"Lima ratus... juta?" jawab Desya hati-hati.
Raya diam.
"Iya. Satu orang hutangnya bisa lebih dari lima ratus juta. Hutangnya dari orang, bahkan sampai bank besar" ia menarik nafas panjang.
"Tiap hari lebih dari 6 orang yang dateng ke rumah tante sama om gue buat nagih hutang" kalimatnya terdengar sangat putus asa.
Nami bahkan sudah menutup mulutnya dengan kedua tangan, shock dengan apa yang baru saja dikatakan Raya.
"Gue malu..."
"Gue malu banget orang-orang nyebut keluarga gue sebagai keluarga hutang. Gue pengen marah, gue pengen menyangkal, tapi gue gak bisa! Gue gak bisa karena emang faktanya kayak gitu!"
Raya bercerita dengan penuh emosi di wajahnya, sementara ketiga temannya hanya berusaha menenangkan. Nami tidak menyangka bahwa Raya bisa memiliki masalah serumit itu. Ia sebisa mungkin menahan tangisnya.
"Gue sama keluarga gue ada dosa apa sih selama ini?!" Raya kembali bercerita.
"Coba kalian bayangin, itu baru satu orang yang hutang dan disamperin banyak orang. Masalahnya, semua saudara mama tuh punya hutang dan gak dikit jumlahnya"
"Mama selalu nolongin mereka. Mereka mau modal buka usaha, mama juga selalu modalin. Setiap ada untung, mereka gak pernah sedikit pun bayar hutang mereka ke mama. Mama diem aja, gak pernah negur mereka"
"Mama tuh sengaja hutangin mereka dulu, kasih modal, supaya hutang mereka tuh gak ada bunganya"
"Tapi apa yang mereka lakuin?"
Raya terdiam, ia menangis sampai nafasnya tercekat.
"Mereka justru gaada niat sedikitpun buat bayar. Sedikiiit pun gaada"
"Kalo mereka niat, mereka bisa bayar. Sehari lima ribu, gausah deh banyak banyak. Gak minta langsung dibayar banyak juga kok"
"Berapapun yang bisa mereka bayar, mama gue bakal seneng karena mereka ada niatan buat bayar"
"Tapi ini enggak sama sekaliii, YaAllah" Raya sudah frustasi.
Nami ikut menangis dalam diam, mencoba menghapus air matanya. Kenapa ada orang seperti itu?
"Apa mereka gak bersyukur? Mereka tuh dikasih saudara yang baik, yang gak ngasih mereka bunga tiap hutang, kenapa sih mereka justru gak pernah bayar sedikit pun?!"
"Tapi kenapa kalo hutang orang lain dengan bunga yang banyak selalu mereka lakuin?"
"Kalian tau gak sih, mereka bakal ke nyokap gue kalo mereka ada di titik terendah mereka doang... dan akhirnya nyuruh nyokap gue yang bayar hutang"
"Mereka masih punya hati nurani gak sih?" tanya Raya dengan nanar.
"Orangtua gue kerja keras buat keluarga mereka, tapi malah dimanfaatin saudaranya sendiri buat foya-foya?"
"Gue gak habis pikir!"
Hening, semuanya diam dan berusaha saling menenangkan. Desya dan Meira cukup cepat dalam menangkap apa yang Raya dan Nami bicarakan sebelum mereka datang ke kamar.
"Puncaknya kemarin. Sebelum berangkat ke Bali, mama cerita kalo adik bungsunya beli mobil baru dan ganti motor"
"Kalian tau apa alasannya?"
Semuanya diam.
"...karena temen-temen dia punya mobil semua sementara dia belum"
"Apa dia gak sadar hutang dia masih banyak?! Dia tuh beli mobil juga kredit"
KAMU SEDANG MEMBACA
Anaimy (JJH x JCY)
Teen Fiction"Gue tanya sekali lagi. Apa pernah gue ngasih harapan buat lo?" Gadis itu hanya diam. "Namira..." "Apa?" ia hanya bertanya kembali tanpa berniat menjawab pertanyaan sebelumnya. "Lo belum jawab pertanyaan gue" lelaki itu terus mendesaknya untuk menj...
