Kelas terasa sepi. Seperti biasa guru tidak masuk dan hanya memberikan tugas lembaran soal ujian tahun lalu. Kami sudah menyelesaikan soal dalam hitungan menit saja dengan cara membagi jawaban satu kelas. Jadi, satu orang kebagian menjawab 1-2 soal aja. Setelah itu kami memberikan jawaban masing-masing di papan tulis.
Bisa dibilang kelas kami kompak untuk masalah seperti ini. Tidak heran nilai rapot kami beda koma saja untuk mengurutkan ranking. Selain itu keunikan kelas kami adalah pemandangan ruang kelas kami.
Terlihat di depan kelas dekat papan tulis beberapa anak kelas sedang menyetrika baju. Kami memiliki setrika kelas untuk berbagi bersama. Setrika itu didapat saat memenangkan lomba.
"Gantian Din," kata Abi tidak sabaran.
"Sabar!"
"Lo nyetrika rok aja ribet banget,"
"Ini tuh ada lipatannya, gak bisa asal gosok!"
Abi dan Dinda seperti biasa beradu mulut. Dinda sedang menyetrika rok-nya dan hanya memakai celana tidur panjang. Abi ingin menyetrika baju putihnya, jadi cowok itu hanya memakai baju kaos dalamnya. Di belakangnya ada Bima yang mengantri dengan sabar.
Kemudian di samping kelas ada jemuran baju, tali jemuran membentang hingga ke belakang kelas. Ada beberapa gantungan baju tertata rapi disana. Dewi terlihat menggantung pakaiannya sambil bersenandung.
Dekat pintu kelas ada rak piring, beberapa piring plastik tertata rapi. Ada kotak bekal dan botol minum punya anak kelas di sana. Termasuk kotak bekal gue yang baru dicuci. Spons dan sabun cuci pun sudah tersedia.
"Woi botol minum tupperware siapa tuh jatuh di selokan!" kata Tian.
"Eh punya gue tadi dijemur!"
"Buset, ketahuan Emak lo skakmat dah," kata Emma.
Di belakang kelas sudah terbentang tikar yang cukup lebar. Ada beberapa boneka yang di jadikan bantal dan dua selimut. Selimut bulu tebal gambar doraemon dan selimut tipis dengan nuansa bali.
Saat ini gue sedang rebahan dengan Bintang dan Rinna berselimut bulu gambar doraemon. Kami mencoba untuk tidur dengan memejamkan kedua mata.
Gue sedikit tersenyum, mengingat kemenangan bertubi-tubi malam tadi full tim bersama Rhys, Clarisa, Bintang dan Reza. Tim kami sungguh menakjubkan membantai musuh. Terutama Rhys yang mampu memimpin dengan core yang handal.
"Guys! Perhatian perhatian."
Gue membuka sebelah mata melihat Emma sedang duduk di meja guru. Beberapa anak-anak yang lain terlihat tidak peduli.
"Woi! Tolong lah perhatiannya!" Dewi membawa sapu dan berteriak.
"Silahkan yang mulia," kata Reza.
"Semuanya dengar gak?"
"Iyaaaa, dengarrrr." serempak mereka berbicara.
"Kita besok masak-masak di rumah Abi untuk merayakan sebentar lagi mau lulus!" kata Emma.
"Hah? Di rumah gue?! Sejak kapan gue setuju?" Abi tercengang bukan main.
"Sejak saat ini," kata Emma tertawa.
"Gas aja!" kata Aji semangat. Diikuti persetujuan dari anak-anak sekelas.
"Enak aja! Gak gak!" Abi menolak mentah-mentah.
"Rumah siapa yang mau menampung kita?" kata Dewi memelas.
"Rumah gue bisa aja," kata Henry.
"Rumah lo kejauhan," Glen menolak.
"Rumah Arsen aja," kata Aji.
"Nah bisa tuh dekat," kata Abi setuju.
"Setuju dah, deal!" Kata Reza. Semua anak kelas setuju.
KAMU SEDANG MEMBACA
IPA 1
Não Ficção[TRUE STORY] Cerita nyata mengenai anak MAN terutama anak IPA 1. Anak IPA? Mungkin dipikiran kalian anak IPA adalah anak kutu buku, serius, pintar, unggulan dan hal positif sebagainya. Disini gue yang bernama Sisy awalnya ngira begitu juga, pikiran...
