[ Our Feelings ]

32 5 0
                                        

Time flies, tiba-tiba satu tahun aku gak update sama sekali.

Maaf buat yang nungguin cerita ini, banyak hal yang aku alami.

Semoga kalian masih mau dan sempetin baca ya.

Enjoy ❤️

***

Satu minggu telah berlalu.

Sejak kejadian itu, Namira dan Rifky benar-benar tidak menghubungi satu sama lain. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing, merenungi apa yang telah terjadi selama ini.

Rifky tentu saja tidak diam, dia selalu menanyakan kabar Namira lewat teman-temannya. Apakah Nami masih menangis, bagaimana keadaannya, kapan Nami keluar dari rumah sakit, dan sebagainya.

Lelaki itu sering menitipkan makanan pada Meira, Yesaya, atau Saka. Semua itu tanpa sepengetahuan Nami.

Dia menuruti permintaan gadis itu, meninggalkannya sampai sahabatnya siap. Sekarang, di depan rumah berlantai 2 dengan taman depan yang asri itu Nami berdiri. Menghembuskan nafas berat, lalu berjalan perlahan.

Namira tahu, sikapnya terakhir kali sangat buruk kepada Rifky. Lelaki itu tidak menuntut apapun, sama seperti Nami pada Arsa. Harusnya Nami cukup menghargai itu. Harusnya Nami sadar, ternyata ada seseorang yang rasa cintanya jauh lebih besar daripada rasa Nami pada Arsa. Tapi, apa boleh buat?

Kita tidak tahu kapan dan dimana cinta dapat berlabuh, itu yang dirasakan Nami. Dia hanya tidak ingin Rifky merasakan apa yang dirinya rasakan.

Bel berbunyi, suara seseorang dari dalam terdengar dan segera membuka pintu.

"Iya, tunggu sebentar-Eh, Mbak Namira?"

"Halo, Mbok. Iya, ini saya, Namira."

Mbok Darmi adalah asisten rumah tangga yang menemani Rifky sejak lahir. Dia pun sudah mengenal Nami dari lama.

"Mbak Namira apa kabar? Mbok dengar kemarin dirawat di rumah sakit, ya? Kata Mas Rifky begitu"

"Ooh, iya mbok. Sekarang saya udah baik-baik aja kok, nih buktinya bisa main kesini" balas Nami dengan senyum terbaiknya.

"Iya, sering-sering dong mbak kesini. Udah seminggu Mas Rifky uring-uringan, jarang makan juga"

"Rifky gak makan?"

"Iya mbak-aduh, mbok lupa. Ayo, masuk dulu. Mbok panggilkan Mas Rifky dulu ya"

"Iya, makasih mbok"

Setelah dipersilakan masuk, Nami menunggu di ruang tengah. Lima menit berlalu, akhirnya Mbok Darmi muncul, turun dari lantai 2.

"Mbak, langsung ke kamar Mas Rifky aja. Katanya disuruh kesana"

"Iya, makasih mbok"

Jujur, ada rasa canggung yang menyelimuti Namira. Sekarang, dia sudah mengetahui bahwa Rifky menyukainya. Apa yang harus dia lakukan?

Dia mengetuk pintu. Sekali, dua kali, bahkan ketukan ketiga tidak dihiraukan.

"Rif? Gue masuk, ya?"

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Mar 06 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Anaimy (JJH x JCY)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang