Assalamualaikum semuanyaaa
Kembali lagi sama cerita Langitnya Luna
Kuy absen dari kota mana aja nih
Dapet cerita ini dari mana? hehe
-Happy Reading-
Hari ini Langit memberi kabar kepada Luna bahwa cowok itu akan pergi dalam pertemuan Ketua Osis di Jakarta Pusat, entah apa yang akan dibahas oleh pacarnya yang pasti semua itu membuat Luna terlihat lesu.
Gadis dengan kacamata bulat yang bertengger di hidung mancungnya itu mengerjakan dengan malas soal matematika di hadapannya. Tidak seperti biasanya yang selalu excited dengan berbagai angka membingungkan itu.
"Ceileh ada apa nih, kusut banget mukanye,"ucap Ceisa mengangkat wajahnya agar bisa melihat sahabatnya yang duduk di bangku depan.
"Biasa Cei, mas pacar lagi sibuk," balasnya, Ceisa beringsut membenarkan posisi duduknya.
"Elahh gatau deh gue sama urusan orang bucin," pekik Ceisa seakan muak dengan kata kata Luna barusan, tidak. Lebih tepatnya dia merasa iri karna dirinya sekarang masih saja jomblo.
"Makanya Cei jadian sama Farel." Ucapan Luna sukses membuat Ceisa dengan susah payah menegak salivanya.
"lo kira gampang ngajak anak orang pacaran Na?" begitu kira kira teriak Ceisa dalam hati.
"Dih nyuruh lo?" Ceisa memincingkan sebelah alisnya menatap sinis ke arah Luna.
"Di notice iya, jadian kaga, PERCUMA!" Luna menekankan kata percuma sembari menoleh kebelakang menghadap temannya. Kemudian tertawa pelan merasa puas dengan ejekannya.
"Sialan lo Na. Gini ya, orang kalau udah keserang virus bucin ngeselinnya pake banget," sindir Ceisa melirik sahabatnya itu dengan tatapan tidak mengenakkan.
Luna terkekeh pelan, hanya pada sahabatnya dan keluarganyalah ia bisa menjadi diri sendiri tanpa harus takut untuk memulai perkelahian seperti sekarang.
Fasya yang sedari tadi mendengarkan ucapan kedua sejoli itu mengepalkan tangan menahan amarah, apalagi ketika Luna memanggil Langit dengan sebutan mas pacar hati gadis itu seakan terbakar.
Tidak ingin kembali menimpali sahabatnya, Luna memilih merapikan buku bukunya dan memasukkannya kedalam tas birunya. Pada kesempatan jamkos kali ini ia ingin memanfaatkannya untuk beristirahat di rooftop, lumayan sekali agar pikirannya kembali jernih.
"Mau kemana lo Na?" tanya Ceisa yang masih berusaha menjawab soal soal matematikan di depannya.
"Rooftop, mau ikut?" Temannya itu menghembuskan nafasnya kecewa ia ingin sekali ikut bersama Luna, tetapi tugas matematikanya belum selesai.
Ceisa takut jika Bu Nina akan memberi menghukuman lebih parah dari hari kemaren, karena ancaman maut yang diberikan saat memberikan tugas tadi.
"Ntar deh gue nyusul."
Luna mengangguk mengerti, "oke."
•••
Luna baru saja sampai pada lantai paling atas sekolahnya, gadis cantik itu mengernyitkan mata ketika melihat seorang cowok juga tengah duduk di salah satu kursi disana. Sepertinya postur tubuh cowok itu tidak asing lagi oleh lentera matanya.
"Eh Kak Dylan," ucap Luna duduk disamping cowok itu.
"Luna, lo ngapain kesini?" balas Dylan dengan tatapan bingung, pasalnya saat ini masih jam pelajaran berlangsung tidak mungkin gadis serajin Luna memilih untuk bolos.
"Sengaja kak pengen menghirup udara segar, kakak sendiri ngapain di sini sendirian?" tanya Luna celingukkan.
"Sama na." Hening, tidak ada lagi yang memulai pembicaraan.
KAMU SEDANG MEMBACA
LANGITNYA LUNA
RomanceHOLAA SELAMAT DATANG!! Maiza Aluna, gadis ceria yang selalu mencoba membendung rasa cintanya kepada Langit Angkasa akibat perasaan ragu. Masa lalunya yang hadir menjadi salah satu penyebab keraguannya hingga menjadi ketakutan terbesar gadis itu. Si...
