"Gue tanya sekali lagi. Apa pernah gue ngasih harapan buat lo?"
Gadis itu hanya diam.
"Namira..."
"Apa?" ia hanya bertanya kembali tanpa berniat menjawab pertanyaan sebelumnya.
"Lo belum jawab pertanyaan gue" lelaki itu terus mendesaknya untuk menj...
Nami mengingat salah satu momen menyedihkan itu sambil tersenyum nanar. Saat ini ia berada di mobil, perjalanan menuju opening travel and tour yang diadakan ayah Flora.
Sayang, sekarang ia hanya bersama ayah ibunya. Aga tidak ikut karena sedang ada acara. Padahal, ia sudah berencana akan terus bersama Aga jika nanti ayah ibu mereka menemui rekan kerjanya.
Setelah sampai, Nami tidak pernah lepas dari orang tuanya. Ayah dan ibunya pun mengerti. Jika Nami sendirian, Nami akan mulai berpikir yang tidak-tidak. Apalagi, jika ia sampai bertemu dengan Flora. Memori masa lalu Nami akan kembali, walaupun tidak akan separah dulu.
Mereka sampai di meja bulat kecil dan duduk disana, menikmati jalannya acara dan memakan apa yang sudah disajikan.
Tiba-tiba, Nami melihat pemandangan yang membuat hatinya berdebar ... Anaimy-nya disini.
Ia sedang berjalan sendirian, melihat beberapa sudut acara. Hingga mata mereka saling bertemu. Seperti dugaan, Nami memalingkan muka seketika.
"Nam, ayah sama ibu kesana sebentar ya. Sebentar aja, kamu disini dulu. InshaAllah aman, gausah kemana-mana ya"
Kenapa ayahnya harus berkata demikian sekarang. Hatinya sangat berdebar. Ia takut, disaat yang sama Flora juga datang. Saat ayah dan ibunya terpaksa pergi, Nami sangat gusar.
Ia sudah bosan bermain handphone, makan juga sudah tidak nafsu. Ia melihat sekeliling, aman.
Ia tidak merasa akan bertemu dengan Arsa lagi. Perasaannya lega, tapi tidak berlangsung lama.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Saat ini, Arsa sedang duduk manis disampingnya.
Nami diam, seolah-olah Arsa adalah orang asing yang tidak dikenal. Jujur, dalam hati Nami merasa senang, sangat senang. Kapan lagi dia akan berdua dengan Arsa jika tidak seperti saat ini. Tapi, mengingat kejadian terakhir membuat Nami sangat nervous saat bertemu Arsa.
"Kenapa sendirian?"
Arsa memutuskan bertanya saat beberapa menit mereka hanya diam, saling tatap, dan kembali bermain handphone.
Nami menatapnya heran, mencoba meyakinkan diri bahwa orang didepannya sedang berbicara dengan dirinya.
Bagaimana tidak, seorang Arsa memulai percakapan dengannya. Apa harus ia dan Arsa ada di posisi seperti ini untuk bisa berbicara?
Arsa diam, tidak ingin mengulang pertanyaan.
"Eummm, ayah sama ibu lagi ketemu temen bentar"
Arsa mengangguk, tidak ada pembicaraan lanjutan. Nami benci suasana ini, sangat canggung.
"Lo..." ucapan Nami terpotong, Arsa melihat dan menunggunya menyelesaikan kalimat.
"Lo sering ke acara kayak gini?"
"Enggak, kebetulan aja"
"Oh..." tidak ada balasan lain rasanya, dia dan Arsa sangat canggung. Hening kembali.