMBACA
IYEMRELA
Mystery / Thriller- dongeng modern tentang cinta, kelas sosial, dan karma yang tak pernah tamat - Iyem hanyalah gadis kampung biasa, sampai Madam Juliet-wanita berkuasa dengan gaya bicara seperti kontrak kredit macet-menjodohkannya dengan pewaris PT DEWO. Demi kelan...
