"Pak Adi.. Arka udah dapet banyak nih.." Wonwoo mengangkat tangan kecilnya yang memegang sekantong plastik putih berisi stroberi yang ia petik. Menatap seorang pria berumur tiga puluh tahunan itu yang tersenyum tipis.
Pak Adi berjalan mendekat. "Masa yang masih putih juga dipetikkin nak Arka.." ucapnya kemudian.
Wonwoo terkekeh canggung. "Nggak papa.. soalnya Arka nggak tahu." jawabnya lagi.
"Ya udah nggak papa." balas pak Adik.
Anak berumur enam tahun itu tersenyum senang. "Kalo gitu, Arka ke villa ya pak, nanti papa sama mama udah nungguin." ucapnya kemudian.
"Pak Adi anterin.." ucapnya, ia menurunkan wadah stroberi yang ada di kedua tangannya.
Wonwoo langsung menggelengkan kepalanya. "Nggak usah, Arka bisa sendiri pak.." balasnya dengan senyuman tipisnya.
"Beneran loh ya.." ucapnya dan Wonwoo mengangguk kecil. "Ya udah sana, hati-hati.." lanjutnya.
Anak kecil itu mengangguk dengan senang, ia langsung melangkahkan kaki kecilnya keluar dari area perkebunan stroberi tersebut dan melangkah menanjak untuk kembali ke villanya. Biasanya Wonwoo akan melewati perkebunan teh tapi kali ini ia melewati jalanan biasa karena lebih mudah untuk kaki kecilnya.
Ia terus melangkah sembari menikmati stroberinya yang terkadang begitu asam dan membuat Wonwoo melepehnya lagi. Ia menatap ke kanan kiri. Di bagian kirinya, terdapat perkebunan teh yang sangat luas sementara bagian kanannya hanya hutan pinus yang begitu tinggi.
Wonwoo terus melangkah hingga ia tiba-tiba terhenti ketika mendengar suara tangisan dari arah kanannya. Ia menatap ke bagian hutan pinus tersebut dan dari kejauhan, melihat rumah kecil di sana. "Masa hantu siang-siang.." lirih Wonwoo takut.
Ia menelan ludahnya dengan kasar, ketika akan melanjutkan jalannya, tangisan itu malah bertambah seru bahkan berteriak menyebut mama. Wonwoo menatap rumah kecil itu dan ia memilih mendekat, menuruni bagian hutan pinus itu dengan hati-hati, terus mendekat hingga tiba di jalanan tanah yang muat satu mobil.
Semakin dekat, Wonwoo semakin bisa mendengar jelas tangisan itu, ia berlari ke arah rumah tersebut dan ia yakin di dalamnya ada seorang anak kecil. Wonwoo lalu menatap pintu yang terkunci, ia meletakkan kantong stroberinya di samping kakinya dan berusaha membuka kunci manual itu dengan tangannya.
Sampai akhirnya bisa meksipun membuat jemarinya sedikit memerah, ia membuka pintu tersebut. Melihat seorang anak kecil yang begitu pucat duduk memeluk kedua lututnya sendiri, kedua pergelangan tangannya terikat hingga memerah. Mata rubah kecil itu mengerjap dan mendekat. "Kamu.. kenapa di sini?" tanyanya kemudian.
Mingyu mendongakkan kepalanya, menatap Wonwoo dengan mata merahnya. "Hiks.. Mahen takut.. Mahen mau pulang.." tangisnya merintih, suaranya sungguh serak karena sedari tadi ia terus menangis dan berteriak.
Wonwoo berjongkok di hadapan Mingyu, ia menatap kedua tangan Mingyu yang terikat lalu berusaha membuka ikatan tersebut dengan susah payah karena terlalu kuat. Setelah selesai, ia menatap Mingyu dengan lekat. "Rumah kamu di mana?" tanyanya kemudian.
Anak kecil itu menggelengkan kepalanya. "Mahen nggak tahu.." jawabnya.
Wonwoo terdiam sembari menatap Mingyu dengan sendu karena merasa kasihan. "Kalo pulang ke rumah aku dulu mau? Nanti aku minta papa buat anter kamu pulang.." ucapnya lagi. Tanpa berpikir panjang, Mingyu langsung menganggukkan kepalanya. Wonwoo tersenyum dan berdiri dari duduknya. "Ayo.." ajaknya sembari mengulurkan tangan kanannya.
Mingyu menerima uluran tangan tersebut dan bangkit berdiri, ia di tuntun keluar oleh anak kecil itu yang lebih tinggi darinya. Di depan pintu terbuka, Wonwoo merendah untuk meraih kantong plastik stroberinya dengan tangan kanannya. Mingyu terus melangkah mengikuti Wonwoo.
KAMU SEDANG MEMBACA
Brown-nies
FanfictionMINWON • COMPLETED Local Fanfiction Antara hidup dan mati? Tidak! Tapi antara Alvaro dan Arkana, siapa yang akan di pilih Okta? • Alvaro Mingyu Mahendra • Dylan Wonwoo Arkana start : january 2024 finish : february 2024 💧vulgar and harsh words💧 BL...
