28. Obsesi

27 5 0
                                        

Assalamualaikum semuaaa

🌵🌵🌵
Happy Reading

Setelah jam istirahat berbunyi Langit menggiring Fasya ke ruangan yang akan membuat kejahatan gadis itu terbongkar, Suasana mencekam membalut seisi ruangan tanpa sedikitpun suara yang terdengar.

Cowok dengan mata tajamnya menatap layar monitor di hadapannya serius, tidak peduli pada keberadaan gadis yang tengah gugup dengan meremas ujung roknya tengah berdiri tepat di sampingnya.

Langit, Farel dan Fasya sedang berada di ruangan dimana mereka dapat melihat rekaman cctv dari berbagai sudut sekolahan ini, termasuk depan kelas Luna. Jelas hal itu membuat jantung Fasya berpacu lebih cepat dari biasanya, ia tidak tahu akan semarah apa nanti Langit jika ia mengetahui faktanya.

Cowok dengan keringat yang sudah membasahi pelipisnya itu menajamkan matanya ketika melihat seorang perempuan mengendap endap untuk melakukan sesuatu di depan kelas Luna, kini ia beralih menatap Fasya yang juga tengah menatapnya untuk memastikan kecurigaannya.

"Ngapain lo di situ?" Fasya gelagapan, ia menelan ludahnya dengan susah payah karna belum memiliki jawaban yang tepat untuk Langit.

"Em gue-"

"JAWAB GUE FASYA!!"

"Gue cuma mau ambil barang yang ketinggalan aja Kasa," balasnya secara reflek.

"Lo kunci dia sialan!" Suara Farel mengalihkan atensi Langit dan Fasya untuk kembali tertuju pada layar monitor.

Pak Baim selaku staff TU bagian cctv itu menggelengkan kelapanya tak habis fikir "Ning Fasya kenapa lakuin itu, kasian ning Luna atuh," ucapnya.

Kedua mata Langit menajam menatap Fasya tak percaya dengan kepalan tangan yang begitu erat hingga uratnya kelihatan, menandakan bahwa cowok itu sangat marah pada gadis di sampingnya yang kini sudah meneteskan air mata.

"Gue gak nyangka Sya, lo bisa lakuin hal serendah ini," ujar cowok itu membuat nyali Fasya menciut.

"Tapi.."

"Ikut gue sekarang!!" Langit mencekal erat tangan Fasya lalu membawanya pergi dari sana.

Fasya tidak meronta gadis itu pasrah  pada Langit yang  entah akan membawanya kemana, langkah cowok dengan wajah merahnya itu berhenti di taman belakang sekolah.

Terlihat begitu sepi hanya ada mereka berdua saja saat ini, Langit melepaskan cengkalan tangannya dari Fasya dan kembali menatap nyalang gadis itu.

"APA YANG UDAH LO LAKUIN KE LUNA ITU KETERLALUAN FASYA!!" geram Langit mengepalkan kedua tangannya.

Ada sedikit rasa sesak ketika Langit harus membentak Fasya seperti itu, tidak bisa dipungkiri bahwa ia juga sangat menyayangi gadis itu tetapi hanya sebatas teman tidak lebih.

"Ma-maafin gue Kasa," lirih Fasya dengan isakan kecilnya menunduk takut.

"Dia ketakutan di sana Sya, dimana hati nurani lo sebagai seorang perempuan?"

Fasya menghentikan isakkannya, dengan berani ia menatap mata Langit. Mata yang dulu sangat meneduhkan dirinya, mata yang selalu menjadi objek kegemarannya tetapi kini ia hanya melihat semburat kekecewaan didalamnya.

Fasya tersenyum getir, dadanya terasa sesak ketika Langit menyebutnya sebagai wanita yang tidak memiliki hati nurani.

"Ketakutan macam apa yang dia rasakan Kasa? lalu bagaimana dengan perasaan gue?" Fasya mendongakkan kepalanya meminta penjelasan.

"Sedikitpun, apa lo pernah peduli?" tanya Fasya menjentikkan secuil dari jari kelingkingnya membuat Langit terdiam.

"Gue sakit ngelihat kebersamaan lo sama Luna, gue iri ngelihat kepedulian lo ke dia Kasa!!" tegasnya, nafas gadis itu mulai memburu mencoba menahan emosi yang sedikit lagi mulai tersulut.

LANGITNYA LUNACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang